Cashless Parking, Uang Tunai Akan Minggat dari Parkir UMN

parkir
Pembayaran parkir menggunakan uang elektronik di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) akan mulai dilaksanakan pada Minggu (01/03/20). (ULTIMAGZ/Kyra Gracella)
Share:

SERPONG ULTIMAGZ.com-Mulai Maret 2020, sistem pembayaran parkir di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tidak lagi menerima uang tunai. Perubahan ini dilakukan dengan alasan efisiensi waktu.

“Tanggal satu Maret sudah tidak bisa pakai tunai ya,” ujar setiap penjaga parkir sejak awal Februari, memberi tahu bahwa pembayaran parkir UMN akan menggunakan uang elektronik, Flazz atau E-money.

“Parkiran kan suka macet, kalau keluar dan masuknya pakai kartu kan bisa memangkas waktu,” ujar Pemimpin Secure Parking UMN Lisda Eka Dewi ketika ditemui di ruangan Secure Parking, sebelah lobi gedung A, pada Rabu (26/02/20).

Nantinya mahasiswa yang berkendara tinggal menempelkan kartu pada mesin untuk masuk maupun keluar lapangan parkir UMN. Karcis parkir dan uang tunai tidak akan digunakan lagi jika sistem ini sudah berjalan penuh.

“Nanti kalau sudah berlaku, di dalam bilik parkirnya sudah tidak ada orang lagi. Jadi berdiri sendiri, nanti kita paling ada ruangan pemantauannya, jadi kita hanya lihat dari monitor saja,” jelas Lisda.

Masa percobaan sistem nontunai ini pun dilakukan selama satu bulan, mulai 1 Februari dan akan dipraktikkan secara utuh, pada Minggu (01/03/20). Hal ini dilakukan untuk sosialisasi kepada mahasiswa dan menimbang kesiapan sistem.

Mungkin bagi pengendara mobil, kartu Flazz dan E-money memang dibutuhkan, sehingga kebanyakan dari mereka tidak masalah dengan sistem ini. Namun, bagi pengguna sepeda motor yang asing dengan pembayaran elektronik, sistem ini belum berhasil di masa percobaannya.

“Ya di masa percobaan ini memang berat, terutama untuk motor yang biasanya enggak punya kartu. Kalau mobil kan sudah wajib punya kartu, sekarang naik tol dan parkir mobil kebanyakan pakai kartu,” terang Lisda.

Lisda mengatakan masih akan terus memberlakukan percobaan untuk pengendara sepeda motor. Namun, pengurangan penggunaan pembayaran tunai tetap dilakukan dengan pembagian bilik parkir.

“Kita lihat perkembangannya saja dulu, kalaupun berubah paling untuk mobil. Kalau motor ada tunai ada nontunainya, dibagi dua bilik,” tuturnya.

Beberapa mahasiswa mungkin merasa asing dengan sistem ini di kampus. Namun sebenarnya, UMN telah lama melakukan praktik pembayaran nontunai. Pihak Building Management Sudarman Sutanto mengatakan bahwa di waktu tertentu, pembayaran parkir memang sudah menggunakan kartu.

“Ya, sebenarnya pembayaran nontunai ini sudah lama ada. Kita mempromosikan di hari tertentu, seperti hari minggu kalau ada kegiatan cashless,” kata Sudarman.

Sistem pembayaran ini nantinya akan dikembangkan lagi. Sebelum uang elektronik berhasil berkiprah di kampus, rencana pemakaian dompet digital seperti Gopay dan Ovo masih harus disimpan.

Perubahan ini pun menuai pro dan kontra dari mahasiswa.

Salah satu mahasiswa pengguna mobil  Stella Nareswari mengatakan bahwa penggunaan uang elektronik dalam pembayaran parkir memiliki sisi plus dan minusnya. Ia berpendapat bahwa secara tidak langsung peralihan dari tunai ke uang elektronik bisa mendisplinkan mahasiwa untuk lebih simple dan go cashless .

“Plus-minus sih, soalnya secara gak langsung kayak mau mendisplinkan kita (mahasiswa) untuk simple dan go cashless karena dimana-mana sudah go cashless,” terang Stella.

Stella juga mengungkapkan bahwa ia tidak setuju apabila sistem pembayaran dengan uang tunai benar-benar dihilangkan karena membuat mahasiswa kerepotan jika saldo dari uang elektronik mereka habis.

Cuman masalahnya ribet gitu loh kalau benar-benar dihilangin penggunaan cash-nya karena ketika Flazz atau E-money-nya sudah habis saldonya kita engga bisa bayar,” jelas Stella.

Sementara itu, mahasiswa pengguna sepeda motor Rivandy Aulia setuju dengan penerapan penggunaan uang elektronik dalam membayar parkir karena ia sendiri sering menggunakan sistem pembayaran tersebut.

“Menurut gue sih, ok ok aja karena kan gue itu dari awal pakai cashless atau e-money karena gue sebelumnya menggunakan kartu tersebut untuk kendaraan umum,” ujar Rivandy.

Rivandy berpendapat bahwa penggunaan uang elektronik mempermudah mahasiswa, tetapi di satu sisi juga mempersulit mahasiswa bagi mereka yang lebih nyaman dengan menggunkan uang tunai.

“Mempermudah  bagi orang yang mempunyainya (kartu uang elektronik) atau orang yang sudah menggunakannya. Di satu sisi mempersulit bagi orang yang masih nyaman menggunakan cash,” ungkap Rivandy.

 

Penulis: Andrei Wilmar, Fabio Nainggolan

Editor: Abel Pramudya

Foto: Kyra Gracella