SERPONG, ULTIMAGZ.com – Setiap perguruan tinggi di Indonesia mengikuti Konsep Tri Dharma sebagai landasan kewajiban dalam menyelenggarakan pendidikan. Konsep ini diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 yang mewajibkan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Guna memastikan pelaksanaannya berjalan dengan optimal, setiap perguruan tinggi dipimpin oleh Rektor yang dalam tugasnya didampingi jajaran rektorat.
Konsep Tri Dharma juga termasuk ke dalam Misi dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Pelaksanaannya saat ini dipimpin oleh Dr. Ir. Andrey Andoko, M.Sc. selaku Rektor Universitas.
Baca juga: Krisis Etika dalam Publikasi Akademik, UMN Perlu Berbenah
Ia didukung oleh tiga Wakil Rektor yang memiliki bidang tanggung jawab masing-masing. Adapun struktur rektorat UMN adalah sebagai berikut:
- Dr. Ir. Andrey Andoko, M.Sc., selaku Rektor Universitas
- Prof. Dr. Friska Natalia, S.Kom., M.T., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Internasionalisasi
- Dr. Ika Yanuarti, S.E., M.S.F., CSA., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Employability, dan Kewirausahaan
- Prof. Dr. Florentina Kurniasari T., S.Sos., M.B.A., selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian, Inovasi, dan Keberlanjutan.
Struktur kepemimpinan ini masih tergolong baru karena diresmikan pada Maret 2025. Sebelumnya, UMN dipimpin oleh Rektor Ninok Leksono yang telah menjabat selama 13 tahun. Namun, dalam delapan bulan kepemimpinan Andrey, sejumlah mahasiswa telah merasakan sejumlah perubahan yang signifikan.
Menurut pihak kampus, informasi pergantian rektorat telah disampaikan di beberapa kanal termasuk akun media sosial resmi kampus. Namun, dari sudut pandang beberapa mahasiswa, informasi mengenai pergantian rektorat kerap tidak sampai ke telinga mereka karena cara penyampaiannya tidak cukup jelas.
Jajaran rektorat baru dapat dilihat di situs resmi UMN. Tampak jelas bahwa tidak ada jabatan Wakil Rektor Bidang Keuangan yang sebelumnya dijabat oleh Andrey Andoko dan muncul Ketua Senat dalam jajaran rektorat yang sebelumnya tidak ada.

Kurangnya komunikasi yang bersifat dialogis membuat sebagian mahasiswa merasa tidak dilibatkan dalam proses transisi tersebut. Akibatnya, muncul ketidaktahuan mahasiswa pada jajaran rektorat baru. Selain itu, berbagai perubahan kebijakan yang terjadi setelah pergantian rektorat kerap dilihat sebagai perubahan mendadak, meskipun kampus menganggapnya sebagai bagian dari proses evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
Ketika Informasi Pergantian Rektorat Tak Merata
ULTIMAGZ telah melakukan survei melalui Google Form sejak Senin (29/09/25) hingga Selasa (11/11/25) yang diisi oleh 47 responden untuk mengetahui tingkat kesadaran mahasiswa UMN terhadap pergantian jajaran rektorat. Berdasarkan hasil survei tersebut, 55,3 persen responden setuju bahwa pergantian rektorat merupakan hal yang cukup penting, 31,9 persen menilainya sebagai hal yang sangat penting, 10,6 persen merasa kurang penting, dan 2,1 persen lainnya menyebutkan sebagai hal yang tidak penting sama sekali.
Para mahasiswa menyertakan berbagai alasan mengenai tingkat kepentingan pergantian jajaran rektorat. Salah satunya adalah arah kebijakan kampus yang ditentukan oleh jajaran rektorat akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan, fasilitas, dan kesejahteraan mahasiswa. Selain itu, beberapa mahasiswa menyebutkan bahwa pergantian rektorat diperlukan untuk memberi inovasi baru terhadap kebijakan dan menjalankan visi misi yang mendukung perkembangan kampus.
Namun, hanya sekitar 31,9 persen mahasiswa yang mengetahui informasi pergantian jajaran rektorat melalui situs resmi UMN. Menanggapi hasil survei tersebut, ULTIMAGZ melakukan wawancara dengan Ryo Anthonio Wijaya (Komunikasi Strategis, 2022) sebagai perwakilan mahasiswa UMN.
Ryo menyatakan bahwa pemberitahuan pergantian rektorat masih kurang jelas meskipun ia aktif dalam berbagai organisasi kampus. Menurutnya, komunikasi terkait pergantian pimpinan kampus belum menjangkau mahasiswa secara menyeluruh.
