JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Art Division Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar sebuah pertunjukkan drama musikal bertajuk “Dunia Maia” di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (28/5). Pertunjukkan yang mengusung tema anti seks bebas, alkohol, dan narkoba ini merupakan bentuk kelanjutan kerjasama UPH dengan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Art Division UPH sendiri merupakan gabungan dari sepuluh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni yaitu Lighthouse Singer, Manna Proxia Theatre, UPH Choir, Art Band, tari Saman Bireun Seudati, Nusantara Dance Company, Photography Art, Movie Production Club, dan Production Troops. Disutradarai oleh Boy Marpaung yang telah sukses menelurkan 800 pertunjukkan dan acara, “Dunia Maia” menghadirkan sebuah drama dengan konsep yang berbeda.
“Yang menarik dari ‘Dunia Maia’ itu adalah ceritanya, di mana kita menciptakan emosi Maia menjadi klan-klan, dan kita tampilkan dengan konsep yang lebih menarik lagi yaitu digital mapping,” ungkap Boy dalam siaran pers.
“Dunia Maia” merupakan drama musikal bercerita tentang seorang remaja bernama Maia, yang terus-menerus dirundung rasa bersalah akibat kematian adiknya, Yuna. Namun tak hanya sampai di sana, Maia juga kerap di-bully oleh teman-temannya, diganggu oleh pria-pria pemabuk, dan diajak untuk memakai obat-obatan terlarang. Hal-hal ini membuat Maia membentuk sebuah dunia dalam pikirannya bernama Dunia Semosimesta.
Dalam dunia tersebut, ada lima klan yang menjadi representasi emosi-emosi yang dirasakan Maia; Klan Der yang merupakan pencerminan diri temperamental, ambisius, dan bernafsu tinggi, Klan Hsub yang merupakan pencerminan diri kompleks dan dilematis, Klan Enots yang merupakan pencerminan diri keras kepala dan egois, Klan Sgurd yang merupakan pencerminan diri picik, tidak peduli, dan tidak punya tujuan hidup, dan Klan Ecarg yang merupakan pencerminan diri suka menolong, damai, dan rela berkorban.
Peperangan batin dan emosi dalam diri Maia divisualisasikan menjadi peperangan nyata yang dilakukan oleh kelima klan tersebut. Kemenangan akhirnya didapatkan oleh Klan Ecarg, setelah Maia berdamai dengan dirinya sendiri.
Pertunjukkan yang digarap kurang lebih delapan sampai sepuluh bulan ini melibatkan 350 mahasiswa aktif UPH, baik sebagai pemeran maupun kru. Walau persiapan yang dilakukan telah cukup panjang, masih ada beberapa hal yang terlewat dan perlu diperbaiki ke depannya. Hal ini disampaikan oleh Aloysius Ary, mahasiswa Universitas Atma Jaya.
“Dari segi teknis menurut gue agak kurang karena mic-nya beberapa kali mati dan dialognya jadi nggak terdengar jelas. Itu juga yang bikin gue kurang nangkep jalan ceritanya. Kalau dari segi teaternya sih, menurut gue udah mantap tiap individunya,” ungkapnya.
Berkaitan dengan hal ini, Head of Management Dunia Maia Keia Laturiuw menuturkan bahwa kesalahan teknis kecil adalah hal biasa, karena yang terpenting seluruh kru telah menampilkan yang terbaik. “Wajar sih, semua pementasan pasti ada warna-warna seperti itu. Namun, kami puas karena akhirnya kerja keras kami bisa dinikmati orang banyak,” tuturnya.
Penulis: Kezia Maharani Sutikno
Editor: Alif Gusti Mahardika
Fotografer: Kezia Maharani Sutikno