Kisah Ketidakadilan Terhadap Buruh dalam Film “Di Balik Frekuensi”

Pemutaran film "Di Balik Frekuensi" pada Kamis (28/4) membuat Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dipenuhi mahasiswa UMN dan luar UMN.
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Commpress 2016 pada hari ketiga pelaksanaan menampilkan film dokumenter berjudul “Di Balik Frekuensi” di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Kamis (28/4) lalu. Pada sesi screening film ini, Commpress 2016 juga menghadirkan Luviana Ariyanti, yang merupakan orang utama dibalik film tersebut.

Film ini menampilkan sosok Luviana, mantan jurnalis Metro TV yang diperlakukan tidak adil karena mengajukan beberapa tuntutan. “Di Balik Frekuensi” berkisah tentang ketidakadilan yang didapat oleh buruh-buruh idealis di balik layar. Mereka menentang konten-konten penyiaran yang tidak memiliki newsworthy, seperti memunculkan menteri-menteri dari partai tertentu yang tidak ada kaitannya dengan program yang disiarkan. Beberapa kali pula pemilik media yang sekaligus politikus partai menggunakan blocking time untuk menyiarkan liputan demi kepentingannya.

Ada tiga tuntutan yang diberikan wanita yang kerap disapa Luvi ini, yaitu adanya reformasi manajemen, pembentukan serikat pekerja Metro TV, serta kenaikan gaji karyawan. Semua bukan tanpa alasan. Luvi menyatakan bahwa ia bekerja selama sepuluh tahun dengan gaji di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

Setelah mengajukan tuntutan tersebut, Luvi dipindahkan ke bagian Human Resources Department (HRD). Namun, Luvi menolak posisi tersebut sehingga ia di-non-job-kan, bahkan dipecat setelahnya.

Luviana yang saat ini mencari upah sebagai kontributor Kantor Berita Radio (KBR) dan penggagas situs online feminis konde.co ini, tidak lantas menyerah meski mendapat tekanan sana-sini. Selama beberapa bulan dan dengan bantuan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI),  Luvi memperjuangkan kasus ini hingga berujung pada pemecatannya akhir Juni 2012.

“Kalau aku nyerah juga, ini akan terjadi pada teman-teman yang lain,” katanya dalam film tersebut.

Pembuatan film ini merupakan inisiatif Luvi bersama rekannya Ucu Agustin. Serupa dengan pembuatan film investigasi, Luvi beberapa kali menggunakan kamera tersembunyi di jam tangan, pin, dan kamera yang diletakkan dalam kotak pensil transparan miliknya.

“Kalau ini ketahuan, kita tanggung bareng-bareng ya, Cu,” ujar Luvi menirukan ucapannya kepada Ucu kala pembuatan film ini masih berlangsung. Mujur bagi Luvi, film ini selesai dan telah diputar berkali-kali sejak tahun 2012.

Tidak hanya dihadiri mahasiswa UMN, pemutaran film yang dilakukan tanpa pungutan biaya ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari luar UMN.

Penulis: Kezia Maharani Sutikno

Editor: Alif Gusti Mahardika

Fotografer: Angelina Rosalin