• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Wednesday, January 28, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Jalan-jalan

Intip Beragam Tempat Bersejarah yang Jarang Diketahui di Jakarta

Jesslyn Gunawan Wijaya by Jesslyn Gunawan Wijaya
December 10, 2025
in Jalan-jalan
Reading Time: 5 mins read
Potret bangunan Toko Merah, salah satu bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua. (kompas.com/Zeta Zahid Yassa)

Potret bangunan Toko Merah, salah satu bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua. (kompas.com/Zeta Zahid Yassa)

0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Jakarta merupakan kota yang tak terlepas dari saksi perjalanan panjang sejarah Indonesia, khususnya saat masa penjajahan. Alhasil, banyak bangunan dan tempat bersejarah peninggalan berbagai periode sebagai bukti sejarah. 

Bangunan dan situs bersejarahnya pun tersebar luas di seluruh bagian Jakarta, dari Timur hingga Utara. Tentunya, masing-masing tempat memiliki cerita tersendiri. 

Baca juga: Rekomendasi Museum Menarik di Jakarta, Bisa untuk Edukasi sekaligus Rekreasi 

1. Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara

Bagi masyarakat Betawi, cerita rakyat Si Pitung sudah tidak asing lagi. Tak hanya cerite belaka, terdapat Rumah Si Pitung di Marunda yang terletak di Marunda, Jakarta Utara. 

Namun, ternyata Pitung tidak benar-benar tinggal di rumah tersebut. Mengutip kompas.com, Pitung hanya singgah ke rumah itu pada sekitar 1890-an. Pemilik rumah tersebut merupakan Haji Safiudin, seorang juragan tambak ikan dari Bugis. 

Rumah yang berbentuk rumah panggung ini kemudian diresmikan menjadi cagar budaya. Hal ini tertuang pada Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999 Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya. 

2. Pura Aditya Jaya, Jakarta Timur 

Pura Aditya Jaya merupakan pura (rumah ibadah umat Hindu) tertua di Jakarta yang terletak di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Dengan gaya arsitektur Jawa-Bali, pura ini juga menjadi simbol perjuangan umat Hindu dalam membangun tempat beribadah. 

Melansir daaitv.co.id, bangunan pura Aditya Jaya menggunakan konsep Tri Mandala yang terdiri dari Kanistama Mandala, Mandhayama Mandala, dan Uttama Mandala. Kanistama Mandala merupakan area terluar pintu masuk pura, Mandhayama Mandala adalah area tengah untuk memasuki pura, sedangkan Uttama Mandala merupakan area paling dalam dan paling suci dari pura ini. 

Pembangunan pura Aditya Jaya berawal dari almarhum I Gusti Ngurah Mandra yang saat itu menjadi tim Kontraktor proyek jalan Jakarta-Cirebon pada 1970-an, dikutip dari kompas.com. Beliau mengusulkan pembangunan pura pada lahan kosong kepada pimpinan proyek (pimpro). 

Setelah usulan diterima, dibentuk panitia untuk melaksanakan pembangunan pura. Peletakan batu pertama pura ini dilakukan pada 1972 dan Pura Aditya Jaya diresmikan pada 12 Mei 1973 oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prayogo. 

3. Toko Merah, Jakarta Barat 

Masih terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Toko Merah merupakan salah satu peninggalan Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada masa Batavia. Bangunan ini terbuat dari batu bata berwarna merah dan saat ini dijadikan sebagai kafe bernama Rode Winkel.   

Mengutip tempo.co, Toko Merah didirikan oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff pada 1730, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada 1743 hingga 1750. Fungsi dari Toko Merah ini pun berganti-ganti. Melansir kompas.com, Toko Merah sempat menjadi hotel mewah, tempat tinggal, toko pribadi, kantor untuk Bank Voor Indie, bahkan kantor perusahaan asuransi dan industri milik Belanda. 

Bangunan ini kemudian mulai dikenal sebagai Toko Merah setelah dibeli oleh Oey Liauw Kong, seorang kapten Cina pada 1851 untuk dijadikan rumah dan toko. Cat warna merah pada kusen dan pintu membuat bangunan ini dikenal dengan Toko Merah. Pada 1993, Toko Merah ditetapkan sebagai cagar budaya. 

