Tokoh-Tokoh Perempuan Beberkan Ciri Pacar Berpotensi Predator

Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amirudin (kiri) dan Ketum Perempuan AMAN Devi Anggraini (kanan). Mariana menjelaskan bahwa komnas perempuan mencatat maraknya kasus pelecehan seksual oleh keluarga kandung (incest) dan pacar sendiri melalui konferensi Women's March Jakarta 2019 di Menteng, Jakarta (25/04/2019). (ULTIMAGZ/Ignatius Raditya Nugraha)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Tokoh-tokoh perempuan membeberkan ciri-ciri pacar berpotensi predator melalui konferensi pers Women’s March Jakarta 2019 bertajuk “Berani Bersuara” di Komnas Perempuan, Jl. Latuharhary no 4B, Menteng, Jakarta (25/04/19). Hal ini dikarenakan maraknya pelaku kekerasan seksual di ranah privat, yaitu mereka yang mempunyai hubungan darah atau incest (ayah, paman) atau relasi intim (pacar).

“Apabila dia sudah ingin merebut kita. Dia ingin mengawasi kita habis-habisan lebih dari bapak kita. Apabila dia sudah mulai mengancam membuat kita menerima getaran yang mengerikan dari dia, maka artinya selangkah lagi dia akan menjadi pelaku [kekerasan seksual],” ujar Komisi Komnas Perempuan Mariana Amirudin.

Mariana menuturkan bahwa penyebab utama orang terdekat atau pacar menjadi predator adalah ketimpangan kuasa antara laki-laki dan perempuan. Maka dari itu, predator melakukan pelecehan seksual sebagai simbol menunjukkan kuasa terhadap pihak yang lebih lemah, terutama para perempuan.

“Bukan karena nafsu, melainkan karena kekuasaan,” kata Mariana. “Karena kalau nafsu dan ada di dalam relasi suka sama suka, maka keinginan untuk melakukan dendam tidak akan ada. Cinta itu adalah keinginan untuk saling menyayangi, bukan untuk saling menguasai

Mariana mengemukakan bahwa Komnas Perempuan menerima laporan terbanyak mengenai kasus Revenge Porn. Revenge porn adalah penyebaran foto-foto pribadi yang menunjukkan ketelanjangan korban untuk mempermalukan atau membunuh karakter korban atas dasar dendam. Tercatat, pelaku terbanyak berusia produktif, yaitu dari SMA, kuliah, hingga telah bekerja.

“Salah satu kasus yang kami terima misalnya, ada seorang anak yang sudah tersebar foto pribadinya oleh mantan pacar. Sekarang, foto-foto tersebut dijadikan netizen untuk bahan akun-akun pornografi. Sulit untuk dihentikan. Dia [mantan pacar] sudah mati karena kanker usus, tapi foto tersebut masih beredar di mana-mana,” jelas Mariana.

Mariana menjelaskan bahwa ancaman utama terhadap perempuan adalah budaya patriarki. Budaya tersebut mendorong laki-laki tidak menggunakan akal sehat. Misalnya, mengidentifikasi kedekatan laki-laki dengan kekerasan untuk menunjukkan kekuasaan. Maka dari itu, perempuan memerlukan pengetahuan feminis untuk melindungi diri mereka sendiri.

Di sisi lain, Anindya Restuviani dari Jakarta Feminist Discussion Group menjelaskan lebih detail bahwa maskulinitas beracun adalah racun bagi perempuan dan laki-laki. Menurut Anindya yang akrab dipanggil Vivi ini maskulinitas beracun membiarkan stigma keakraban laki-laki dan kekerasan tertanam sejak kecil pada anak-anak. Oleh karena itu, para perempuan juga membiarkan stigma-stigma patriarki tersebut.

“Ketika ada bibit kekerasan malah dianggap wajar. ‘Oh dia posesif karena dia sayang aku’, padahal kalau sayang, maka mereka tidak akan melakukan kekerasan,” jelas Vivi.

Vivi menuturkan bahwa feminisme mengajarkan para perempuan akan edukasi kekerasan. Misalnya, seperti apa bentuk-bentuk kekerasan di dalam hubungan intim. Namun demikian, Vivi berkata bahwa laki-laki berperan tidak kalah penting dalam feminsime. Hal ini dikarenakan rasanya minim dampak bila mengedukasi korban, tetapi akar permasalahan dari pelaku tidak terselesaikan.

Sebuah survei baru dari perEMPUan, Lentera Sinta Indonesia, Hollaback! Jakarta, Jakarta Feminist Discussion Group, dan Change.org menunjukkan bahwa masih sering terjadi pelecehan seksual di tempat umum di seluruh Indonesia. Pasalnya, 43% dari 62.224 responden survei pernah mengalami pelecehan seksual, bahkan 50% di antarannya mengalaminya sejak berumur 16 tahun. Para feminis berharap dengan RUU PKS, korban pelecehan dan kekerasan seksual lebih terlindung dan lebih mampu menuntut keadilan.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraja

Editor: Hilel Hodawya

Foto: Ignatius Raditya Nugraha