• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Wednesday, November 4, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Iptek

Menyusuri Media Surat Kabar Kaoem Muda di Awal 1910an

Zalfa Zahiyah Putri Wibawa by Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
November 4, 2026
in Iptek, Lainnya
Reading Time: 2 mins read
Dokumentasi arsipan koran Kaoem Muda, 1914. (BandungBergerak/Hafidz Azhar)

Dokumentasi arsipan koran Kaoem Muda, 1914. (BandungBergerak/Hafidz Azhar)

0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Di tengah gelombang kebangkitan nasional Indonesia yang meluas pada awal 1910-an, lahir sebuah media massa lokal bernama surat kabar Kaoem Moeda. Koran ini tidak sekadar menerbitkan berita pasar atau kabar pemerintah kolonial, tetapi juga menjadi media yang menyuarakan suara anak muda terpelajar.

Mengutip ayosurabaya.com, Kaoem Muda terbit pertama kali pada 1912. Surat kabar ini hadir sebagai lembaran harian yang membawa hidup baru bagi pers Indonesia. Di cetak di bawah naungan penerbit Kaoem Moeda & Vorbink, koran ini dengan cepat berubah menjadi rujukan bacaan kaum terpelajar di Jawa Barat. Koran ini tidak terbit pada hari libur nasional atau hari besar sehingga para redaktur mendapat waktu jeda untuk membuat ide-ide kreatif untuk dicetak berikutnya.

Baca juga: Dinamika Serikat Pekerja Media dalam Dokumenter Cut to Cut

Di balik lembaran kertas merang dan ejaan bahasa Melayu lama, Kaoem Moeda menghadirkan perpaduan narasi yang khas dan menarik. Kaoem Moeda digerakkan oleh tokoh-tokoh besar pergerakan nasional seperti A.H. Wignjadisastra hingga Abdoel Moeis. Tulisan di koran ini kerap menyinggung kebijakan pemerintah Hindia Belanda dengan gaya bahasa yang berani tetapi tetap mempertahankan kritiknya.

Uniknya, Kaoem Moeda tidak selalu menggunakan bahasa yang formal dan kaku. Koran ini mengerti cara memikat hati masyarakat dengan menulis dinamika kehidupan sosial harian. Artikel-artikelnya merangkum beragam topik, mulai dari wacana pergerakan Sarekat Islam, laporan perjalanan ibadah haji, hingga ruang olahraga lokal. Bahkan catatan sejarah pers Kaoem Moeda dari 1919, belakangan ini kembali hangat dibicarakan karena menjadi rujukan dokumen autentik awal berdirinya klub sepak bola legendaris Bandung, dikutip dari bandungbergerak.id.

Baca juga: DC Compact Comics, Format Ringkas untuk Kisah-Kisah Ikonik

Menelusuri Kaoem Moeda di era 1910-an seolah mengajak kita melihat bagaimana media mampu membentuk identitas sebuah bangsa yang saat itu bahkan belum resmi merdeka. Di masa ketika kebebasan berpendapat masih diawasi ketat oleh penguasa kolonial, Kaoem Moeda membuktikan bahwa pena dan lembaran kertas mampu menyatukan benang-benang kesadaran masyarakat pribumi.

Meski sekarang menjadi bagian dari lembaran arsip sejarah pers Indonesia, semangat yang dibangun Kaoem Moeda di awal 1910-an tetap terasa relevan. Koran ini meninggalkan pesan berharga bahwa media independen dan pemikiran kritis anak muda akan selalu menjadi penggerak utama dalam merespons dinamika zaman, membongkar ketidakadilan, serta membuat jalan menuju perubahan sosial yang lebih bermakna.

 

Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Editor: Celine Valleri

Foto: bandungbergerak.id

Sumber: ayosurabaya.com, bandungbergerak.id

Tags: anak mudaanak muda Indonesiakaoem mudakoranKritismasa kolonialmediamedia massapers indonesiasurat kabar
Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Zalfa Zahiyah Putri Wibawa

Related Posts

Contoh konten yang membahas fase tidak suka pink. (Instagram/@pretticoffee, @vibe_samurai007, @wowmengroup, @therealelysiian)
Film

‘Nggak Suka Pink’ Saat Kecil: Cuma Selera atau Bentuk Pertahanan Diri?

November 3, 2026
Margaret
Iptek

Margaret Keane: The Big Eyes Painter and Her Fight to be Seen

November 3, 2026
Zelda Fitzgerald, The Woman Behind F. Scott Fitzgerald
Iptek

Zelda Fitzgerald, The Woman Behind F. Scott Fitzgerald

November 2, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021