SERPONG, ULTIMAGZ.com — Pernahkah Ultimates merasakan fase ketika tidak suka dengan warna pink saat kecil atau remaja? Fenomena ini ternyata bukan sekadar perubahan selera warna, melainkan dampak pengaruh sejarah, kapitalisme, dan misogini terinternalisasi (internalized misogyny) yang cukup dalam.
Banyak orang yang mengira bahwa warna pink sejak dulu kala diciptakan untuk perempuan. Padahal, sejarah mencatat hal yang berbanding terbalik. Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di dunia Barat, warna pink justru dianggap sebagai warna yang kuat, tegas, dan maskulin. Pandangan ini muncul karena warna pink merupakan turunan dari warna merah yang melambangkan keberanian. Sebaliknya, warna biru yang lembut dan tenang justru lebih sering diasosiasikan dengan keanggunan anak perempuan.
Baca juga: Nawal El Saadawi, Perwakilan dari Perlawanan Perempuan
Mengutip thesciencesurvey.com, pergeseran besar ini terjadi sekitar pertengahan abad ke-20, tepatnya setelah Perang Dunia II. Industri fesyen dan manufaktur pakaian anak di Amerika Serikat mulai menyadari potensi keuntungan finansial yang besar jika mereka membuat segmentasi pasar berbasis gender. Kalau pakaian bayi perempuan dan laki-laki dibedakan warnanya secara eksplisit, orang tua tidak lagi dapat menurunkan baju anak pertama ke anak berikutnya jika jenis kelamin mereka berbeda. Kapitalisme dan strategi pemasaran korporat inilah yang pada akhirnya menetapkan suatu norma sosial bahwa pink adalah warna mutlak milik perempuan.
Warna Pink, Femininitas, dan Internalized Misogyny
Melansir liputan6.com, masalah utama muncul ketika warna pink berhasil disandingkan sepenuhnya dengan konsep femininitas. Dalam struktur masyarakat patriarki, sifat-sifat yang diasosiasikan dengan perempuan—warna pink, riasan wajah, atau cerita romantis—sering kali diturunkan nilainya.
Konsep psikologi sosial menjelaskan bahwa fenomena ini berakar dari internalized misogyny. Menurut Bearman et al. (2009), misogini terinternalisasi terjadi ketika perempuan secara tidak sadar menyerap prasangka dan standar patriarki yang ada di sekitarnya. Kemudian, mereka menerapkan penilaian seksis tersebut kepada diri mereka sendiri maupun perempuan lain.
Masyarakat mulai memandang femininitas sebagai simbol kelemahan, ketidaklogisan, dan sifat yang terlalu emosional. Sementara itu, sifat-sifat maskulin ditempatkan di posisi yang lebih tinggi sebagai standar rasionalitas, kekuatan, dan kesuksesan. Ketika anak perempuan mulai tumbuh besar dan mengamati dinamika sosial ini, secara tidak sadar mereka menyerap pesan terselubung bahwa menjadi “terlalu feminin” akan membuat mereka dipandang sebelah mata. Dari sinilah lahir fenomena untuk menolak femininitas sebagai bentuk perlindungan diri, melansir theguardian.com.
Not Like Other Girls

Media populer pada era 90-an hingga 2000-an awal pun semakin memperumit kondisi ini lewat trope Not Like Other Girls. Kajian budaya pop menunjukkan bagaimana film dan serial TV masa itu sering menampilkan dualisme yang kontras. Sebagai contoh karakter perempuan yang pintar dan independen digambarkan berpenampilan tomboy dengan baju gelap dan sifat yang membenci warna pink.
Mengutip queermajority.com, contoh nyata dapat dilihat dalam film-film remaja ikonik seperti A Cinderella Story (2004) dan Not Another Teen Movie (2001). Dalam A Cinderella Story, karakter utama Sam Montgomery digambarkan sebagai perempuan independen dan pekerja keras yang berjarak dari estetika feminin. Hal ini dikontraskan dengan saudara tiri serta kelompok perempuan populer di sekolahnya yang identik dengan warna pink, riasan tebal, obsesi pada penampilan, serta perilaku manipulatif.
Bahkan, film Not Another Teen Movie secara terbuka memparodikan trope ini lewat karakter Janey Briggs. Janey dianggap buruk rupa dan aneh hanya karena memakai kacamata dan tidak terobsesi menjadi pemandu sorak berbalut warna pink seperti perempuan populer di sekolahnya. Pesan terselubung dari narasi media ini menegaskan bahwa:
Untuk menjadi perempuan yang cerdas, unik, dan dihargai, perempuan wajib menolak estetika feminin dan memisahkan diri dari “perempuan pada umumnya”.
Sebaliknya, karakter perempuan yang menyukai warna pink atau barang-barang feminin hampir selalu ditunjukkan sebagai sosok yang menyebalkan, bermuka dua, atau kurang pintar secara akademik. Pesan media ini seolah menegaskan bahwa untuk jadi perempuan yang berharga dan cerdas, Ultimates harus menolak feminitas.
Pink Hari Ini
Seiring berjalannya waktu, pandangan ini mulai mengalami pergeseran. Generasi saat ini sedang secara aktif merebut kembali arti warna pink, terlepas dari konsep femininitas. Fenomena kepopuleran film Barbie (2023) yang disutradarai Greta Gerwig menjadi titik balik besar dalam wacana ini. Film tersebut secara eksplisit menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki jabatan tinggi meskipun mengenakan gaun pink yang mencolok atau menyukai hal-hal cantik.
Baca juga: Apa yang Perempuan Pakai Sebelum Ada Pembalut? Yuk, Intip Sejarahnya!
Di media sosial, seperti TikTok dan Instagram, estetika hiperfeminitas seperti Coquette, Centyl, hingga Balletcore marak dirayakan sebagai ekspresi kegembiraan. Hiperfeminitas membuktikan bahwa kekuatan dan kecerdasan tidak perlu diraih dengan mengadopsi gaya hidup maskulin dan menindas sisi feminin. Saat ini, menyukai warna pink, berpenampilan centil, dan berdandan feminin dipahami sebagai pilihan estetika yang berdaya.
Setelah bertahun-tahun, perempuan semakin sadar bahwa menyukai warna pink, tampil dengan centil, atau menikmati estetika feminin sama sekali tidak mengurangi tingkat kecerdasan, ambisi, maupun ketegasan mereka. Warna tidak memiliki gender bawaan. Femininitas juga bukan bentuk kelemahan yang harus disembunyikan agar seseorang bisa dihargai.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa (Strategic Communication, 2024)
Editor: Celine Valleri
Foto: pretticoffee/Instagram
Sumber: thesciencesurvey.com, liputan6.com, queermajority.com
Bearman, S. K., Korobov, N., & Thorne, A. (2009). The Fabric of Internalized Sexism. Journal of Integrated Social Sciences, 1(1), 10-47.




