JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pementasan Indonesia kita kembali lagi dengan lakon “Kanjeng Sepuh” yang diadakan perdana pada Jumat lalu (22/03/19). Dengan tema utama “Jalan Kebudayaan Jalan Kemanusiaan”, pementasan bercerita tentang sosok Kanjeng Sepuh yang bertingkah seperti anak-anak padahal usianya sudah tua.
Bertempat di Taman Ismail Marzuki, penulis naskah pementasan Agus Noor menjabarkan orang dewasa jangan sampai kehilangan kebahagiaan jiwa anak-anak dalam dirinya.
“Seperti apa yang dikatakan Yoko Ono, orang dewasa itu punya masalah, kita menjadi dewasa itu hal yang pasti, tapi berjiwa anak-anak, tidak kehilangan kebahagiaan itu harus dipertahankan,” jelas Agus tentang lakon ke-31 pementasan Indonesia Kita.
Menurut dirinya pertunjukan kali ini menunjukan bahwa dunia kanak-kanaklah yang membuat dunia ini indah.
“Dunia hanya permaian, dunia anak-anak. Dunia ini hanya main-main, yang serius adalah kematian,” tungkasnya.
Pemeran Kanjeng Sepuh, Sujiwo Tejo mengungkapkan karakter dirinya merupakan sosok panutan secara spiritual di komunitasnya. Menurut Tejo, yang menjadi masalah bagi masyarakat masa kini adalah tuntutan untuk menjadi dewasa.
“Penyakit orang masa kini adalah terlalu cepat menjadi dewasa, menjadi tua dan dewasa sekaligus dan kehilangan sisi kanak-kanak,” tutur Tejo setelah pementasan.
Dia juga menambahkan dirinya sebagai laki-laki menyalahkan perempuan perihal tuntutan menjadi dewasa.

Salah satu pemeran Soimah, mengatakan bahwa perempuan tidak ada tuntuan menjadi dewasa. Karena sudah dilahirkan menjadi dewasa.
“Menurut saya dengan berjalannya waktu itu (kedewasaan) sudah berjalan otomatis, enggak perlu dituntut,” ungkap Soimah.
Lakon “Kanjeng Sepuh” menceritakan tentang masyarakat yang mencari sosok pemimpin yang disebut titisan Srikandi untuk menjadikan negaranya makmur dan tenteram. Petuah tersebut muncul dari sosok Maworto yang diberi wahyu dari Semar, salah satu tokoh pewayangan dari Punakawan. Pertunjukan ini penuh dengan lawakan satir dan spontanitas para pemain yang mampu membuat penonton tertawa sepanjang pertunjukan.
Penulis: Theresia Amadea
Editor: Nabila Ulfa Jayanti
Foto: Robin Colinkang