• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Sunday, August 31, 2025
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Lainnya

Kenaikan Suhu Bumi: Tantangan Manusia dalam Menghadapi Krisis Global

Michael Ludovico by Michael Ludovico
August 21, 2024
in Iptek, Lainnya, Lifestyle
Reading Time: 5 mins read
Ilustrasi kenaikan suhu bumi (Foto: Refrence.com)

Ilustrasi kenaikan suhu bumi (Foto: Refrence.com)

0
SHARES
135
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Apakah belakangan ini Ultimates merasa bahwa cuaca semakin ekstrem? Hal tersebut disebabkan oleh suhu bumi yang meningkat hingga 1,52 derajat Celcius.

Perubahan iklim merupakan salah satu faktor paling krusial dalam peningkatan suhu bumi. Maka dari itu, para pemimpin dunia berjanji untuk menekan kenaikan suhu bumi di angka 1,5 derajat Celcius pada Perjanjian Iklim 2015 di Paris.

Baca juga: Ekofeminisme: Menelusuri Hubungan Feminisme dan Lingkungan

Akan tetapi, berdasarkan data dari Copernicus Climate Change Service (C3S) Uni Eropa pada Februari 2024 lalu, peningkatan suhu bumi telah melampaui batas 1,5 derajat Celcius. Data riset mengenai suhu bumi ini dicatat sejak Februari 2023 hingga Januari 2024.

“Kenaikan suhu 1,5 derajat Celcius dalam rata-rata setahun adalah kenaikan signifikan,” ujar Prof. Liz Bentley, direktur eksekutif Royal Meteorological Society, dikutip dari bbc.com. 

“Lagi-lagi sebuah kemunduran. Tetapi, kita tahu apa yang harus dilakukan,” lanjutnya.

Di sisi lain, Prof. Myles Allen dari Universitas Oxford menyatakan bahwa biarpun kenaikan suhu bumi telah melewati ambang batas, perubahan iklim tetap dapat dikendalikan. Walaupun begitu, dampak perubahan iklim seperti gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan banjir akan terus meningkat seiring peningkatan suhu bumi.

Manusia, Faktor Utama Perubahan Iklim

Perubahan iklim tentu saja menjadi salah satu faktor yang merugikan keberlangsungan kehidupan umat manusia. Akan tetapi, perilaku manusia merupakan faktor utama terjadinya perubahan iklim. Berikut beberapanya.

1. Penggunaan Emisi Bahan Bakar Fosil

Ketika dibakar, bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, serta gas alam menghasilkan gas emisi rumah kaca. Kebutuhan manusia akan energi, transportasi, dan industri, mendorong penggunaan bahan bakar fosil secara signifikan. 

Penggunaan emisi bahan bakar fosil menyebabkan adanya peningkatan gas karbondioksida (CO2) yang mendorong terjadinya pemanasan global dan peningkatan suhu bumi (Ainurrohmah et al., 2022). Cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut, serta kerusakan ekosistem juga dapat terjadi apabila manusia menggunakan emisi bahan bakar fosil secara intens.

2. Pembakaran Hutan

Menurut data dari Directorate of Technical Education pada 2017, Indonesia merupakan negara penyumbang emisi gas karbon ketiga akibat pembakaran hutan setelah Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Pembakaran hutan dapat mengganggu siklus hidrologis, menyebabkan erosi tanah ekstrem, dan mengurangi kemampuan hutan untuk menyimpan air.

3. Polusi Plastik

Plastik terbuat dari bahan etilena dan propilena yang sangat berbahaya bagi lingkungan jika digunakan terus-menerus. Melansir mongabay.co.id, plastik dapat meningkatkan jumlah karbon dioksida di atmosfer ketika terkena sinar matahari.

El Niño Jadi Salah Satu Faktor Terbesar

Aktivitas manusia terutama penggunaan emisi bahan bakar fosil yang berlebihan tentu saja memiliki kontribusi dalam kenaikan suhu bumi. Akan tetapi, penyebab kenaikan suhu bumi juga tak luput dari faktor eksternal.

Salah satu pemicu eksternal terbesar kenaikan suhu bumi adalah keberadaan El Niño. Banyak sekali negara-negara yang terkena dampak dari El Niño, termasuk Indonesia.

El Niño berasal dari bahasa Spanyol yang memiliki arti anak laki-laki. El Niño merupakan fenomena yang disebabkan oleh peningkatan suhu permukaan air di tengah Samudra Pasifik.

Akibat perubahan suhu yang signifikan, angin dan air laut pun mengalami pergeseran. El Niño menyebabkan berkurangnya curah hujan di wilayah sekitarnya, sehingga memicu datangnya musim kemarau. 

Melansir detik.com, El Niño biasanya memberikan dampak peningkatan suhu bumi sebesar 0,2 derajat Celcius. Akan tetapi, akibat aktifnya El Niño sejak paruh kedua 2023 menyebabkan peningkatan suhu udara yang cukup signifikan.

Dampak Kenaikan Suhu Bumi

Kenaikan suhu bumi juga membawa sejumlah dampak yang signifikan. Melansir cnnindonesia.com, dampak utamanya adalah kekeringan. 

