SERPONG, ULTIMAGZ – Ultimates pasti sering melihat tren velocity yang hadir di For You Page (FYP) media sosial kalian, atau bahkan membuat video velocity itu sendiri. Namun, apakah Ultimates tahu mengapa tren tersebut mampu mendominasi berbagai media sosial terutama TikTok?
Dilansir idntimes.com, velocity secara harfiah berarti kecepatan. Di dunia TikTok, istilah ini menunjuk pada teknik edit video yang fokus pada pengaturan kecepatan video, yaitu transisi halus antara efek slow motion dan gerakan cepat dalam satu video.
BACA JUGA: Goodbye Eri: Ketika Duka Menjadi Seni
Tren tersebut dinamakan Velocity karena menggunakan efek editing magic bernama velocity. Biasanya, tren ini menggunakan padu ulang lagu seperti “Malu-Malu”, “Cast Of This Life For The Burning”, hingga “Jauh Ko Pergi”.
Dilansir liputan6.com, pemilihan musik dengan tempo yang tepat sangat penting untuk mendukung transisi visual antara gerakan cepat dan lama pada video velocity. Lagu yang selaras dapat membuat video lebih bagus dan efektif dalam menyampaikan suasana hati atau pesan yang ingin disampaikan.
Para pengguna biasanya memilih lagu yang sedang viral untuk meningkatkan peluang video mereka masuk ke laman FYP. Campuran antara efek visual dan lagu yang tepat dapat menciptakan konten kreatif yang menarik dan tidak membosankan bagi penonton.
Untuk membuat efek ini, pengguna TikTok dapat merekam di TikTok atau memilih video dari galeri, lalu dibagi menjadi beberapa potongan klip yang diinginkan. Setelah itu, gunakan fitur “Magic” pada klip tertentu agar kecepatan video berubah secara otomatis dan menghasilkan transisi velocity.
Dilansir netralnews.com, salah satu alasan utama tren ini sangat populer adalah gerakannya yang sederhana, tetapi tetap membuat ketagihan. Orang-orang tidak perlu menjadi penari profesional untuk mengikutinya karena cukup menggerakkan jari sesuai ketukan musik dan memotong clip agar tidak terlihat patah-patah.
Bukan hanya sebagai hiburan, Velocity Dance juga dapat mengasah kreativitas orang dalam membuat gerakan baru. Selain itu, banyak juga yang dapat memanfaatkan momentum ini untuk jadi konten kreator seperti @yuukiituru.
BACA JUGA: HELP(02) War Child Records: Ketika Musik Lebih Keras dari Perang
Namun, dibalik keseruannya, tren ini juga memiliki dampak negatif seperti risiko kecanduan media sosial akibat durasi scrolling yang tidak terkendali hingga mengganggu produktivitas dan waktu istirahat. Fenomena ini seringkali diperparah oleh tekanan Fear of Missing Out (FOMO) yang membuat orang merasa wajib mengikuti tren.
Seberapa sering sebenarnya Ultimates ikut meramaikan tren velocity ini di media sosial? Jika pernah, lagu remix mana yang paling sering dijadikan latar musik untuk editan velocity andalanmu?
Penulis: Jocelyn Gabrielle
Editor: Kezia Laurencia
Foto: luputan6.com
Sumber: idntimes.com, liputan6.com, netralnews.com





