SERPONG, ULTIMAGZ.com – Apakah Ultimates merasa tergoda membeli baju baru hanya karena sedang viral di media sosial? Walaupun lemari sudah penuh, tetapi cepatnya pergantian tren dan koleksi baju membuat kita merasa Fear of Missing Out (FOMO) atau tertinggal zaman (out of style) jika tidak membelinya.
Melansir zerowaste.id, sebelum revolusi industri, pakaian merupakan barang mewah yang mahal karena seluruh proses pembuatannya dilakukan secara manual. Akibatnya, busana berkualitas hanya bisa dimiliki oleh kalangan tertentu. Hingga pada akhirnya tercipta teknologi mesin jahit pada 1980-an yang memicu lahirnya industri fast fashion.
BACA JUGA: Dari Lolita Hingga Gyaru: Kenali Dunia Fesyen Alternatif dari Jepang
Kini, fast fashion diproduksi secara massal dengan proses cepat dan bahan baku murah sehingga dapat dijangkau oleh semua orang. Sayangnya, produk ini memiliki daya tahan lebih rendah dan cepat rusak dibandingkan pakaian konvensional yang harganya lebih tinggi.
Untuk memahami lebih lanjut tentang fast fashion, Ultimates harus mengenali beberapa ciri-ciri berikut.
- Fast fashion selalu mengikuti tren terbaru sehingga modelnya banyak dan cepat berubah.
- Umumnya fast fashion diproduksi di Asia dan negara berkembang, seperti Indonesia. Para pekerja akan digaji dengan sangat murah tanpa diberikan jaminan keselamatan kerja.
- Fast fashion menggunakan bahan baku yang tidak berkualitas (murah) dan tidak tahan lama.
Melansir ozzakonveksi.com, fast fashion juga menyebabkan beberapa masalah serius. Salah satunya karena penggunaan bahan polyester dan pewarna buatan yang mencemari air serta mengancam populasi hewan. Bukan hanya itu, tren fesyen yang berganti dengan cepat juga menciptakan budaya konsumtif, membuat banyak orang rela menghabiskan uang untuk mengikuti tren.
Namun, karena permintaan (demand) model fesyen sangat tinggi, banyak pekerja terpaksa kerja lembur dengan gaji yang minim tanpa adanya jaminan hak-hak pekerja yang layak. Hal ini termasuk ke dalam eksploitasi pekerja.
Kebiasaan membuang pakaian lama hanya untuk mengikuti tren terbaru juga menyebabkan penumpukan jutaan ton limbah tekstil di berbagai belahan dunia. Kain-kain yang membusuk di tempat sampah tersebut melepaskan gas metana (CH₄) ke udara sehingga memberikan kontribusi besar terhadap pemanasan global.
Ultimates pasti sering melihat gerai fast fashion di mall seperti UNIQLO, ZARA, H&M, dan lainnya. Namun apakah Ultimates pernah mencari merek fesyen yang menggunakan bahan ramah lingkungan (sustainable)? Melansir written.id, berikut adalah lima merek fesyen Indonesia yang menggunakan bahan ramah lingkungan.
BIASA Official
Ditemukan pada 1994, BIASA Official dikenal sebagai merek yang menggunakan material ramah lingkungan. Selain itu, mereka juga membuat baju dalam kuantitas terbatas karena merupakan produk buatan tangan (handmade) sehingga tidak mengeksploitasi buruh pekerja. BIASA lebih dikenal karena fokusnya pada koleksi pakaian santai (resort wear).
Sejauh Mata Memandang
Sejauh Mata Memandang ditemukan oleh Chitra Subyakto dan dikenal karena memiliki desain fesyen yang modis dan modern. Tidak hanya itu, mereka juga menggunakan material yang didaur ulang dan ramah lingkungan seperti lyocell. Sejauh Mata Memandang kerap kali mengadakan pameran dan membuat instalasi yang berhubungan dengan alam untuk meningkatkan kesadaran tentang polusi limbah di perairan Indonesia.
Sukkha Citta
Didirikan oleh Denica Flesch, label pakaian ini berfokus pada konsep pemberdayaan pekerja dan pelestarian lingkungan. Mereka juga menggunakan bahan baku natural dan organik, seperti pewarna bahan alami untuk mengurangi limbah produksi. Sukkha Citta sering mengeluarkan model pakaian yang serbaguna (versatile) agar dapat digunakan dalam keseharian.
Kana Goods
Kana Goods yang ditemukan oleh Sanjaya Rini menggunakan warna biru, khususnya biru indigo dan juga denim, pada hampir keseluruhan koleksinya. Mereka menggunakan pewarna indigo (indigofera tinctoria) yang alami dan organik. Selain itu, Sanjaya Rini juga sering berbagi pengalaman mengenai tekstil dengan mengadakan lokakarya (workshop).
BACA JUGA: Seiko dan HUF: Ketika Waktu Tidak Hanya Berharga, Tapi Penuh Gaya
Lanivatti
Lanivatti didirikan oleh Nicole Patricia Malina dengan koleksi yang serbaguna dan warna yang netral. Penggunaan material yang dapat terurai (biodegradable) menjadi faktor utama yang menentukan kisaran harga produk Lanivatti.
Setelah mengenal dan mengetahui dampak fast fashion, apakah Ultimates akan lanjut membeli produk dari merek tersebut? Ataukah Ultimates akan mencari tahu lebih lanjut mengenai produk lokal yang menggunakan material ramah lingkungan?
Penulis: Jocelyn Gabrielle
Editor: Celine Valleri
Foto: ozzakonveksi.com
Sumber: zerowaste.id, ozzakonveksi.com, written.id