Adanya kekeringan ini juga akan berdampak pada keberlangsungan beberapa spesies makhluk hidup, khususnya pada ketersediaan air. Selain itu, kenaikan suhu bumi pun berakibat pada ketahanan pangan. 

Jika suhu bumi ada di atas angka 1,5 derajat celsius, maka bahan pangan seperti perikanan berisiko terancam. Melansir kompas.com, kenaikan suhu bumi menyebabkan mencairnya es di kutub. 

Selama 30 tahun terakhir, sudah ada 28 triliun ton es di kutub yang mencair. Adanya pencairan es ini berdampak pada kenaikan permukaan air laut dengan potensi ancaman bagi penduduk di pulau kecil dan pesisir. Dengan kenaikan permukaan air laut, tempat tinggal penduduk berpotensi tenggelam. 

Cara Mencegah Kenaikan Suhu Bumi

Kenaikan suhu bumi berdampak pada kehidupan seluruh makhluk hidup. Maka dari itu, harus ada langkah-langkah yang diambil guna mengatasi permasalahan tersebut. Berikut adalah cara yang dapat diambil untuk mengatasi kenaikan suhu bumi.

1. Menggunakan Transportasi Umum

Cara ini dapat Ultimates lakukan dengan mudah. Melansir liputan6.com, terdapat pilihan transportasi umum, seperti bus dan kereta yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca. Lalu, penggunaan transportasi umum ini pun juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

2. Mengatur Penggunaan Listrik

Penggunaan listrik yang berlebihan menyebabkan kenaikan suhu bumi lantaran peralatan listrik mengeluarkan panas. Maka dari itu, harus ada pengaturan dalam menggunakan berbagai peralatan listrik. 

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mematikan peralatan listrik yang sekiranya tidak digunakan. Sebagai contoh, apabila sedang pergi keluar, air conditioner (AC) di dalam ruangan sebaiknya tidak dinyalakan supaya tidak memakan energi listrik dalam jumlah banyak. 

3. Menanam Pohon

Cara ini juga menjadi salah satu langkah untuk mengurangi kenaikan suhu bumi. Dilansir dari detik.com, melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh pohon, gas rumah kaca di atmosfer dapat dikurangi. Hal ini dapat dikatakan lantaran pohon mampu menyerap zat karbon dioksida dari panas bumi.

4. Melakukan Proses Daur Ulang

Daur ulang juga mampu mengurangi kenaikan suhu bumi. Melansir cnbcindonesia.com, barang-barang yang biasa dipakai seperti elektronik, pakaian, dan bungkus kemasan ternyata bisa menyumbang emisi karbon dalam proses produksinya. Maka dari itu, Ultimates dapat mendaur ulang bahan-bahan tersebut supaya suhu bumi tidak semakin meningkat. 

5. Menggunakan Bola Lampu LED

Bola lampu Light Emitting Diode (LED) ternyata mampu mengurangi kenaikan suhu bumi. Melansir liputan6.com, bola lampu LED dapat bertahan secara lebih lama dibandingkan dengan lampu pijar yang memiliki kapasitas sebesar 60 watt. Selain itu, lampu LED juga menggunakan daya energi yang lebih sedikit sehingga penggunaannya jauh lebih efisien serta lebih hemat energi.

Kenaikan suhu bumi memiliki dampak yang serius apabila tidak segera diatasi. Maka dari itu, harus ada langkah yang diambil. Tidak hanya untuk menyelamatkan semua makhluk hidup di dalamnya, tetapi juga supaya lingkungan tetap terjaga dengan baik.

 

 

Penulis: Jessica Kannitha (Komunikasi Strategis, 2021), Michael Ludovico (Jurnalistik, 2021)

Editor: Jessie Valencia

Foto: reference.com

Sumber: bbc.com, detik.com, kompas.com, mongabay.co.id, cnnindonesia.com, liputan6.com, cnbcindonesia.com

Ainurrohmah, S., & Sudarti, S. (2022). Analisis Perubahan Iklim dan Global Warming yang Terjadi sebagai Fase Kritis. Jurnal Pendidikan Fisika dan Terapan, 8(1), 1-10

 

Tags: artikelseriesalamcuacael ninogelombang panasglobal warmingkenaikan suhuperubahan iklimsuhu bumi
Michael Ludovico

Michael Ludovico

Related Posts

Pesta Bebas Berselancar
Lainnya

Pesta Bebas Berselancar 2025 Umumkan Daftar Penampilan Spesial dan Kolaborator

July 16, 2025
Tempe: Hasil Fermentasi Mendunia yang Berakar dari Jawa
Kuliner

Tempe: Hasil Fermentasi Mendunia yang Berakar dari Jawa

July 16, 2025
Kopi yang berasal dari feses gajah. (antaranews.com)
Lifestyle

Dari Feses Gajah ke Cangkir Kopi: Cerita di Balik Kopi Ivory

July 16, 2025
Next Post
Gambar AI untuk menyebar kesadaran atas serangan di Rafah yang termasuk ke dalam aktivisme performatif. (foto: walesonline.co.uk)

Aktivisme Performatif: Ketika Tragedi Dijadikan Tren Instagram Story

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021