Kesamaan Dangdut dan Politik dalam ‘Princess Pantura’

Agus Noor penulis naskah dan sutradara andalan hampir seluruh pertunjukan panggung Indonesia Kita. (Ultimagz / Aldo Sitanggang)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Indonesia Kita kembali menyampaikan pesan tentang fakta-fakta yang terjadi di Indonesia dengan menggelar lakon Princess Pantura pada Jumat (20/04/18) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pementasan Indonesia Kita kali ini mengangkat hal yang sering terjadi pada masa pilkada maupun pemilu, yaitu musik dangdut dengan penyanyi perempuan yang dimanfaatkan untuk menarik perhatian masyarakat.

“Situasi menjelang pilkada (dan) pemilu, kan ada panggung kampanye dan membutuhkan artis-artis dangdut, itulah hubungan musik dangdut dan politik. Keduanya memiliki kesamaan, mestinya menyatukan,” jelas Agus Noor selaku sutradara pementasan Indonesia Kita.

Dirinya juga mengungkapkan pesan bahwa politik tidak hanya soal perebutan kekuasaan, tapi juga untuk menggembirakan. Sama halnya seperti dangdut.

“Demokrasi kita seperti itu demokrasi yang menyenangkan bukan saling memanfaatkan, dangdut mestinya menyatukan, satu musik dan bahasa bersama,” terang Agus.

Agus menambahkan kalau Indonesia Kita membuat karya berdasarkan fakta yang ada. Latar kultural menjadi dasar dari karya-karya yang dikemas Indonesia Kita, contohnya seperti kebudayaan Batak pada pementasan Maret lalu.

“Kita bisa mengemas dangdut menjadi tontonan yang mengasikkan, bukan sekedar kompetisi-kompetisi yang ada di televisi. Potensi artisik karya seni dangdut sendiri sangat potensial,” terang Agus akan penggunaan dangdut sebagai tema pementasan.

Pria kelahiran Tegal tersebut berpendapat kalau dangdut merupakan kebudayaan yang terbuka dan menghibur.

“Dangdut itu budaya yang mengasikkan penuh ekspresi dari hukum hingga kemiskinan,” tuturnya.

Sruti Respati salah satu pemeran dalam Teater Princess Pantura. (Ultimagz / Felisitasya Manukbua)

Sruti Respati sebagi aktris yang memerankan biduan dari Pantura beranggapan baik-buruknya saweran dangdut bergantung pada sudut pandang penerimaannya.

“Kalau kita melihatnya dari sisi positifnya akan menjadi positif. Misal ada orang yang lihat pertunjukan dangdut lalu suka dengan musik dan pertunjukannya tentu dia akan memberi apresiasi yang lebih pada pertunjukan, maka dia memberi saweran,” ucapnya.

“Ada juga pada masa tertentu seperti masa pemilihan wakil rakyat, dangdut menjadi salah satu cara yang efektif untuk memperoleh suara rakyat, dengan memberi saweran kepada musisi, penyanyi,” lanjut Sruti. “Dengan begitu masyarakat beranggapan bahwa calon wakil rakyat tersebut murah hati, sehingga memilih orang tersebut memilih calon tersebut,” tambahnya mengenai dangdut yang kerap digunakan pada masa pilkada atau pemilu.

“Menganggapi saweran harus bijak dalam menyikapinya mau menerima, memberi, maupun mempergunakannya,” tutup Sruti.

 

Penulis : Theresia Amadea

Editor : Gilang Fajar Septian

Foto : Felisitasya Manukbua & Aldo Sitanggang