Cre.Act.Ive Perlihatkan Perubahan Industri Musik di Indonesia

Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (HIMMA UMN) menggelar seminar Cre.Act.Ive di Lecture Theater, Gedung D UMN pada Jumat (15/03/19). Bekerja sama dengan platform crowdfunding Kolase, HIMMA mengundang tiga narasumber, yaitu (dua dari kiri ke kanan) Noor Kamil (Label Manager Believe Digital for Indonesia), Bayu Adisapoetra (Drummer Elephant Kind), dan Raden Maulana (CEO Kolase.com). (ULTIMAGZ/Ergian Pinandita)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (HIMMA UMN) mengadakan seminar Cre.Act.Ive pada Jumat (15/03/19). Seminar yang berlokasi di Lecture Theater UMN ini bekerja sama dengan kanal crowdfunding daring Kolase. Bayu Adisapoetra selaku drummer band Elephant Kind, Raden Maulana selaku CEO Kolase.com, dan Noor Kamil selaku Label Manager Believe Digital for Indonesia hadir sebagai narasumber dalam seminar ini.

Meski mengangkat tema How to Survive at Creative Industry with Digital Technology, seminar ini lebih menitikberatkan pada industri musik. Dalam era digital ini, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat pergeseran pola konsumsi musik. Jika dahulu mendengarkan musik lumrah dilakukan dengan membeli barang fisik seperti CD atau kaset, kini pendengar lebih memilih mendengarkan musik melalui kanal digital, seperti Spotify, Joox, hingga Youtube.

Pun dengan Elephant Kind yang terbentuk sejak 2013, Bayu melabeli bandnya tersebut sebagai ‘Digital Band’.

“Di era digital, kita tidak melakukan cara konvensional. Kita sudah melakukan semuanya secara digital karena dengan adanya digital, discovery orang ke sebuah band menjadi lebih mudah,” katanya.

Kalimat Bayu merujuk pada semua proses pembuatan musik yang bisa sepenuhnya dilakukan secara mandiri, mulai dari perekaman hingga promosi. Sebutan untuk pemusik yang melakukan semuanya secara independen ini sering dikenal dengan istilah ‘indie’. Fenomena ini sangat mungkin terjadi dengan adanya digitalisasi dari berbagai sektor.

Menurut data yang dimiliki oleh Raden, industri musik Indonesia sedang berada di tengah perubahan yang besar. Salah satunya yakni pendengar lebih memilih berlangganan musik daripada membeli musik. Hal ini berdampak pada penurunan daya beli fisik yang mendorong musisi untuk lebih sering melakukan penampilan. Meski begitu, Ia mengatakan, band tetap bisa ‘hidup’ di tengah gempuran digitalisasi.

“Untuk beberapa musisi sudah mendapatkan hasil yang sangat luar biasa. Tapi (hasilnya) jangan dilihat dari segi revenue saja, tetapi juga dari discovery seperti nyambung ke penggemar yang bisa berdampak pada banyaknya jadwal manggung,” ujarnya.

Baca juga: Menelisik Tren Musik Indie di Indonesia

Untuk tips menjadi band digital yang sukses, Raden mengatakan, “Content is the king, distribution is the queen.” Baik isi maupun distribusi merupakan dua hal yang amat penting. Namun, isi harus menjadi poin penting yang dilihat dalam band digital. Selain itu, konsistensi mengunggah konten juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Band indiependen beraliran folk Hyndia membuka acara Cre.Act.Ive di Lecture Theater, Gedung D UMN pada Jumat (15/03/19). Band beranggotakan tujuh orang tersebut mengawali acara dengan membawakan dua lagu. (ULTIMAGZ/Ergian Pinandita)

Selain berisi paparan materi, seminar ini juga menghadirkan band Hydia sebagai penampil pada awal dan akhir acara.

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Ergian Pinandita