Suara Transpuan dan Lesbian Tuntut Kebebasan Berekspresi melalui WMJ 2019

Salah satu aktivis tengah memegang bendera LGBT dalam acara Women's March Jakarta 2019 di Taman Aspirasi Monumen Nasional, Jakarta pada Sabtu (27/04/19). (ULTIMAGZ/Ergian Pinandita).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Aktivis Transpuan (Transgender Perempuan) Dena Rachman menuntut kebebasan berekspresi dan kesetaraan gender melalui orasi pada Women’s March Jakarta (WMJ) 2019 di Jakarta (27/04/19). Pasalnya, Dena menginginkan kebebasan dari rasa takut, diskriminasi, serta kekerasan, dan kebebasan memilih.

“Kebebasan berekspresi sesuai dengan apa yang kita pilih dan untuk dihargai dari pilihan tersebut. Itu yang masih kita perlu belajar dan mengerti lebih dalam lagi,” kata Dena.

Aktivis transpuan Dena Rachma mengkritik masyarakat yang bodoh dalam menerima informasi. Bahkan, masyarakat juga takut untuk belajar hal yang baru, padahal belajar belum tentu akan menjadi berbeda paham secara otomatis (27/04/2019). (ULTIMAGZ/Igantius Raditya Nugraha)

Dena menuturkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah sama, yaitu tidak ada yang lebih tinggi atau mulia dari satu sama lain. Perbedaan sikap berbasis gender perlu ditinggalkan lantaran tak ada alasan untuk membedakan derajat laki-laki dan perempuan.

Selain itu, mantan artis cilik itu berpendapat tak perlu takut untuk bersuara, tetapi dilakukan dengan tanggung jawab penuh. Sejauh ini, Dena melakukan aksi yang bebas dari tindak anarkis, ujaran kebencian, dan hal lain yang melanggar hukum. Oleh karena itu, artis sekaligus aktivis ini tidak takut meski beberapa kelompok menilai perjuangannya berbeda.

“Kita berbeda-beda pandangan, of course boleh. Namun, perbedaan itu jangan dilihat sebagai suatu Batasan, tetapi perbedaan itu harus kita embrace untuk menghargai satu sama lain. Karena kita terdiri dari beda bangsa, beda bahasa, beda suku, beda ras beda agama, dan segala macamnya, tapi kita harus menghargai semua itu agar bisa hidup berdampingan dengan damai,” jelas aktivis kelahiran 30 Agustus 1987 itu.

Transpuan lulusan Universitas Indonesia dan Universitas Bologna itu mengkritik bahwa masyarakat mudah menelan informasi tidak kredibel secara mentah-mentah. Menurutnya, sikap tak mau belajar menyebabkan masyarakat mengabaikan hal-hal baru yang merujuk pada kebodohan.

“Belajar itu tidak pernah salah. Jadi, belajar saja dulu. Bukan berarti prinsip atau ideologi yang beda itu salah, bukan. Akan tetapi, kita akan lebih mengenalinya dan saat sudah kenal, kita akan lebih sayang,” tekan Dena.

 
Salah satu transpuan, Jupe mengikuti Women’s March Jakarta 2019 untuk menuntut hak-hak transpuan. Menurutnya, hak-hak transpuan masih dipandang sebelah mata dan hanya dilihat sebagai Pekerja Seks (PS) (27/04/19). (ULTIMAGZ/Ignatius Raditya Nugraha)

Di sisi lain, seorang transpuan lainnya, Jupe juga mengemukakan usaha mereka untuk melawan stigma-stigma negatif di masyarakat. Jupe tak berniat untuk melawan atau membalas pihak yang mendiskriminasinya. Sebaliknya, transpuan tersebut ingin memberikan sisi-sisi positif, seperti bersuara melalui Women’s March Jakarta 2019.

“Saya pernah hampir dipukul, hampir ditusuk, tapi karena saya paham dan sudah tahu apa yang dipelajari, saya ajak berbicara ke dia (pelaku diskriminasi). ‘Atas dasar apa kamu mau melakukan kekerasan kepada saya?’, ‘Apakah yang saya lakukan ini salah?’, ‘Apakah kamu merasa sudah benar?’” pengakuan Jupe menceritakan perlakuan diskriminatif yang dialaminya.

Salah satu mahasiswi, Gita memeluk bendera pelangi yang melambangkan dukungan pada kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender). Gita mempunyai cerita bahwa ia telah mengalami ancaman dikeluarkan oleh keluarga kandungnya sendiri (27/04/19). (ULTIMAGZ/Ignatius Raditya Nugraha).

Selain Jupe, salah satu mahasiswi yang merupakan seorang lesbian, Gita mengaku bahwa orientasi seksualnya menyebabkan perlakuan diskriminatif dari keluarganya sendiri, bahkan Gita terancam diusir dari rumah keluarganya. Di satu sisi, ia menyadari bahwa dirinya melanggar salah satu ajaran agamanya (Islam), tetapi ia menilai bahwa dirinya sudah ditakdirkan seperti itu.

“Kalau urusan melanggar agama tidak akan ada habisnya, memang sudah melanggar. Namun, saya sudah ditakdirkan seperti ini. Bahkan, saya sendiri sudah hampir dikeluarkan oleh keluarga karena saya begini (lesbian). Orangtua saya pernah menganjurkan saya menikah muda, tapi saya tolak,” cerita Gita. “Saya tidak akan jahat juga pada mereka (masyarakat), yang penting saya tetap menjadi orang baik.”

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Ivan Jonathan

Foto: Ergian Pinandita, Ignatius Raditya Nugraha