SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada Misi Artemis II, Christina Koch menjadi perempuan pertama yang mengelilingi Bulan. Peristiwa ini menandai sebuah lompatan besar NASA sekaligus simbol kemajuan peran perempuan dalam eksplorasi luar angkasa.
Melansir nytimes.com, sebelum terpilih untuk misi bersejarah ke Bulan, Christina Koch telah memantapkan namanya di jajaran elite penjelajah antariksa. Ia memegang rekor sebagai perempuan dengan penerbangan luar angkasa tunggal terlama, yakni selama 328 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Selama berada di orbit Bumi, ia tidak hanya melakukan eksperimen ilmiah yang kompleks, tetapi juga terlibat dalam kegiatan berjalan di ruang angkasa (spacewalk) pertama yang seluruh anggotanya adalah perempuan.
Baca juga: Gerwani: Perjuangan Emansipasi dan Bayang-Bayang Sejarah
Pengalaman panjang di lingkungan mikrogravitasi ini memberikan data krusial bagi NASA mengenai respons tubuh manusia, khususnya perempuan terhadap durasi tinggal di luar angkasa. Ketangguhan fisik dan mental yang Koch tunjukkan selama hampir satu tahun di orbit menjadi bukti kuat bahwa ia adalah kandidat terbaik untuk menghadapi tantangan eksplorasi luar angkasa yang lebih dalam.
Dalam misi Artemis II, Koch menjabat sebagai Mission Specialist. Bersama tiga rekan kru lainnya, ia menaiki kapsul Orion yang diluncurkan menggunakan sistem roket paling kuat di dunia, yaitu Space Launch System (SLS). Berbeda dengan misi Apollo pada masa lalu, Artemis II dirancang untuk menguji seluruh sistem pendukung kehidupan di orbit Bulan sebelum manusia melakukan misi pendaratan berikutnya, dilansir dari vogue.co.uk.
Perjalanan ini membawa Koch dan kru melintasi ribuan mil untuk melampaui sisi Bulan hingga mencapai titik terjauh yang pernah dicapai manusia dari Bumi. Meskipun misi ini tidak melibatkan pendaratan (moonwalk), posisi Koch di dalam kapsul Orion memiliki makna simbolis yang luar biasa. Ia menjadi representasi dari jutaan perempuan yang selama ini hanya dapat memandang Bulan dari kejauhan. Kini, ia berada di sana untuk melihat kawah-kawah Bulan dengan mata kepalanya sendiri.
Baca juga: Theresa Kachindamoto: Kepala Suku yang Membatalkan Ribuan Pernikahan Dini
Tentunya, keberhasilan Koch tidak datang secara instan. Melalui latar belakang pendidikan di bidang Teknik Elektro dan Fisika, ia memulai kariernya dengan bekerja di lingkungan paling ekstrem di Bumi, mulai dari Antartika hingga Greenland. Pengalaman bekerja di stasiun penelitian yang terisolasi melatih kemampuannya dalam pemecahan masalah dan kerja sama tim di bawah tekanan tinggi. Kemampuan tersebut menjadi kualitas yang sangat dibutuhkan bagi seorang astronot.
Melansir space.com, bagi Koch, penjelajahan ini bukan soal pencapaian atau sekadar menancapkan bendera, melainkan upaya untuk sains dan kemanusiaan. Dengan mempelajari Bulan lebih dalam, manusia dapat memahami sejarah tata surya dan mempersiapkan langkah berikutnya menuju Mars. Koch percaya bahwa ketika manusia menjelajah dalam tim yang beragam, mereka membawa perspektif dan kreativitas yang lebih luas untuk menyelesaikan tantangan yang tampak mustahil.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Jocellyn Lee Kurnianto
Foto: space.com
Sumber: nytimes.com, vogue.co.uk, space.com

![Metta Angriani memaparkan materi pengelolaan keuangan bagi individu lajang pada sesi kedua #BerbagiBeban yang berlangsung di JP Live! Space, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Sabtu (25/04/2026). [foto id="384"]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/TEMPLATE-WATERMARK-UMAGZ-3-350x250.png)


