SERPONG, ULTIMAGZ.com – Apakah Ultimates pernah mendengar potongan lagu selama tiga detik lalu sisa harimu terasa “dihantui” melodi itu? Fenomena ini disebut earworm. Nama lainnya adalah involuntary musical imagery, yaitu kondisi ketika potongan lagu terus terputar di kepala dan sulit untuk dihentikan.
Mengutip time.com, earworm merupakan reaksi otak ketika sebuah melodi dianggap cukup sederhana, mudah diingat, dan punya pola repetitif. Otak manusia senang dengan sesuatu yang terasa familiar. Lagu dengan ritme berulang membuat memori jangka pendek terus memutarnya seolah-olah sedang mencari titik penyelesaian. Namun, karena lagu tersebut hanya muncul sebagai potongan, otak tidak pernah mencapai “akhir” dan terus menerus mengulang bagian yang sama.
Baca Juga: Kenali Petrichor, Fenomena Ilmiah yang Menenangkan Hati
Earworm semakin mudah muncul di era digital. Platform seperti TikTok dan Reels Instagram memperkuat fenomena ini karena pengguna mendengar repetisi audio yang sama ratusan kali dari berbagai konten. Lagu-lagu dengan chorus catchy seperti “Manchild”, “Cupid”, atau “Kasih Aba-Aba” menjadi contoh paling jelas. Cukup dengar tiga detik, otak sudah mencatat pola ritmenya.
Faktor emosional juga memengaruhi kemunculan earworm. Lagu yang pernah membuat pendengarnya merasa senang, sedih, atau nostalgia akan lebih cepat menempel, dilansir dari health.harvard.edu. Seseorang yang sedang stres atau mengerjakan pekerjaan monoton cenderung lebih mudah terdampak karena otak mencari stimulasi ringan untuk mengimbangi suasana. Jadilah potongan lagu muncul tanpa diminta.
Baca Juga: Kenali Impulsive Buying dan Doom Spending, Fenomena Konsumtif dalam Kehidupan Modern
Meski sering dianggap mengganggu, earworm sebenarnya fenomena yang normal dan tidak berbahaya. Akan tetapi, ada beberapa cara untuk menghilangkannya, seperti mendengarkan lagu tersebut secara penuh, beralih ke aktivitas yang butuh fokus, atau mengganti lagu dengan melodi lain yang lebih menenangkan, dilansir dari timesofindia.indiatimes.com.
Earworm menjadi bukti bahwa musik memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi otak manusia. Di tengah banjir konten digital yang serba cepat, fenomena ini semakin terasa sehari-hari, terutama bagi generasi yang tumbuh bersama musik pop dan media sosial.
Penulis: Clarisa Renata
Editor: Kezia Laurencia
Foto: freepik.com
Sumber: time.com, health.harvard.edu, timesofindia.indiatimes.com