4. Gedung Joang 45, Jakarta Pusat

Berlokasi di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Gedung Joang 45 atau Museum Gedung Joang 45 merupakan salah satu bangunan saksi menjelang kemerdekaan Indonesia. Bangunan gedung ini masih kaya akan arsitektur Belanda dengan pilar-pilar yang terlihat tinggi dan kokoh.

Mengutip cnnindonesia.com, gedung ini awalnya adalah sebuah hotel bernama Hotel Schomper. Hotel tersebut digunakan untuk tempat beristirahat para pejabat Belanda, pengusaha asing, serta pejabat pribumi yang datang ke Batavia saat itu. Hotel Schomper kemudian beralih fungsi dan nama di masa kedudukan Jepang pada 1942 yang saat itu melakukan pengambilan aset-aset Belanda oleh Gunseikanbu Sendenbu atau Badan Propaganda Jepang. 

Setelah itu, Hotel Schomper beralih menjadi asrama untuk para pemuda Indonesia untuk menanamkan pendidikan politik, yang disebut sebagai Asrama Angkatan Baru Indonesia atau Asrama 31, dikutip dari cnnindonesia.com. Dari pendidikan politik inilah para tokoh bangsa memanfaatkan pendidikan untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Melansir cnnindonesia.com, gedung yang awalnya merupakan hotel dan asrama ini akhirnya berubah menjadi Markas Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia Jakarta Raya. Pada 1968 hingga 1972, gedung tersebut diubah menjadi tempat pusat kegiatan Veteran Angkatan 45 dan resmi dijadikan Gedung Joang 45 oleh Presiden Soeharto bersama Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 19 Agustus 1974. 

5. Museum Layang-Layang, Jakarta Selatan

Museum Layang-Layang di Pondok Labu, Jakarta Selatan merupakan museum yang didirikan atas minat dan hobi khusus terhadap layang-layang. Melansir tempo.co, museum ini didirikan oleh Endang Ernawati pada 2003 dan diresmikan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan.

Hal-hal yang terdapat dalam museum ini beragam dan segalanya berkaitan layang-layang, termasuk model layang-layang tradisional hingga modern. Terdapat juga layang-layang dari mancanegara seperti Turki, Belanda, Korea Selatan, Swedia, dan lainnya, dikutip kembali dari tempo.co. Tak hanya itu, replika layang-layang pertama di Indonesia dari Sulawesi Tenggara juga diabadikan dalam museum ini.

Baca juga: Rujak Juhi, Makanan Khas Betawi yang Mulai Langka

Tidak hanya kelima tempat tersebut, tentunya Jakarta masih memiliki beragam tempat dan situs sejarah lain yang tersebar luas. Dari zaman penjajahan hingga kemerdekaan, kota ini telah melalui berbagai peristiwa penting yang membentuk tempat-tempat bersejarah.

Tersebarnya banyak tempat dan situs penting di setiap bagian Jakarta menunjukkan bahwa kota ini memiliki cerita dan kisah yang masih bisa diakses hingga saat ini. Tidak sekadar menambah wawasan, tempat-tempat bersejarah juga menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia untuk melestarikan warisan budaya yang ada. 

 

 

Penulis: Jesslyn Gunawan Wijaya

Editor: Jessica Kannitha

Foto: kompas.com/Zeta Zahid Yassa

Sumber: kompas.com, daaitv.co.id, tempo.co, cnnindonesia.com 

Tags: 2025Bataviabetawibudayajakartajalan-jalankotaSejarahtempat bersejarahtraveltravellingwisata
Jesslyn Gunawan Wijaya

Jesslyn Gunawan Wijaya

Related Posts

Potret walang atau belalang goreng di atas daun hijau. (create.vista.com)
Iptek

Walang Goreng, Hidangan Belalang Khas Yogyakarta

December 16, 2025
Pasar Subuh Senen
Hiburan

Pasar Subuh Senen: Menyusuri Jejak Jajanan Tradisional

December 5, 2025
Kentang mustofa, makanan khas Indonesia yang dapat dijadikan lauk maupun camilan. (KOMPAS.com)
Jalan-jalan

Mengulik Kuliner Unik Indonesia: Dari Nasi Kucing Hingga Kentang Mustofa

December 2, 2025
Next Post
Duo Pomplamoose penulis album En Francais, Jack Conte (kiri) dan Nataly Dawn (kanan) di dalam studio rekaman. (francemusic.com)

Dari En Francais ke Photogenique: Kenali Bossa-Pop Prancis Lewat Pomplamoose

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 11 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021