Cangkir Jalanan Apresiasi Kopi Melalui Komunitas

Nico Arbie berbagi cerita mengenai awal berdirinya komunitas Cangkir Jalanan dan kegiatan Cangkir Jalanan bersama para pembuat kopi dari Tangerang dalam acara "Rekahan Mahasiswa" yang diadakan oleh Komunitas Pojok Sastra di Cinespace, Summarecon Digital Center, Gading Serpong, Jumat (28/04/17).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Perilisan buku Rekahan Mahasiswa oleh komunitas Pojok Sastra sukses digelar di Cinespace, Summarecon Digital Serpong, pada Jumat (28/04/2017) kemarin. Acara ini juga turut mengundang Cangkir Jalanan sebagai salah satu pembicara dalam kegiatan Ruang Diskusi 15 Menit.

Awalnya dibentuk dengan adanya forum komunikasi, Cangkir Jalanan sendiri merupakan sebuah komunitas untuk berkomunikasi dengan sesama pegiat kopi, dengan tujuan untuk mengapresiasi dan memberikan pandangan positif terhadap pasar kopi di Indonesia.

“Kita ini sama-sama dagang dan suka kopi, jadi nggak perlu ada persaingan pasar yang tidak kondusif. Sampai sekarang, teman-teman yang usaha di bidang kopi bisa dibilang lebih ke tukeran customer. Secara garis besar, mereka pengen cari kopi yang beda, suasana yang beda, atau sosialisasi yang beda. Warnanya, sih, di situ,” jelas pendiri Cangkir Jalanan Nico Arbie.

Komunitas ini juga mencoba untuk menyatukan masyarakat dari berbagai macam kalangan, baik pegiat kopi maupun pelanggan, melalui beberapa event. Salah satunya adalah penggalangan dana yang diadakan di  Garut akibat peristiwa gempa melalui kegiatan Donasi untuk Garut.

Menurut Nico, salah satu target untuk mengembangkan komunitas ini adalah membangun suasana pasar yang kondusif, terutama bagi pasar kopi.

Komunitas Cangkir Kopi membuat kopi kreasinya secara langsung untuk peserta acara "Rekahan Mahasiswa" yang diselenggarakan di Cinespace, Summarecon Digital Center, Gading Serpong. Jumat (28/04/17)
Komunitas Cangkir Kopi membuat kopi kreasinya secara langsung untuk peserta acara “Rekahan Mahasiswa” yang diselenggarakan di Cinespace, Summarecon Digital Center, Gading Serpong. Jumat (28/04/17).

“Ini dibuat agar pasarnya enggak semrawut dan penjualnya enggak menjelek-jelekkan satu sama lain. Jadi nggak nyari siapa yang paling unggul,” ujarnya.

Untuk ke depannya, Nico berharap bahwa Cangkir Jalanan dapat meningkatkan peminatan orang terhadap kopi di Indonesia dan lebih membudidayakan untuk mengonsumsi kopi lokal.

“Pada dasarnya pengen ningkatin peminat untuk sama-sama nikmatin kekayaan alam Indonesia, salah satunya adalah kopi,” jelasnya.

Sementara itu, Cangkir Jalanan juga menyeduhkan kopi jenis Arabika selama diskusi bagi audiens sehingga mereka dapat menikmatinya sambil mengikuti event ini dengan santai.

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: Angelina Rosalin