SERPONG, ULTIMAGZ.com – Jakarta merupakan kota yang tak terlepas dari saksi perjalanan panjang sejarah Indonesia, khususnya saat masa penjajahan. Alhasil, banyak bangunan dan tempat bersejarah peninggalan berbagai periode sebagai bukti sejarah.
Bangunan dan situs bersejarahnya pun tersebar luas di seluruh bagian Jakarta, dari Timur hingga Utara. Tentunya, masing-masing tempat memiliki cerita tersendiri.
Baca juga: Rekomendasi Museum Menarik di Jakarta, Bisa untuk Edukasi sekaligus Rekreasi
1. Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara
Bagi masyarakat Betawi, cerita rakyat Si Pitung sudah tidak asing lagi. Tak hanya cerite belaka, terdapat Rumah Si Pitung di Marunda yang terletak di Marunda, Jakarta Utara.
Namun, ternyata Pitung tidak benar-benar tinggal di rumah tersebut. Mengutip kompas.com, Pitung hanya singgah ke rumah itu pada sekitar 1890-an. Pemilik rumah tersebut merupakan Haji Safiudin, seorang juragan tambak ikan dari Bugis.
Rumah yang berbentuk rumah panggung ini kemudian diresmikan menjadi cagar budaya. Hal ini tertuang pada Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999 Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya.
2. Pura Aditya Jaya, Jakarta Timur
Pura Aditya Jaya merupakan pura (rumah ibadah umat Hindu) tertua di Jakarta yang terletak di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan gaya arsitektur Jawa-Bali, pura ini juga menjadi simbol perjuangan umat Hindu dalam membangun tempat beribadah.
Melansir daaitv.co.id, bangunan pura Aditya Jaya menggunakan konsep Tri Mandala yang terdiri dari Kanistama Mandala, Mandhayama Mandala, dan Uttama Mandala. Kanistama Mandala merupakan area terluar pintu masuk pura, Mandhayama Mandala adalah area tengah untuk memasuki pura, sedangkan Uttama Mandala merupakan area paling dalam dan paling suci dari pura ini.
Pembangunan pura Aditya Jaya berawal dari almarhum I Gusti Ngurah Mandra yang saat itu menjadi tim Kontraktor proyek jalan Jakarta-Cirebon pada 1970-an, dikutip dari kompas.com. Beliau mengusulkan pembangunan pura pada lahan kosong kepada pimpinan proyek (pimpro).
Setelah usulan diterima, dibentuk panitia untuk melaksanakan pembangunan pura. Peletakan batu pertama pura ini dilakukan pada 1972 dan Pura Aditya Jaya diresmikan pada 12 Mei 1973 oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prayogo.
3. Toko Merah, Jakarta Barat
Masih terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Toko Merah merupakan salah satu peninggalan Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada masa Batavia. Bangunan ini terbuat dari batu bata berwarna merah dan saat ini dijadikan sebagai kafe bernama Rode Winkel.
Mengutip tempo.co, Toko Merah didirikan oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff pada 1730, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada 1743 hingga 1750. Fungsi dari Toko Merah ini pun berganti-ganti. Melansir kompas.com, Toko Merah sempat menjadi hotel mewah, tempat tinggal, toko pribadi, kantor untuk Bank Voor Indie, bahkan kantor perusahaan asuransi dan industri milik Belanda.
Bangunan ini kemudian mulai dikenal sebagai Toko Merah setelah dibeli oleh Oey Liauw Kong, seorang kapten Cina pada 1851 untuk dijadikan rumah dan toko. Cat warna merah pada kusen dan pintu membuat bangunan ini dikenal dengan Toko Merah. Pada 1993, Toko Merah ditetapkan sebagai cagar budaya.
4. Gedung Joang 45, Jakarta Pusat
Berlokasi di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Gedung Joang 45 atau Museum Gedung Joang 45 merupakan salah satu bangunan saksi menjelang kemerdekaan Indonesia. Bangunan gedung ini masih kaya akan arsitektur Belanda dengan pilar-pilar yang terlihat tinggi dan kokoh.
Mengutip cnnindonesia.com, gedung ini awalnya adalah sebuah hotel bernama Hotel Schomper. Hotel tersebut digunakan untuk tempat beristirahat para pejabat Belanda, pengusaha asing, serta pejabat pribumi yang datang ke Batavia saat itu. Hotel Schomper kemudian beralih fungsi dan nama di masa kedudukan Jepang pada 1942 yang saat itu melakukan pengambilan aset-aset Belanda oleh Gunseikanbu Sendenbu atau Badan Propaganda Jepang.
Setelah itu, Hotel Schomper beralih menjadi asrama untuk para pemuda Indonesia untuk menanamkan pendidikan politik, yang disebut sebagai Asrama Angkatan Baru Indonesia atau Asrama 31, dikutip dari cnnindonesia.com. Dari pendidikan politik inilah para tokoh bangsa memanfaatkan pendidikan untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Melansir cnnindonesia.com, gedung yang awalnya merupakan hotel dan asrama ini akhirnya berubah menjadi Markas Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia Jakarta Raya. Pada 1968 hingga 1972, gedung tersebut diubah menjadi tempat pusat kegiatan Veteran Angkatan 45 dan resmi dijadikan Gedung Joang 45 oleh Presiden Soeharto bersama Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 19 Agustus 1974.
5. Museum Layang-Layang, Jakarta Selatan
Museum Layang-Layang di Pondok Labu, Jakarta Selatan merupakan museum yang didirikan atas minat dan hobi khusus terhadap layang-layang. Melansir tempo.co, museum ini didirikan oleh Endang Ernawati pada 2003 dan diresmikan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan.
Hal-hal yang terdapat dalam museum ini beragam dan segalanya berkaitan layang-layang, termasuk model layang-layang tradisional hingga modern. Terdapat juga layang-layang dari mancanegara seperti Turki, Belanda, Korea Selatan, Swedia, dan lainnya, dikutip kembali dari tempo.co. Tak hanya itu, replika layang-layang pertama di Indonesia dari Sulawesi Tenggara juga diabadikan dalam museum ini.
Baca juga: Rujak Juhi, Makanan Khas Betawi yang Mulai Langka
Tidak hanya kelima tempat tersebut, tentunya Jakarta masih memiliki beragam tempat dan situs sejarah lain yang tersebar luas. Dari zaman penjajahan hingga kemerdekaan, kota ini telah melalui berbagai peristiwa penting yang membentuk tempat-tempat bersejarah.
Tersebarnya banyak tempat dan situs penting di setiap bagian Jakarta menunjukkan bahwa kota ini memiliki cerita dan kisah yang masih bisa diakses hingga saat ini. Tidak sekadar menambah wawasan, tempat-tempat bersejarah juga menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia untuk melestarikan warisan budaya yang ada.
Penulis: Jesslyn Gunawan Wijaya
Editor: Jessica Kannitha
Foto: kompas.com/Zeta Zahid Yassa
Sumber: kompas.com, daaitv.co.id, tempo.co, cnnindonesia.com