“Sebagai mahasiswa yang aktif di organisasi, isu pergantian rektorat itu sebenarnya sudah terdengar dari dua sampai tiga tahun lalu. Tapi ketika realisasinya terjadi, pemberitahuannya masih kurang jelas. Tiba-tiba ada perubahan, dan kami harus langsung menyesuaikan,” ujar Ryo ketika diwawancarai ULTIMAGZ pada Jumat (28/11/25).
Pengalaman Ryo tersebut mencerminkan temuan survei ULTIMAGZ yang menunjukkan adanya kesenjangan komunikasi antara pihak kampus dan mahasiswa dalam menyampaikan informasi terkait pergantian jajaran rektorat. Meskipun pergantian kepemimpinan dinilai penting oleh mayoritas mahasiswa, informasi mengenai proses, waktu, dan transisi sangat terbatas.
Minimnya komunikasi yang bersifat dua arah ini membuat mahasiswa kesulitan memahami terjadinya perubahan jajaran rektorat. Akibatnya, sejumlah kebijakan yang muncul setelah masa transisi dianggap terjadi secara mendadak, tanpa adanya komunikasi dua arah dan proses yang transparan untuk kebaikan mahasiswa.
Hal ini dapat dilihat dari hasil survei ULTIMAGZ. Sekitar 48,9 persen mahasiswa mengetahui perubahan jajaran rektorat melalui teman atau mahasiswa lain, 31,9 persen dari informasi resmi UMN (situs, surel, media sosial kampus), 4,3 persen dari dosen atau karyawan UMN, 2,1 persen dari artikel ULTIMAGZ, 2,1 persen dari siaran SIMB (OMB) radio, 2,1 persen dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan 8,5 persen tidak mengetahui informasi tersebut.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa arus informasi mengenai pergantian jajaran rektorat lebih banyak beredar melalui jalur word of mouth antarmahasiswa dibandingkan kanal resmi kampus. Ketergantungan pada informasi dari teman atau mahasiswa lain ini berpotensi menimbulkan perbedaan pemahaman serta memperbesar ruang terjadinya penyebaran informasi yang tidak seragam dan resmi.
Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa komunikasi kampus belum sepenuhnya menjangkau mahasiswa secara menyeluruh, terutama dalam menyampaikan informasi strategis yang berdampak pada perjalanan akademik dan kemahasiswaan.
Baca juga: Sidang Terbuka Senat Penerimaan Mahasiswa Baru UMN 2025 Dorong Mahasiswa untuk Terus Berdampak
Minimnya komunikasi ini membuat mahasiswa tidak hanya kesulitan memperoleh informasi yang jelas, tetapi juga kehilangan ruang untuk memahami latar belakang dan tujuan dari pergantian jajaran rektorat. Akibatnya, berbagai perubahan yang terjadi setelah masa transisi kerap dinilai sebagai perubahan secara tiba-tiba, tanpa penjelasan memadai mengenai arah kebijakan yang ingin dicapai oleh pimpinan kampus.
Lebih lanjut, sekitar 57,4 persen mahasiswa merasakan sedikit perubahan kampus setelah terjadinya pergantian jajaran rektorat dan 25,5 persen mahasiswa menyatakan perubahan kampus terasa jelas. Selain itu, 12,8 persen belum merasakan adanya perubahan dan 4,3 persen tidak merasakan perubahan sama sekali.
Berbagai perubahan yang dirasakan oleh 82,9 persen mahasiswa meliputi rangkaian penerimaan mahasiswa baru, sistem Kartu Rencana Studi (KRS), peningkatan dispenser kampus, regulasi bazaar, perubahan jadwal wisuda, dan fasilitas kampus.
Selain itu, sebanyak 20.8 persen responden juga menyinggung kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya Satuan Kredit Semester (SKS). Sebagian mahasiswa berpendapat bahwa kenaikan tersebut terjadi secara mendadak tanpa ada pemberitahuan yang jelas. Beberapa juga mempertanyakan alokasi dana UKT yang dilakukan kampus.
“Biaya kuliah yang naik sangat drastis 700.000 untuk anak DKV tentu tidak sedikit. Dari kenaikan yang drastis tidak merasakan dampak yang signifikan,” ungkap P, mahasiswa jurusan DKV angkatan 2024.
Meski demikian, sebagian mahasiswa tetap merasakan adanya perubahan di lingkungan UMN setelah pergantian jajaran rektorat. Salah satu perubahan yang paling sering disoroti mahasiswa adalah kebijakan, aktivitas kampus, serta perbaikan fasilitas berkaitan dengan isu keberlanjutan atau sustainability.
“Sekarang, lebih ada dosen yang naik jabatan ke bidang riset untuk Sustainable Development Goals (SDGs), ada wakil rektor khusus SDGs juga. Selain itu, UMN lebih vokal dengan kolaborasi dengan korporat yang membicarakan tentang SDGs dan lebih berani kerja sama dengan Non-Governmental Organization (NGO),” ujar Ryo.
