• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Friday, March 13, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan Film

Fenomena Remake dan Reboot di Hollywood: Apa Alasannya?

Zalfa Zahiyah Putri Wibawa by Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
March 13, 2026
in Film, Iptek, Lainnya
Reading Time: 3 mins read
Beberapa film Remake dan Reboot di Hollywood (hollywoodinsider.com)

Beberapa film Remake dan Reboot di Hollywood. (hollywoodinsider.com)

0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Fenomena remake (pembuatan ulang dengan kisah sama) dan reboot (pengerjaan ulang dengan visi baru) di Hollywood saat ini telah mencapai titik sulit untuk menemukan poster film di bioskop tanpa angka di belakang judulnya atau kata-kata seperti The Beginning di awal film. Namun, di balik rasa jenuh yang sering dikeluhkan penonton, terdapat alasan yang mendalam mengapa daur ulang ini terus terjadi.

Melansir theguardian.com, secara fundamental, dominasi remake adalah strategi manajemen risiko yang ekstrem. Di era modern, biaya produksi sebuah film blockbuster bisa dengan mudah menembus angka $200 juta, belum termasuk biaya pemasaran yang masif. Bagi studio besar, mengeluarkan modal sebesar itu untuk sebuah ide orisinal yang belum teruji adalah sebuah perjudian yang menakutkan. 

Baca juga: Memahami Disabilitas Taktampak: Apa Arti di Balik Lanyard Bunga Matahari?

Di sinilah Intellectual Property (IP) atau kekayaan intelektual memainkan peran kunci. Film didasarkan pada franchise yang sudah populer, seperti pahlawan super, buku klasik, atau film lawas yang populer. Franchise ini juga tentu akan mendatangkan banyak penggemar dari berbagai kalangan. Studio tidak perlu lagi bekerja keras memperkenalkan siapa karakternya, mereka hanya perlu meyakinkan penonton bahwa versi kali ini lebih modern atau lebih baru.

Selain faktor finansial, Hollywood juga sangat pintar memanfaatkan nostalgia. Terdapat pola yang berulang setiap 20-30 tahun. Waktu selama ini biasanya cukup bagi anak-anak yang dulu menonton film aslinya untuk tumbuh dewasa, mulai memiliki penghasilan sendiri, lalu merindukan masa kecil mereka. Ketika rasa rindu itu muncul, mereka lebih mudah tertarik menonton remake, reboot, atau sekuel dari film yang mereka cintai dulu. Jadi, industri film sengaja memanfaatkan siklus emosional ini untuk menarik penonton lama kembali ke bioskop, dilansir dari theconversation.com.

Nostalgia memberikan rasa aman yang palsu tapi menenangkan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Menonton reboot dari kartun hari Minggu favorit bukan sekadar tentang menonton film, melainkan tentang upaya membeli kembali perasaan bahagia saat kita belum memiliki beban tagihan atau pekerjaan. Studio mengetahui bahwa penonton akan membayar tiket tidak untuk mengharapkan cerita baru, tetapi karena ingin merasakan kembali keajaiban yang sama yang dirasakan berpuluh-puluh tahun lalu.

Baca juga: Dari Lolita Hingga Gyaru: Kenali Dunia Fesyen Alternatif dari Jepang

Mengutip fsunews.com, banyak pengamat berargumen bahwa Hollywood sedang mengalami krisis kreativitas, tetapi kenyataannya jauh lebih rumit. Hollywood tidak kekurangan penulis atau sutradara, mereka justru kekurangan eksekutif yang berani mengambil risiko. Saat ini, proses persetujuan sebuah film (greenlighting) sering kali di proses oleh data dan algoritma daripada intuisi artistik. Misalnya, jika data menunjukkan bahwa penonton lebih banyak menonton konten nostalgia tahun 90-an, studio akan memerintahkan pembuatan ulang film dari era tersebut.

Selama penonton masih memberikan angka box office yang fantastis untuk film-film ini, industri akan terus memberikan apa yang kita minta, meskipun kita sering kali mengeluh tentang kurangnya orisinalitas. Masyarakat, sebagai penonton, diibaratkan sebagai bahan bakar utama dari mesin daur ulang ini.

 

 

Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Editor: Celine Velleri

Foto: hollywoodinsider.com

Sumber: theguardian.com, theconversation.com, fsunews.com. 

Tags: blockbusterfilmfilm hollywoodfilm sekuelhollywoodpenontonrebootreboot filmremakeremake film
Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Related Posts

The Professor and the Madman
Film

The Professor and the Madman: Persahabatan di Balik Kata

March 12, 2026
Black Dahlia
Event

Black Dahlia: Bayangan Sensasi Media terhadap Kasus Tragis

March 11, 2026
Lanyard bagi penyandang disabilitas tak tampak oleh Hidden Disabilities Sunflower (vantagegroup.com)
Iptek

Memahami Disabilitas Taktampak: Apa Arti di Balik Lanyard Bunga Matahari?

March 10, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 7 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021