Seminar Commpress 2019: Peliputan Jurnalisme Damai Butuh Teknik Khusus

Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Nani Afrida merupakan salah satu pembicara seminar Commpress 2019 bertajuk "Jurnalisme Damai: Peliputan Bencana, Konflik, dan Keberagaman" di Lecture Theater Universitas Multimedia Nusantara pada Rabu (08/05/19). (ULTIMAGZ/Anisa Arifah)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Memahami bahwa peliputan bencana alam dan konflik memerlukan pedoman dan persiapan khusus, COMMPRESS 2019 menyelenggarakan seminar bertajuk “Jurnalisme Damai: Peliputan Bencana, Konflik, dan Keberagaman”. Menurut Koresponden CNN Indonesia TV Albi Pratama, alih-alih menginformasikan ke masyarakat, kesalahan dalam peliputan konflik dapat memperbesar jurang perbedaan sehingga diperlukan teknik peliputan jurnalisme damai.

“Jurnalisme damai adalah segala usaha yang dilakukan jurnalis untuk menjadi sumber informasi yang akurat, menjadi suatu confront social, dan bisa memberikan dampak yang baik bagi masyarakat,” ujar Albi di Lecture Theater Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Rabu (08/05/19).

Senada dengan Albi, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Nani Afrida mengatakan bahwa dalam konflik, tentu semua pihak menginginkan perdamaian. Oleh karena itu, media juga memiliki tugas dalam manajemen konflik.

“Konflik biasanya butuh waktu untuk selesai sehingga dalam mengisi waktu tersebut penting menciptakan iklim opini yang baik untuk menghindari korban yang jatuh. Di sinilah jurnalis mengambil perannya,” jelas Nani yang berkecimpung dalam peliputan konflik.

Menurut Nani, iklim opini yang baik tak hanya diterapkan dalam peliputan konflik, tetapi juga pada peliputan bencana alam. Keterikatan emosi jurnalis dengan lokasi bencana alam dapat menimbulkan kepanikan saat meliput.

“Masalah yang dihadapi sekarang adalah susah untuk tidak bias, terutama wartawan lokal. Ketika meliput peringatan satu tahun tsunami Aceh, saya mengambil gambar sambil menangis sebagai orang asli Aceh dan teringat peristiwa luar biasa itu,” ungkap Nani.

Kepanikan dan keterikatan emosi pada saat peliputan konflik maupun bencana alam dapat menghasilkan karya jurnalistik menjadi bias. Oleh karena itu, tak hanya mempersiapkan materi, seorang jurnalis juga harus mempersiapkan aspek psikologisnya.

“Ketika meliput tsunami Banten pada 2018 lalu, beredar isu air laut naik sehingga warga panik menyelamatkan diri. Awalnya saya ikut panik, tetapi dalam jurnalisme damai dipenuhi awareness terhadap lingkungan sehingga tidak ada kepanikan. Ternyata yang dicurigai sebagai tsunami susulan hanya awan,” cerita Nani. Ia menambahkan, seorang jurnalis peliput bencana harus siap mengahadapi risiko.

“Kita sebagai jurnalis mempersiapkan diri di lapangan dan menjadi siap menghadapi risiko yang ada sehingga bisa menerapkan prinsip jurnalistik dalam produk yang dihasilkan,” pungkasnya.

Dalam seminar tersebut, turut hadir jurnalis foto Agence France-Presse (AFP) Adek Berry dan penyiar berita Kompas TV Timothy Marbun yang juga membagikan pengalaman mereka ketika meliput peristiwa konflik dan bencana alam.

 

Penulis: Agatha Lintang

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Anisa Arifah