Creatifest 2019 Pamerkan Bisnis-bisnis Langka

Seorang mahasiswa menjelaskan produk bisnisnya dalam acara Creatifest x BLIDz 2019. Acara ini merupakan pameran bisnis mahasiswa/i Prasetiya Mulya yang diselenggarakan di Mall Taman Anggrek pada Sabtu (17/08/19) hingga Minggu (18/08/19) dan terbuka untuk umum. (ULTIMAGZ/Caroline S)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com Creatifest kembali hadir dengan memamerkan lebih dari 31 tenant bisnis mahasiswa semester 4 Prasetiya Mulya di Mall Taman Anggrek, Sabtu (17/08/19) dan Minggu (18/08/19). Tahun ini, Creatifest mengusung konsep Scarcity yang berarti kelangkaan.

Ketua Creatifest 2019 Brandon Buntario mengatakan bahwa konsep ini diusung karena di dunia ini banyak kelangkaan yang terjadi. Oleh karena itu, ia ingin kesadaran tersebut timbul setelah adanya acara ini.

“Harapannya, tema ini bisa menaikkan beberapa awareness dari orang-orang mengenai scarcity apa saja sih yang ada di dunia ini. Semoga ini bisa jadi solusi dari scarcity itu sendiri,” ujar Brandon.

Brandon Buntario, Ketua Penyelenggara Creatifest 2019, mengadakan pameran bisnis mahasiswa/i Prasetiya Mulya yang terdiri dari berbagai bisang, mulai dari beauty and fashion, chemicals, craft, applications, dan makanan. (ULTIMAGZ/Caroline S.)

Dengan diangkatnya tema Scarcity, berbagai bisnis yang dipamerkan di Creatifest 2019 memang mengandung unsur langka. Tidak hanya langka secara barang jadi yang diperjualbelikan, tetapi juga langka dalam bahan yang digunakan. 

Selain memamerkan tenant mahasiswa, Creatifest 2019 juga menyelenggarakan talkshow dan workshop sesuai dengan topik kelangkaan yang mereka angkat tahun ini. Dengan beberapa rangkaian acara tersebut, Brandon mengharapkan ada setidaknya 15.000 pengunjung Creatifest tahun ini.

“Pada tahun sebelumnya juga segitu, jadi tahun ini optimis bisa mencapai target tersebut,” ujar Brandon.

Mahasiswa yang dapat mengisi tenant di Creatifest 2019 adalah mahasiswa semester 4 yang mengambil mata kuliah business development. Selain itu, ada pula mahasiswa semester 2 yang mengambil mata kuliah analytic and creative thinking. Mereka memamerkan prototype bisnis yang mereka buat. Harapannya, mereka dapat bertemu investor di acara ini agar bisa menjalankan bisnis tersebut.

Adapun produk bisnis yang dipamerkan oleh mahasiswa semester 4 ini dibagi menjadi 6 kategori, yaitu chemical, food and beverages, application, craft, fashion, dan beauty.

Berikut tiga contoh tenant yang hadir dalam Creatifest 2019.

1. KLENZ

KLENZ, bisnis yang memproduksi pembalut bebas dari bahan klorin yang ramah lingkungan. (ULTIMAGZ/Caroline S)

Klenz merupakan produk kategori chemical yang dipamerkan dalam Creatifest 2019. Merek ini memproduksi pembalut yang ramah lingkungan. Produk mereka telah diuji dan dinyatakan bebas dari bahan chlorin yang dapat menyebabkan keputihan. Dalam produknya, Klenz juga memanfaatkan bungkus dari produk pembalutnya agar bisa digunakan untuk menyimpan pembalut bekas pakai dengan harapan tidak dibuang sembarangan.

2. MOKUZAI

MOKUZAI, salah satu produk craft yang memproduksi sebuah kerajinan yang memiliki fungsi untuk menyimpan barang-barang yang mudah hilang. (ULTIMAGZ/Caroline S.)

Mokuzai menjadi salah satu produk craft yang ada di Creatifest 2019. Mokuzai memproduksi sebuah kerajinan yang memiliki fungsi untuk menyimpan barang-barang yang kerap hilang, seperti kunci, jam tangan, maupun dompet. Dalam memproduksi kerajinan tersebut, Mokuzai menggunakan kayu Belanda bekas pilihan. Mereka mendapatkan kayu-kayu tersebut dari kayu sisa yang tak terpakai di beberapa pelabuhan.

3. WEARALTER

Luaran berbahan dasar kain lurik dan linen khas dari Kota Yogyakarta ini dipadukan dengan mode modern dengan tujuan melestarikan kain tersebut. (ULTIMAGZ/Caroline S)

Wearalter merupakan salah satu contoh produk fashion yang hadir di Creatifest 2019. Produk ini terbuat dari kain lurik yang berasal dari Jawa Tengah. Dengan tujuan untuk melestarikan kain tersebut, Wearalter mengombinasikan kain lurik dengan model pakaian kekinian, seperti luaran. Selain itu, Wearalter juga memproduksi totebag dengan bahan dasar yang masih sama, yaitu kain lurik.

 

Penulis: Adrianus Dwi Octaviano

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Caroline Saskia