“Perubahan untuk Perbaikan”: Penjelasan Rektor UMN soal Struktur dan UKT
Dalam wawancara dengan ULTIMAGZ, Rektor UMN, Dr. Ir. Andrey Andoko, M.Sc. menjelaskan latar belakang kebijakan serta proses komunikasi yang selama ini dilakukan oleh pihak kampus. Menurutnya, tidak semua perubahan yang terjadi di UMN secara langsung berkaitan dengan pergantian jajaran rektorat.

Andrey menyatakan bahwa perubahan kebijakan yang terjadi merupakan bagian dari proses evaluasi yang berkelanjutan. Evaluasi tersebut bertujuan untuk menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan zaman, kebutuhan industri saat ini, serta tantangan global yang dihadapi oleh dunia pendidikan tinggi. Oleh karena itu, ia menilai bahwa perubahan yang terjadi tidak selalu dapat dilihat sebagai dampak langsung dari pergantian jajaran rektorat.
“Perubahan itu ‘kan selalu ada untuk menuju ke perbaikan. Tidak harus selalu mengacu pada pergantian rektorat. Maka ada evaluasi yang terus dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan keilmuan, teknologi, dan kebutuhan ke depan (perguruan tinggi),” ujar Andrey kepada ULTIMAGZ dalam wawancara pada Kamis (11/09/25).
Terkait dengan rendahnya kesadaran mahasiswa terhadap jajaran rektorat yang baru, Andrey mengakui bahwa penyampaian informasi belum sepenuhnya menjangkau seluruh mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa selama ini pihak kampus telah memanfaatkan beberapa media komunikasi, seperti situs resmi UMN, layar informasi kampus, serta hadirnya jajaran rektorat dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua mahasiswa dapat dijangkau melalui media-media tersebut.
“Dengan hadirnya di berbagai acara, memang tidak semua mahasiswa hadir di acara tersebut. Karena itu kami perlu lebih banyak hadir dan memanfaatkan sarana komunikasi yang ada.” tutur Andrey.
Ia menambahkan bahwa keterbatasan waktu dan benturan jadwal kegiatan seringkali menjadi kendala dalam upaya menjangkau seluruh mahasiswa. Walaupun begitu, pihak rektorat terus berupaya meningkatkan komunikasi dua arah dengan mahasiswa.
Selain perihal komunikasi, terdapat beberapa perubahan yang terjadi, termasuk kemunculan Ketua Senat dalam struktur jajaran rektorat di situs resmi UMN. Menanggapi hal tersebut, Andrey menjelaskan bahwa terjadi kesalahan dalam penempatan posisi di situs UMN.
Ia menyatakan bahwa Senat Universitas bukan bagian dari rektorat, melainkan badan yang memiliki fungsi memberikan pertimbangan strategis terhadap kebijakan kampus. Andrey menegaskan bahwa kehadiran Senat bukan hal yang baru, meskipun penyampaian kepada publik sekarang lebih menonjol.
“Senat itu sebenarnya sudah ada dari dulu. Perannya sebagai badan yang memberikan nasihat pertimbangan strategi, sementara rektorat itu sebagai eksekutif yang menjelaskan kebijakan,” ucap Andrey. “Mungkin ada kesalahan dari websitenya (UMN) karena Senat Universitas bukan bagian dari jajaran rektorat, nanti akan kami benarkan,” lanjutnya.
Andrey juga menanggapi perihal kebijakan UKT yang menjadi perbincangan hangat di antara kalangan mahasiswa. UKT menjadi salah satu kebijakan yang dirasakan oleh para mahasiswa karena kenaikannya cukup signifikan.
Andrey menjelaskan bahwa kenaikan UKT merupakan kebijakan yang dilakukan secara berkala dan tidak selalu berkaitan langsung dengan pergantian rektorat. Menurutnya, rata-rata kenaikan tersebut dipengaruhi dengan berbagai faktor, termasuk biaya operasional, gaji, kebutuhan teknologi, serta fluktuasi nilai tukar mata uang.
“Rata-rata kenaikan itu sekitar lima persen. Kenaikan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional, seperti gaji, pembelian perangkat lunak, dan penyesuaian nilai dolar,” ujar Andrey.
Selain itu, Andrey juga menegaskan bahwa pihak kampus berupaya menekan kenaikan UKT agar tidak terlalu membebani mahasiswa. Ia mengatakan bahwa UMN menyediakan berbagai kebijakan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi. Menurutnya, mahasiswa yang mengalami kendala ekonomi juga berkomunikasi dengan pihak kampus melalui layanan Student Service.
