Serpong, ULTIMAGZ.COM– Jepang mempunyai berbagai tradisi dan festival menarik yang memperingati berbagai macam hal. Beberapa yang sering dibicarakan mencakup festival musim panas, festival musim dingin, dan lain sebagainya untuk menandakan pergantian musim. Namun, apakah Ultimates pernah mendengar tentang festival kesuburan khas Jepang?
Kanamara Matsuri atau festival Kanamara merupakan sebuah festival tradisional yang digelar setiap tahun di Kawasaki, Prefektur Kanagawa, Jepang. Festival ini dikenal sebagai “Festival of the Steel Phallus” dan bertujuan untuk merayakan kesuburan, kesehatan, serta memberikan doa perlindungan bagi pasangan, keluarga, maupun masyarakat yang sedang berusaha memiliki keturunan, dilansir dari japan.travel.
Baca Juga: Etika Berdiri di Eskalator di Jepang, Apa Kisah Dibaliknya?
Kisah festival ini berawal dari era Edo dan terhubung dengan Kuil Kanayama Jinja. Kuil ini didedikasikan untuk dewa pelindung para pekerja logam, pasangan yang ingin memiliki anak, serta mereka yang mendoakan kesehatan organ reproduksi. Awalnya, festival ini merupakan tempat pekerja seks lokal bisa berdoa kepada para dewa dan memohon perlindungan dari penyakit dan kembali suci, dilansir the-independent.com.
Seiring waktu, makna festival meluas hingga mencakup edukasi kesehatan, terutama mengenai penyakit menular seksual, sekaligus menjadi ajang penggalangan dana untuk berbagai program kesehatan publik.
Setiap tahunnya, Kanamara Matsuri menjadi tujuan ribuan pengunjung lokal maupun internasional. Selain mengikuti keramaian festival, para pengunjung juga dapat menjelajahi tiga mikoshi atau kuil portabel yang masing-masing dibentuk menyerupai organ reproduksi laki-laki sebagai simbol kesuburan. Ketiga mikoshi ini biasanya diarak berkeliling kawasan Kuil Kanayama Jinja, dan setiap mikoshi memiliki warna, ukuran, serta cerita simbolisnya sendiri, dilansir dari kompas.com.
Baca Juga: Mengenal Hikikomori, Fenomena Isolasi Diri yang Umum di Jepang
Di luar arak-arakan utama, pengunjung juga dapat mencoba berbagai aktivitas khas festival, seperti termasuk permen, lilin, dan dekorasi berbentuk alat reproduksi laki-laki yang dijual oleh para pedagang lokal. Banyak pengunjung juga menjadikan festival ini sebagai kesempatan untuk berfoto, menikmati makanan musiman, serta belajar tentang sejarah Kanayama Jinja dan kaitannya dengan doa perlindungan, kesehatan reproduksi, dan tradisi kesuburan di Jepang.
Kini, Kanamara Matsuri tidak hanya berfungsi sebagai ritual kepercayaan, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya dan kesehatan. Festival ini menjadi contoh bagaimana tradisi lama dapat dipertahankan sekaligus diberi makna baru yang relevan dengan kehidupan masa kini. Jadi, apakah Ultimates tertarik dengan festival ini?
Penulis: Belva Putri Paramitha
Editor: Kezia Laurencia
Foto: validnews.id
Sumber: japan.travel, the-independent.com, kompas.com




