Curahan Hati Hannah Al Rashid di Women’s March 2018

Hannah Al Rashid mendukung aksi membela wanita dalam acara Women's March yang diadakan di kawasan MH Thamrin dengan ikut membaca sebuah puisi bertajuk "Because We're Women" karya Joyce Stevens di Taman Aspirasi, Jakarta Pusat, Sabtu (03/03/2018).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com Tahun ini aktris Hannah Al Rashid kembali turun ke jalan mendukung aksi bela wanita dalam acara Women’s March 2018, sekaligus membacakan puisi bertajuk Because We’re Women di panggung Taman Aspirasi, Monumen Nasional, Jakarta Pusat, pada Sabtu siang (03/03/2018).

Aksinya kali ini ditemani oleh poster yang telah ia bawa dan persiapkan semalam sebelum acara yang dihadiri lebih dari 500 orang peserta tersebut. Bertuliskan “Aurat Gue Bukan Urusan Lo! Stop Victim Blaming, Stop Pelecehan Seksual”.

“Terutama kalau berbicara soal pelecehan, maka poster aku tujuannya untuk ituuntuk tidak victim blaming,” ujar Hannah.

“Saya kan berhak memakai baju apa pun yang saya mau. Saya pakai baju tertutup saja, saya mengalami pelecehan. Kalau saya membicarakannya, saya selalu dibilang ‘makanya tutup aurat’,” lanjut wanita kelahiran London itu.

Dirinya menegaskan bahwa cara berpakaian perempuan bukan lagi menjadi solusi untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual. Ia mengaku saat sudah memakai busana yang tertutup saja masih mendapat perlakuan yang senonoh.

Hannah menyampaikan pula jika teman-temannya yang memakai jilbab sekalipun tidak membuat mereka kebal dari tindak pelecehan.

So you have to stop dengan urusan aurat. Tidak ada hubungannya. Itu juga bukan solusi,” tegasnya.

Naskah pusisi bertajuk “Because We’re Women” karya Joyce Stevens (1975) yang dibacakan langsung oleh Hannah Al Rashid dalam rangkaian acara Women’s March 2018 siang itu.

Salah satu penggerak Sustainable Development Goals (SDG) untuk kesetaraan gender ini juga menyuarakan curahan hatinya lewat puisi karya aktivis Joyce Stevens yang ia bacakan di panggung Taman Aspirasi, kawasan M.H. Thamrin.

“Dari puisi Joyce Stevens sendiri yang aku lihat: tipikal orang yang selalu nge-judge perempuan, dan perempuan selalu serba salah,” jelas wanita berusia 32 tahun itu.

“Mau mencapai karier, dibilang salah. Mau nikah saja, dibilang salah.” tukas Hannah.

Ia turut menambahkan bahwa perempuan Indonesia selalu ada dalam posisi yang serba salah, dan menurutnya sudah waktunya untuk memberikan perlawanan terhadap paradigma semacam itu.

Dalam dunia industri hiburan pun, Hannah menceritakan jika ada beberapa teman yang memberitahunya bahwa banyak klien yang risih karena melihat dirinya terlalu political dan opinionated.

Kalau klien yang visinya seperti itu, kayaknya aku juga tidak mau terikat dengan orang yang tidak menghargai a freedom of expression dan strong women yang punya opini,” tutupnya.

Penulis: Felix

Editor: Gilang Fajar Septian

Fotografer: Angelina Rosalin