Perbedaan pandangan antara mahasiswa dan pihak rektorat terhadap berbagai kebijakan kembali menunjukkan bahwa persoalan utama tidak hanya terletak pada kebijakan yang diambil saja, tetapi juga pada cara kebijakan tersebut dikomunikasikan. Di satu sisi, pihak kampus menilai kebijakan yang diambil termasuk kenaikan UKT sebagai langkah keberlanjutan operasional.
Di sisi lain, mahasiswa berharap adanya penjelasan yang lebih terbuka dan mudah untuk diakses dari pihak kampus mengenai alasan serta alokasi kenaikan biaya pendidikan tersebut. Dari sinilah muncul berbagai harapan mahasiswa terhadap arah jajaran rektorat baru serta komitmen yang diambil oleh rektorat kedepannya.
Komitmen Rektorat di Tengah Harapan Mahasiswa
Melalui pergantian jajaran rektorat UMN, para mahasiswa mengharapkan kebijakan dan perubahan baru yang dapat membawa dampak positif. Harapan ini disampaikan mahasiswa melalui survei Google Form yang telah disebarkan ULTIMAGZ.
“Perubahan atau kebijakan yang paling diharapkan dari jajaran rektorat baru agar berdampak positif bagi mahasiswa biasanya berfokus pada peningkatan kesejahteraan, relevansi akademik, dan transparansi. Secara keseluruhan, mahasiswa mengharapkan rektorat baru untuk fokus pada kebijakan yang tidak hanya meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan kampus yang suportif, inklusif, dan mempersiapkan mereka secara holistik untuk masa depan,” tulis C, mahasiswa jurusan Komunikasi Strategis angkatan 2024.
Mahasiswa juga mengharapkan perubahan kebijakan rektorat mengenai komunikasi dan peningkatan sistem pembelajaran di kampus. Dalam jawaban survei, mereka berharap pihak rektorat dapat memperjelas komunikasi dengan mahasiswa dan lebih transparan mengenai segala kebijakan baru yang akan dibuat.
Selain itu, mahasiswa ingin kampus dapat memperluas kerja sama internasional untuk program magang dan pertukaran pelajar. Mahasiswa juga berharap kampus dapat memaksimalkan potensi mahasiswa melalui kurikulum serta bimbingan dari program studi dan memberikan kebebasan bersuara dalam ruang lingkup politik.
Andrey menjelaskan bahwa rektorat berkomitmen untuk memperbaiki komunikasi antar kampus dan mahasiswa melalui sarana publikasi yang lebih luas. Adapun pengenalan jajaran rektorat juga akan lebih ditekankan dengan hadir di berbagai kegiatan mahasiswa, seperti Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) dan Mister & Miss UMN.
Di sisi lain, Andrey kembali menekankan bahwa pihak kampus selalu terbuka untuk setiap aspirasi yang ingin disampaikan oleh mahasiswa. Beberapa sarana komunikasi yang ia sarankan adalah melalui Student Service atau Bincang Hangat, program rutin rektorat bersama BEM dan Dewan Keluarga Besar Mahasiswa (DKBM).
Forum ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa UMN untuk menyampaikan aspirasi terbuka secara langsung kepada rektorat. Namun, Andrey juga menyebutkan bahwa dirinya terbuka terhadap setiap diskusi di luar forum tersebut.
“Sebenarnya forum seperti ini, saya sih terbuka saja. Jadi kapan saja anda ingin tahu sesuatu, ya tinggal kontak saya aja,” tambah Andrey.
Baca juga: Satgas PPKS UMN Dinilai Redup, Dukungan Sivitas Tak Boleh Hilang
Pergantian jajaran rektorat UMN menjadi momentum penting yang membawa harapan besar bagi mahasiswa terhadap arah kebijakan kampus. Melalui survei dan wawancara yang telah dilakukan, terlihat bahwa mahasiswa tidak menolak adanya perubahan, tetapi menginginkan kebijakan yang lebih berpihak kepada kesejahteraan, relevansi akademik, serta transparansi komunikasi.
Di sisi lain, pihak rektorat telah melakukan komitmen untuk terus melakukan perbaikan, baik dalam kebijakan maupun strategi komunikasi dengan mahasiswa. Meski komunikasi sudah dilakukan di berbagai kanal yang tersedia, kesenjangan persepsi antara kampus dan mahasiswa menunjukkan bahwa komunikasi yang dialogis serta inklusif masih menjadi tantangan utama. Ke depannya, keberhasilan jajaran rektorat baru tidak hanya diukur dari kebijakan yang dilakukan, tetapi juga sejauh mana kebijakan tersebut dapat dipahami, diterima, dan dirasakan bersama oleh seluruh civitas akademika UMN.
Penulis: Celine Valleri, Jocellyn Lee, Reza Farwan
Editor: Jessie Valencia, Jessica Kannitha, Kezia Laurencia
Foto: ULTIMAGZ/Ancilla Maura, Muara Ikhwan Faraaj




