SERPONG, ULTIMAGZ.com – Di tengah patriarki yang kuat di Malawi, muncul sosok perempuan tangguh yang menggemparkan tatanan adat demi masa depan generasi muda. Theresa Kachindamoto, yang menyandang gelar Paramount Chief (Kepala Suku Tertinggi) di Distrik Dedza, telah menjadi simbol perlawanan global terhadap pernikahan dini.
Melansir aljazeera.com, keberanian Kachindamoto dimulai ketika Kachindamoto diangkat menjadi pemimpin bagi lebih dari 900.000 orang pada 2003. Saat kembali ke kampung halamannya, ia terkejut melihat gadis-gadis berusia 12 tahun yang sudah menggendong bayi dan menjalankan peran sebagai istri. Di Malawi, pernikahan dini sering kali dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan atau merupakan bagian dari ritual adat yang kontroversial.
Baca juga: Apa yang Perempuan Pakai Sebelum Ada Pembalut? Yuk, Intip Sejarahnya!
Marah, ia tidak tinggal diam. Kachindamoto mengambil langkah yang cukup berisiko. Ia menggunakan otoritas adatnya untuk membatalkan pernikahan yang melibatkan anak di bawah umur. Dalam tahun-tahun pertama kepemimpinannya, ia berhasil membatalkan lebih dari 3.500 pernikahan anak dan memastikan para gadis kembali ke bangku sekolah, dilansir dari girlsnotbrides.org.
Akan tetapi, keberhasilan Kachindamoto tidak datang tanpa hambatan. Melansir womensvoicesnow.org, ia sering mendapat ancaman pembunuhan dan penolakan keras dari para konservatif yang merasa hak adat mereka dijajah. Namun, ia menerapkan strategi yang sangat efektif:
Sanksi Tegas bagi Pemimpin Lokal
Ia memberitahu kepala desa yang melegalkan atau membiarkan pernikahan anak di wilayahnya untuk membatalkan pernikahan tersebut. Pada kesempatan lain, ia juga memberi sanksi untuk memberhentikan para pendeta dan kepala suku yang mendukung aksi ini.
Kampanye
Kachindamoto membentuk kelompok rahasia yang terdiri dari para ibu di desa untuk memantau dan melaporkan jika ada rencana pernikahan anak yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Selain itu, ia juga menginisiasikan kampanye untuk meyakinkan para orang tua agar tidak menikahkan anak-anak mereka di usia yang masih terlalu muda.
Reformasi Hukum Adat
Ia menandatangani kesepakatan dengan para pemimpin sub-suku untuk menghapus ritual yang menjurus pada aktivitas seksual dini dan melarang pernikahan di bawah usia 18 tahun pada 2017. Kesepakatan ini sudah ada jauh sebelum pemerintah pusat Malawi mengesahkan undang-undang serupa.
Baca juga: Mengenal Nellie Bly, Jurnalis Investigasi Pertama
Sosok pejuang kemanusiaan, Theresa Kachindamoto, meninggal pada 13 Agustus 2025. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Kamuzu Central, Lilongwe, pada usia 66 tahun. Namun, kepemimpinan Kachindamoto menjadi cetak biru (blueprint) bagi aktivis hak asasi manusia di Afrika.
Semasa hidupnya Kachindamoto menginspirasi reformasi nasional dan memengaruhi perubahan kebijakan tentang pernikahan dini. Warisannya akan tetap hidup dalam diri anak-anak dan komunitas yang ia selamatkan. Hingga saat ini, sosok Theresa Kachindamoto masih menginspirasi generasi muda untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Celine Valleri
Foto: elpais.com
Sumber: aljazeera.com, girlsnotbrides.org, womensvoicesnow.org,




