• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Friday, January 23, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Iptek

Salem Witch Trials, ketika Ketakutan Mengalahkan Akal Sehat

Jemima Anasya Rachman by Jemima Anasya Rachman
January 20, 2026
in Iptek
Reading Time: 2 mins read
salem witch trials

Lukisan Salem Witch Trials 1692. (Amazon.com)

0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Salem Witch Trials atau persidangan penyihir Salem di Massachusetts pada 1692 menjadi salah satu kisah paling kelam dalam sejarah Amerika. Dari komunitas religius yang tenang berubah menjadi panggung ketakutan massal. Dalam suasana penuh kecemasan dan kecurigaan, warga yang sebelumnya hidup berdampingan seketika saling menuding sebagai pengguna sihir. 

Di balik histeria ini, ada kisah manusia yang harus menghadapi tuduhan tanpa bukti, pengadilan yang timpang, dan penentuan nasib oleh ketakutan kolektif. Kejadian ini bukan hanya peristiwa sejarah yang tragis, melainkan juga cerminan bagaimana rasa takut dapat menghancurkan sebuah komunitas dari dalam. 

Baca juga: Not All Men: Antara Pembelaan Diri atau Pengabaian Realita?

Di antara awal 1692 dan peretengahan 1693, 20 orang dieksekusi dan lebih dari 200 orang (kebanyakan perempuan) dituduh sebagai praktisi sihir. Faktor utama terjadinya Salem Witch Trials adalah xenofobia atau ketakutan terhadap seseorang yang berbeda dari diri orang tersebut. 

Pada saat itu, ekstremisme agama banyak mengajarkan bahwa penyihir merupakan orang yang diberikan kekuatan oleh iblis. Sebagai bayaran untuk kekuatan tersebut, penyihir akan menyakiti orang lain, dilansir dari smithsonianmag.com. 

Melansir nationalgeographic.com, perempuan yang membuat kesal anggota komunitas religius biasanya dituduh sebagai seorang penyihir. Secara umum, perempuan yang dituduh biasanya berasal dari kalangan tak berdaya seperti golongan miskin dan orang kulit berwarna. 

Maraknya perburuan penyihir ini tidak hanya terjadi di Salem, tetapi juga di Eropa mulai dari abad ke-15 hingga ke-18. Oleh karena itu, kekhawatiran tersebut mulai tersebar beriringan dengan kerusuhan sosial dan perubahan agama di Salem sehingga rentan terhadap tuduhan praktik sihir. 

Setelah meredanya demam penuduhan penyihir, terjadi sebuah tindakan pertobatan oleh tiap-tiap individu dan institusional. Pertobatan tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat. Pada Januari 1697, Pengadilan Umum Massachusetts karena pengakuan kesalahannya. Lalu pada 1702, persidangan penyihir Salem dinyatakan tidak sah dan Persemakmuran Massachusetts membebaskan 22 orang dari 33 yang terkena tuduhan tersebut di 1711, dilansir dari britannica.com.

Baca juga: Simone De Beauvoir, Jejak Pemikiran Feminis Modern

Dapat disimpulkan bahwa tragedi Salem Witch Trials meninggalkan jejak yang jauh melampaui abad ke-17. Sebuah peringatan abadi tentang bagaimana kepanikan, prasangka, dan hilangnya akal sehat dapat merugikan dan menghancurkan kehidupan. Dari histeria di antara sekelompok orang hingga beralih ke pengadilan yang dipenuhi kesaksian tak masuk akal. 

Semua faktor tersebut menunjukkan rapuhnya masyarakat ketika lebih mengandalkan rasa takut daripada fakta. Salem Witch Trials mengajarkan bahwa tragedi dapat lahir dari ketidakmampuan masyarakat untuk berpikir kritis dan menjaga empati. Pelajaran yang relevansinya tak pudar sampai sekarang.

 

 

Penulis: Jemima Anasya R.

Editor: Jessie Valencia

Foto: amazon.com.

Sumber: smithsonianmag.com, nationalgeographic.com, britannica.com.

 

Tags: artikel sejarahcetak sejarahdiskriminasi perempuandituduhIsu Perempuankeamanan perempuankekerasankekerasan pada perempuanketakutanliterasi sejarahperistiwasejarah kelam
Jemima Anasya Rachman

Jemima Anasya Rachman

Related Posts

Roehana Koeddoes
Budaya

Roehana Koeddoes, Perempuan Penggerak Pena dan Perubahan

January 15, 2026
Ilustrasi macam-macam bunga yang dapat dikonsumsi. (Shutterstock/Madeleine Steinbach)
Iptek

Keindahan yang Bisa Dinikmati: Mengenal Bunga yang Dapat Dikonsumsi

December 17, 2025
Potret kelelawar atau kampret sedang terbang. (curadas.com)
Iptek

Kampret: Bukan Umpatan tetapi Kelelawar Kecil? Kok Bisa?

December 17, 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × one =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021