SERPONG, ULTIMAGZ.com — Di tengah gelombang kebangkitan nasional Indonesia yang meluas pada awal 1910-an, lahir sebuah media massa lokal bernama surat kabar Kaoem Moeda. Koran ini tidak sekadar menerbitkan berita pasar atau kabar pemerintah kolonial, tetapi juga menjadi media yang menyuarakan suara anak muda terpelajar.
Mengutip ayosurabaya.com, Kaoem Muda terbit pertama kali pada 1912. Surat kabar ini hadir sebagai lembaran harian yang membawa hidup baru bagi pers Indonesia. Di cetak di bawah naungan penerbit Kaoem Moeda & Vorbink, koran ini dengan cepat berubah menjadi rujukan bacaan kaum terpelajar di Jawa Barat. Koran ini tidak terbit pada hari libur nasional atau hari besar sehingga para redaktur mendapat waktu jeda untuk membuat ide-ide kreatif untuk dicetak berikutnya.
Baca juga: Dinamika Serikat Pekerja Media dalam Dokumenter Cut to Cut
Di balik lembaran kertas merang dan ejaan bahasa Melayu lama, Kaoem Moeda menghadirkan perpaduan narasi yang khas dan menarik. Kaoem Moeda digerakkan oleh tokoh-tokoh besar pergerakan nasional seperti A.H. Wignjadisastra hingga Abdoel Moeis. Tulisan di koran ini kerap menyinggung kebijakan pemerintah Hindia Belanda dengan gaya bahasa yang berani tetapi tetap mempertahankan kritiknya.
Uniknya, Kaoem Moeda tidak selalu menggunakan bahasa yang formal dan kaku. Koran ini mengerti cara memikat hati masyarakat dengan menulis dinamika kehidupan sosial harian. Artikel-artikelnya merangkum beragam topik, mulai dari wacana pergerakan Sarekat Islam, laporan perjalanan ibadah haji, hingga ruang olahraga lokal. Bahkan catatan sejarah pers Kaoem Moeda dari 1919, belakangan ini kembali hangat dibicarakan karena menjadi rujukan dokumen autentik awal berdirinya klub sepak bola legendaris Bandung, dikutip dari bandungbergerak.id.
Baca juga: DC Compact Comics, Format Ringkas untuk Kisah-Kisah Ikonik
Menelusuri Kaoem Moeda di era 1910-an seolah mengajak kita melihat bagaimana media mampu membentuk identitas sebuah bangsa yang saat itu bahkan belum resmi merdeka. Di masa ketika kebebasan berpendapat masih diawasi ketat oleh penguasa kolonial, Kaoem Moeda membuktikan bahwa pena dan lembaran kertas mampu menyatukan benang-benang kesadaran masyarakat pribumi.
Meski sekarang menjadi bagian dari lembaran arsip sejarah pers Indonesia, semangat yang dibangun Kaoem Moeda di awal 1910-an tetap terasa relevan. Koran ini meninggalkan pesan berharga bahwa media independen dan pemikiran kritis anak muda akan selalu menjadi penggerak utama dalam merespons dinamika zaman, membongkar ketidakadilan, serta membuat jalan menuju perubahan sosial yang lebih bermakna.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Celine Valleri
Foto: bandungbergerak.id
Sumber: ayosurabaya.com, bandungbergerak.id




