Wayang Sukuraga Kemukakan Konflik Internal Manusia di Coalesce 2018

Dalang wayang Effendi Sukuraga mengisahkan konflik internal manusia melalui Wayang Sukuraga. Pertunjukan tersebut menarik perhatian para siswa dan pengunjung Coalesce 2018 di SMA Islam Al-Alzhar 1 Jakarta, Minggu (04/11/18). (ULTIMAGZ/Ergian Pinandita)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Wayang Sukuraga dengan kisah konflik internal manusia memukau para siswa dan pengunjung Coalesce 2018 di SMA Islam Al-Alzhar 1 Jakarta, Minggu (04/11/08). Pertunjukan Wayang Sukuraga tersebut menampilkan iringan musik, nyanyian, tarian, dan kisah bernuansa tradisional. Dalam pertunjukan tersebut, konflik internal manusia digambarkan oleh tokoh-tokoh wayang bernama telinga, mata, tangan, dan mulut. 

Wayang Sukuraga adalah bentuk wayang yang mulai dipertunjukkan kepada khalayak umum sejak tahun 1997 dan ditemukan oleh Effendi Sukuraga. Uniknya, Wayang Sukuraga tidak mengambil cerita wayang umum, seperti Ramayana dan Mahabrata. Wayang Sukuraga menceritakan konflik internal manusia melalui tokoh-tokoh wayang berupa anggota tubuh manusia.

Pertunjukan Wayang Sukuraga diawali dengan iringan musik dan nyanyian sekitar 15 menit. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan kutipan-kutipan bernuansa puitis yang dibacakan dengan lantang. Pembacaan ini menjadi semakin menarik setelah para anggota wayang menampilkan tarian bersama atribut anggota tubuh manusia berukuran raksasa, seperti telinga, mata, tangan, dan mulut. 

Kemudian, cerita dimulai dengan interaksi antar wayang. Sebagai yang pertama, wayang telinga mengisahkan bahwa dia mempunyai profesi, yaitu mendengarkan yang disukainya. Lebih lanjut, telinga mengaku bahwa dia suka mendengarkan petuah guru dan nasihat orang tua, tidak untuk bergosip dan mengetahui aib orang lain.

Cerita dilanjutkan dengan kemunculan para tokoh wayang lainnya, seperti mata, tangan, dan mulut yang identik dengan telinga. Mata berprofesi untuk melihat, tapi tidak suka mengintip aib orang lain, melainkan suka membaca dan belajar sumber ilmu. Tangan berprofesi untuk memegang, tapi tidak suka mencubit atau menyakiti orang lain, melainkan mengulurkan atau memberi sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Mulut berprofesi untuk berbicara, tapi tidak suka membicarakan aib atau berbohong kepada sesama, melainkan saling memberikan semangat dan bantuan.

Mulut memang berprofesi sebagai pembicara. Namun, berbicara yang baik untuk sesama, bukan membicarakan aib orang lain. (ULTIMAGZ/Ergian Pinandita)

Creator atau Penggali Wayang Sukuraga Effendi Sukuraga menjelaskan esensi pertunjukannya. Menurutnya, jika setiap orang memakai sukuraga atau anggota tubuhnya dengan baik dan benar, maka orang tersebut akan menjadi semakin baik.

“Misalnya tangan, bila digunakan untuk mencubit atau melukai orang lain tidak baik. Sebaiknya, diletakkan di atas, yaitu untuk memberi atau mengulurkan bantuan kepada sesama yang membutuhkan,” ungkap Effendi.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Ergian Pinandita