SERPONG, ULTIMAGZ.com — Sutradara asal Jepang, Kousuke Sakoda, memutar dua filmnya, Laying Down, Looking Up dan This Window, Other Side, dalam sesi YouthScene & ShareScene di NextScene Kids & Youth Film Festival 2026, Sabtu (08/08/2026). Kegiatan berlangsung di Bioskop Kineforum, Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Baca juga: Festival Film Jelek Menggelar Volume 2! Pesta Untuk Seniman Yang Tak Terlirik
Kedua film Sakoda sama-sama mengangkat isu kompleksitas emosi anak muda. Laying Down, Looking Up mengisahkan Chiena, siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tengah bersiap menghadapi ujian masuk. Neneknya dirawat di rumah sakit akibat pendarahan otak dan meski Chiena rutin menjenguk setiap hari, dia hanya sibuk belajar di kamar. Suatu hari, dia menemukan buku catatan sang nenek dan mulai memahami perasaannya, hingga memutuskan melakukan sesuatu.
Tema serupa juga terasa dalam This Window, Other Side, yang mengisahkan Yumi, murid kelas lima SD yang berhenti sekolah setelah mengalami perundungan. Satu-satunya kesenangan Yumi adalah mengobrol lewat jendela dengan Rieko, mahasiswi yang tinggal di seberang rumahnya, hingga suatu hari dia mengetahui rahasia Rieko.
Menariknya, film kedua ini punya akar yang personal bagi Sakoda sendiri. Dalam catatan yang dibagikan sebelum pemutaran, dia mengatakan dirinya sempat kesulitan berkomunikasi dengan orang lain dan enggan keluar rumah lebih dari 20 tahun lalu, setelah lulus kuliah dan masuk sekolah film. Masa itu, menurutnya, menjadi cikal bakal lahirnya This Window, Other Side.
Film tersebut merupakan proyek kelulusan Sakoda dari sekolah film. Naskahnya terpilih dan dia pun menyutradarai film itu, sementara mahasiswa lain yang naskahnya tidak terpilih mengambil peran lain di produksi. Film ini kemudian diputar di berbagai festival film di Jepang maupun mancanegara.
Baca juga: JAFF 20 Resmi Tamat, Intip Keseruan di Balik Layar Festival Film Terbesar Indonesia!
Pengalaman pribadi itu pula yang tampaknya membentuk pandangan Sakoda soal film sebagai medium lintas budaya. Ditemui usai pemutaran, dia mengatakan meski dunia punya banyak perbedaan budaya, perasaan manusia tidak jauh berbeda.
“Meski beda, perasaannya tidak begitu bervariasi. Kalau sedih, ya sedih. Kalau senang, ya senang. Justru melalui film ini, saya berharap bisa menjadi kesatuan budaya antara Jepang dan Indonesia,” ujar Sakoda.
Pandangan itu sejalan dengan misi program “Focus on Japan“, yang menghadirkan karya-karya sineas Jepang sebagai jembatan relasi budaya dengan Indonesia. Sementara itu, program unggulan lain, “Bumi dalam Cerita Anak Muda”, mengangkat isu lingkungan dan krisis iklim lewat sudut pandang anak dan remaja. Festival film anak dan remaja ini digelar gratis pada 6–9 Agustus 2026 di Taman Ismail Marzuki dan CGV fX Sudirman, Jakarta.
Penulis: Aurelia Lisbeth
Editor: Kezia Laurencia
Foto: Iskandar Gautama
Sumber: hiff.jp, nextscenefilmfestival.id




