Keterbukaan Informasi Mudahkan Proses Pembuatan Film Kartini

Sutradara film Kartini Hanung Bramantyo dalam penjelasannya di konferensi pers film Kartini di La Moda Cafe Plaza Indonesia, Rabu (05/04/17).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Dalam rangka memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April, Legacy Pictures menghadirkan sebuah film berjudul Kartini. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini akan segera tayang di bioskop mulai tanggal 19 April 2017.

Dalam acara konferensi pers yang diselenggarakan di La Moda Café, Plaza Indonesia, Jakarta pada Rabu (03/04/17), produser Robert Ronny mengungkapkan alasannya memilih kisah hidup pahlawan Kartini untuk diangkat menjadi film. Menurutnya, perjalanan hidup Kartini bisa menginspirasi masyarakat Indonesia untuk membawa perubahan melalui pendidikan.

“Saya termasuk salah satu orang yang percaya sekali bahwa pendidikan salah satunya cara untuk mengubah nasib bangsa kita. Dan kartini sebagai tokoh pendidikan menurut saya kurang banyak di-expose. Kita ingin membuat sebuah film biopic yang sedikit berbeda, bukan hanya sekedar mejelaskan sejarahnya saja,” tutur Robert.

Tidak seperti kisah Kartini yang pada umumnya diceritakan melalui lembaga pendidikan, film Kartini menyuguhkan perjuangan Kartini yang berbeda dan lebih mendalam. Berbagai fakta baru yang belum banyak diketahui sebelumnya muncul dalam film tersebut. Pikiran dan perasaan Kartini menjadi sudut pandang utama yang cukup menarik perhatian.

Sutradara Hanung Bramantyo mengaku telah mencari sumber referensi yang cukup banyak untuk membuat film Kartini. Beberapa buku yang melatarbelakangi ide pembuatan film tersebut antara lain Habis Gelap Terbitlah Terang dan buku biografi Kartini karya Siti Soemandari.

“Dua buku ini yang sebenarnya melatarbelakangi. Terus ditambah dengan buku Pak Pram, Panggil Aku Kartini Saja, yang membuat saya pada akhirnya memutuskan memilih angle Kartini yang seperti ini,” ujar Hanung.

Hanung mengatakan, pasca reformasi informasi sudah terbuka dan banyak sekali data-data baru yang kini sudah mulai beredar, salah satunya adalah surat-surat Kartini yang kini sudah direvisi. Dari data-data tersebut, ia menemukan fakta baru bahwa tantangan yang dihadapi bukan dari pihak Belanda, tapi justru dari anggota keluarga dan tradisinya sendiri.

“Saya menemukan obstacle-nya Kartini di bukunya Elisabeth Keesing yang judulnya Kartini. Jadi ternyata obstacle-nya Kartini itu bukan orang Belanda, tapi malah kakaknya sendiri, pak de sendiri, dan segala macam,” jelasnya.

Menurut Hanung, saat ini banyak sekali referensi yang muncul untuk membuat film biografi yang representatif dan populer. Ia berharap, melalui film ini akan ada kemajuan baru dalam pembuatan film biografi.

“Kami sebetulnya sedang melakukan investasi kepada generasi sekarang bahwa film Kartini ini sebagai sebuah prototype film biopic modern dengan tafsir yang sangat kekinian,” tuturnya.

Penulis: Hilel Hodawya

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: Elvira Lisa