Brigade Orgil: Cermin Politik yang Sarkastis Berbalut Satir

Penampilan menghibur dari para pemeran pentas Indonesia Kita 2018 bertajuk "Brigade Orgil" yang diperankan oleh sejumlah tokoh papan atas seperti Cak Lontong, Bedu, Akbar Marwoto, Mucle Katulistiwa, dan masih banyak lainnya. Pentas ini juga didukung oleh mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Acara ini diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya TIM, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/18). (ULTIMAGZ / Billy Dewanda)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Prolog dari produser pentas Butet Kartaredjasa telah mengantarkan benang merah dan nyawa satir politik yang akan dihadirkan pada produksi Indonesia Kita ke-29 bertajuk Brigade Orgil, pada Sabtu (11/08/2018).

Seperti biasa, pementasan selalu dihantar dengan tarian tradisional khas Indonesia. Kali ini tarian yang menjadi usungan sepanjang pertunjukan adalah tari topeng. Sesuai dengan jalannya cerita berunsur nian politik dan kekuasaan, topeng menjadi pilihan yang sangat tepat sebagai representasi pengantar metafora.

Topeng dapat diartikan sebagai penyembunyi hasrat agar terlihat tidak seperti rupa asli, setiap orang memiliki topengnya masing-masing. Seringkali berganti topeng tiap saat bertemu dengan orang yang berbeda.

Lalu, diteruskan dengan pemakaian properti kardus sebagai unsur awal yang cukup membingungkan, namun berakhir tidak pada proporsi yang sia-sia. Kardus dapat dicapai sebagai artian ‘Jenderal Kardus’ yang nilai relevansinya sangat tinggi saat ini.

Kardus dapat diinterpretasikan sebagai otak kosong atau dalam pembahasan ini yakni sebagai pejabat-pejabat yang tak tahu apa yang mereka kerjakan, namun hanya mengejar keuntungan dan kekayaan semata.

Cak Lontong, Bedu, dan Akbar yang bermain dalam lakon bertajuk Brigade Orgil. Menceritakan isu politik yang dekat dengan masyarakat sekarang ini. (ULTIMAGZ/ Billy Dewanda)

Langgam yang Menjamu Politikus

Cerita yang tidak terlalu kompleks, namun menghadirkan deretan pemain yang tak bisa mati. Pengawalan cerita kemunculan Inayah Wahid yang ingin menjadi penyanyi, tetapi sang ayah Marwoto menginginkan anak perempuannya menjadi seorang politikus.

Di kubu lain, seorang pemimpin Cak Lontong sedang mencari penggantinya untuk maju sebagai seorang pemimpin di pemilihan periode berikutnya. Singkatnya, ia bertemu Bedu dan menjadikannya legasi.

Namun, kiat-kiat seperti cerminan politik masa kini, ketika pada kenyataan banyak anak politikus yang menikah dengan anak politikus lain—dengan dalil perjanjian dapur politik praktis. Itu pun terjadi pada Bedu dan Inayah. Mereka saling jatuh cinta.

Gelutan dan canda satir sindiran selalu dimunculkan oleh setiap langgam yang hadir pada paruh-paruh kisah Brigade Orgil. Bersua pada kata ‘Orgil’ kependekkan dari orang gila—Semua lakon yang hadir di sini memang orang yang dikategorikan sakit jiwa.

‘Ketidakwarasan’ di sini diartikan sebagai keserakahan yang mampang dan lapang, ketidakseimbangan dan di luar nalar, juga hasrat keegoisan pemimpin yang tidak didasari dengan pengetahuan yang cukup.

Semua representasi ide-ide Brigade Orgil sangat berhasil mencuit semua peristiwa-peristiwa yang dinilai bodoh dan tidak masuk akal pada kejadian politik di negeri ini—yang kemudian memproses tiap adegan menjadi sebuah lakon sarkastis yang menghibur.

 

Penulis: Felix

Editor: Hilel Hodawya

Foto: Billy Dewanda