Aksi Dalang Sujiwo Tejo dalam Balutan Sabdo Pandito Rakjat

Sujiwo Tejo menarasikan alur cerita Arjuna melawan Karna di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Sabtu (03/12/2016). Pemeragaan narasi cerita ini dibantu oleh adanya dua pemain wayang orang di balik sebuah layar.
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Bakti Budaya Djarum Foundation, Indonesia Kita, menyelenggarakan pentas ke-22 sekaligus terakhirnya pada tahun 2016 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2-3 Desember 2016. Bertajuk Sabdo Pandito Rakjat, Indonesia Kita mengangkat tema dunia pewayangan pada pementasannya dan turut menampilkan aksi dalang kenamaan Indonesia, Sujiwo Tejo.

Selain dipercaya menjadi sutradara pada pertunjukan teater ini. Sujiwo Tejo juga memainkan peran sebagai suami dari Kunti yang merupakan salah satu ilustrasi dari dunia pewayangan. Adapun ia juga menjadi ayah dari Akbar, salah satu lakon yang diceritakan memperebutkan peran menjadi Arjuna dalam sebuah pementasan wayang orang.

Usai terlibat dalam beberapa adegan yang menceritakan perebutan peran Arjuna oleh Akbar dan Cak Lontong, Sujiwo Tejo akhirnya menampilkan aksi tunggal dalangnya menjelang akhir pementasan.  Lengkap dengan kotak dogdogan (kotak penghasil suara ketukan dalang), Sujiwo Tejo beraksi dengan sangat menghayati narasinya dan mengucapkan dialog cerita wayang tentang pertengkaran Arjuna dan Karna di layar belakangnya.

Setelah menampilkan aksi dalangnya, penulis buku Republik #Jancukers ini kemudian menceritakan secara sederhana tentang ilustrasi pertengkaran Arjuna dan Karna dan relevansinya dengan Sabdo Pandito Rakjat. Adapun ceritanya juga secara tidak langsung menggambarkan situasi politik Indonesia saat ini.

“Sampai sekarang, tak ada yang tahu siapa yang mati ini (sambil menunjuk layar pertunjukan wayang), entah Arjuna ataukah Karna. Jangankan engkau, engkau, dan engkau (sambil menunjuk ke arah pemusik dan penonton), dalang pun tak tahu,” seru Sujiwo Tejo memanaskan suasana.

Mengacu pada pementasan malam tersebut, Sujiwo Tejo tak lupa menyampaikan inti dari Sabdo Pandito Rakjat yang merupakan tafsiran dari karya maestro dalang wayang kulit Indonesia Ki Nartosabdo.

“Kunti adalah perwakilan dari suara rakyat. Menyaksikan mereka yang berebut kekuasaan,” jelasnya.

Sujiwo Tejo menceritakan tentang relevansi ilustrasi pertengkaran Arjuna dan Karna dalam dunia wayang dengan pementasan "Sabdo Pandito Rakjat" yang menggambarkan situasi politik Indonesia saat ini.
Sujiwo Tejo menceritakan tentang relevansi ilustrasi pertengkaran Arjuna dan Karna dalam dunia wayang dengan pementasan “Sabdo Pandito Rakjat” yang menggambarkan situasi politik Indonesia saat ini.

Benang merah dari Sabdo Pandito Rakjat adalah adalah pentingnya suara dari sosok yang berpengaruh sebagai perwakilan aspirasi rakyat. Dalam hal ini ilustrasinya adalah Kunti, seorang ibu yang sedih meilhat Arjuna dan Karna, kedua putranya yang melakukan pertarungan maut.

Sabdo Pandito Rakjat dalam pementasan Indonesia Kita kali ini sukses dikemas secara menarik dan mengundang gelak tawa. Adapun juga memberi kritikan secara halus soal kondisi Indonesia saat ini dengan balutan khas teater komedi.

Selain Sujiwo Tejo, Akbar, dan Cak Lontong, lakon-lakon pementasan ini diisi oleh beberapa tokoh terkenal lainnya, seperti Happy Salma yang memerankan Kunti, Didik Nini Thowok, Marwoto, Trio GAM (Gareng, Joned, Wisben), Butet Kartaredjasa, Sruti Respati, Bonita, Gita Sinaga, Joe Kriwil, hingga Inayah Wahid, putri dari Presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid.

 

Penulis: Richard Joe Sunarta

Editor: Christoforus Ristianto

Fotografer: Roberdy Giobriandi