SERPONG, ULTIMAGZ.com– Dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMN, Rencang, menggelar rangkaian acara sosial dengan seminar “Peduli ODHA, Jauhi HIV & AIDS” yang dihelat di Student Lounge UMN, Selasa (12/12/17).
Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Koordinator Edukasi Yayasan AIDS Indonesia (YAIDS) Benhard Adilaksono W dan Humas Rumah Cemara Indra Simorangkir.
YAIDS merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berdiri sejak tahun 1993. Awalnya, YAIDS hanya berfokus pada diskusi dengan negara ASEAN perihal pencegahan AIDS, namun di tahun 1999 YAIDS mengubah konsentrasi mereka.
“Di tahun 1999 kami berkonsentrasi kepada korban yang ternyata berasal dari remaja SMP hingga usia produktif, karena itu kami memiliki program rekrutmen pelatihan volunteer untuk memberikan penyuluhan berupa komunikasi dan edukasi,” ujar Benhard.
Setiap harinya, YAIDS mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan penyuluhan kepada pelajar dan masyarakat. Selain itu, YAIDS juga membuka rekrutmen relawan di universitas.
Berbeda dengan YAIDS yang bergerak di bidang penyuluhan, Rumah Cemara merupakan tempat rehabilitasi berbasis komunitas yang memiliki beragam kegiatan sesuai dengan bakat yang dimiliki anggotanya. Berpusat di Bandung, Rumah Cemara awalnya hanya ditujukan untuk kaum marjinal seperti anak jalanan, sekaligus tempat rehabilitasi bagi pengonsumsi narkotik, psikotropika, dan zat Aditif (NAPZA).
“Ternyata 80 persen dari konsumen NAPZA yang rehabilitasi adalah HIV positif sehingga PR dobel dan membuat Rumah Cemara sekaligus menjadi tempat rehabilitasi ODHA,” jelas Indra.

Demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan HIV/AIDS (ODHA), Rumah Cemara pun memfasilitasi beragam kegiatan bagi para ODHA, salah satunya adalah olahraga sepak bola.
“Ada stereotype bahwa ODHA itu lesu, sedih. Bahkan gambar yang ditampilkan mengenai ODHA selalu yang murung. Kegiatan olahraga bertujuan untuk mengubah cara pandang terhadap ODHA,” jawab Indra.
“Terminologi penderita sudah seharusnya tidak dipakai karena membuat ODHA sudah ‘dicap’ duluan,” lanjutnya.
Menurut Indra, sudah banyak prestasi yang diraih ODHA, bahkan mewakili nama Indonesia di kancah internasional dalam beberapa pertandingan sepak bola. Tetapi, selama masih ada diskriminasi terhadap ODHA, maka kesempatan mereka untuk menorehkan prestasi akan sulit untuk tercapai.
Melalui rangkaian acara bertema besar “If You Were Me“, para mahasiswa diharapkan dapat menghapus stigma negatif mengenai ODHA dan mampu merangkul mereka sebagai bentuk dukungan.
“Kita mau membayangkan posisi kita di posisi ODHA. Jadi, gimana sih perasaan ODHA itu, gimana mereka diperlakukan sama orang-orang yang enggak layak, lah,” tutup Marvela selaku Ketua Acara “If You Were Me”.
Penulis : Agatha Lintang
Editor : Gilang Fajar Septian
Foto : Saras Sania