• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Wednesday, October 7, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan Film

Satir yang Menertawakan Realita, Digger: Layak Ditonton atau Terlalu Konyol?

Annabelle Chloe Pramono by Annabelle Chloe Pramono
October 7, 2026
in Film, Opini
Reading Time: 4 mins read
Tom Cruise sebagai Digger Rockwell. (Warner Bros)

Tom Cruise sebagai Digger Rockwell. (Warner Bros)

0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Film Digger, dapat dikatakan sebagai salah satu proyek ambisius dari Tom Cruise dan Alejandro González Iñárritu yang tayang di Jumat (10/02/2026). Dikenal sebagai sutradara dari film bergengsi seperti Revenant dan Birdman, ia kembali menghadirkan film komedi satir yang berani. 

Berkisah tentang Digger Rockwell, seorang pengusaha minyak kaya raya, yang dihadapkan pada krisis akibat bencana yang ditimbulkan oleh proyeknya sendiri. Ketika harus bertindak, ia mencoba bergerak sebagai penyelamat dunia.

Baca Juga: Reputasi Baru Film Horor dari OBSESSION 2026

Karakter Digger, yang eksplosif dan kompleks, berhasil dibawakan Cruise dengan kuat. Tak hanya kembali menunjukkan rentang aktingnya yang luas, peran ini juga menampilkan sisi yang cukup kontras dengan genre maupun karakter yang biasa ia mainkan.

Dapat Banyak Kritikan dan Dianggap Kegagalan Besar? 

Melansir Verity.com, Digger diperkirakan hanya meraup sekitar 12 juta dolar AS pada pembukaan perdananya di Amerika Serikat. Angka tersebut belum mencapai 10% dari total biaya produksi yang menembus lebih dari 125 juta dolar AS. Di saat yang sama, film ini diperkirakan butuh menghasilkan pendapatan sekitar dua kali lipat untuk menutup biaya produksi.

Selain itu, nuansa film yang ramai dan dramatis ini membuat opini penonton maupun kritikus terpecah dengan drastis. Sampai saat ini, Digger mendapat rating sebesar 51% di rottentomatoes.com. Menjadikannya sebagai film terburuk dari Cruise dan Iñárritu. 

Melihat kondisi ini, Warner Bros dengan cerdik mencoba mengubahnya menjadi sebuah kesempatan untuk mempromosikan film tersebut. Mereka mengambil beberapa komentar buruk dari para kritikus dan memasukkannya dalam video promosi. Promosi ini memberi kesempatan bagi penonton untuk menentukan opini mereka sendiri. 

Alhasil, muncul rasa penasaran dari penikmat film. Apakah Digger harus ditonton? 

 

Decide for yourself. DIGGER – in theaters and IMAX FRIDAY. Tickets on sale now. https://t.co/Z1IpSpFnXd https://t.co/e5ID4WUxbL

— Warner Bros. (@warnerbros) September 29, 2026

Apa yang Membuat Digger Tetap Menarik? 

Setelah melihat trailer film dan ulasan yang variatif, penonton kembali bertemu dengan satu pertanyaan. Apa yang terjadi?

Hanya sedikit petunjuk yang diberikan untuk memahami keseluruhan cerita. Melansir reuters.com, hal ini tampaknya memang disengaja. Trailer dirancang untuk menyimpan sebanyak mungkin kejutan sehingga penonton terdorong untuk datang ke bioskop dengan pengetahuan seminim mungkin.

Strategi ini juga membuat penonton memiliki imajinasinya sendiri terhadap sosok Digger. Cruise digambarkan sebagai pria tua yang menari dengan sekop, serta bertindak sesuka hati dan arogan seolah-olah memegang kendali akan seluruh dunia. Menariknya, pemahaman awal yang didapatkan di paruh awal film ini akan diputarbalikkan di bagian pertengahan. Alhasil, keindahan tempat yang dipertontonkan di awal seketika terlihat berbeda.

Selain alur cerita, pengemasan Digger juga sukses mendukung seluruh tema yang coba diangkat oleh Iñárritu. Mulai dari sinematografi yang artistik oleh Emmanuel Lubezki, scoring yang nyaring, hingga produksi yang bersifat masif. Alhasil, Digger banyak memberikan adegan yang membekas, seperti penampilan Cruise di atas mimbar yang menjadi bintang utama. Variety menggambarkan adegan tersebut memacu adrenalin, heboh, gila, dan luar biasa. 

Tidak hanya itu, pilihan warna dan pengambilan gambar yang simetris turut mengingatkan kita dengan karya Wes Anderson maupun film terdahulu sang direktor, Birdman. Sukses memanjakan mata penonton. 

Komentar Sarkas akan Kondisi Dunia

Film ini mencoba menghadirkan absurditas dan kontradiksi manusia yang mengeksploitasi alam tanpa peduli akibat dari setiap tindakannya. Keserakahan dan kebodohan tidak disembunyikan, tetapi dipamerkan dengan percaya diri. Hal ini menjadi titik komedi yang ditawarkan, dekat dengan kenyataan dan jadi rasa getir. 

Kritik terhadap kapitalisme dan lingkaran kekuasaan juga turut disinggung lewat tokoh yang berkuasa. Mereka digambarkan lebih peduli pada citra dan keuntungan dibandingkan solusi nyata. Hal ini ditunjukkan pada alur film saat kucing lebih penting dibandingkan kehancuran dunia. 

Namun, dari segi penyajian, penilaian terhadap film terpecah. Bagi sebagian orang, kisah yang unik sekaligus komentar sinis yang disampaikan secara terang-terangan tampak menyenangkan. Sebaliknya, beberapa kritikus menilai cara Iñárritu mempertontonkan komedi dan satir lewat tokohnya justru menyebalkan dan terasa jauh dari realitas. 

Siapa yang Cocok Menonton Digger?

Hampir mendapat nilai sempurna, sayangnya, tidak semua gagasan digarap dengan baik sampai tuntas. INi membuat beberapa bagian terasa menggantung dan kurang memuaskan. Penilaian serupa juga muncul dalam sejumlah ulasan kritikus di Rotten Tomatoes dan Metacritic yang menganggap ambisi film terasa melelahkan. 

Baca Juga: Bisakah Marvel Menjaga Loki Sebaik Loki Menjaga Multiverse? Menanti Nasib Sang Dewa Cerita di Doomsday

Gaya penyampaian film yang blak-blakan ini menjadi pedang bermata dua. Bagi yang menyukainya, film akan terasa berani dan jujur. Sementara bagi yang lain, satir yang terlalu gamblang justru mengurangi ruang dan membuat pesannya terasa menggurui.

Secara keseluruhan, Digger memang bukan film yang akan memuaskan semua orang. Namun, jika Ultimates mencari tontonan segar dan berani, dengan absurditas yang menghibur, Digger bisa membuat kita tenggelam dalam kisahnya hingga waktu terasa bergulir cepat. 

 

 

Penulis: Annabelle Chloe 

Editor: Celine Valleri

Foto: imdb.com

Sumber: nme.com, variety.com, rottentomatoes.com, cnn.com, reuters.com

Tags: birdmanbox officediggerfilmIñárriturevenantreviewtom cruiseulasanulasan filmwarner bros
Annabelle Chloe Pramono

Annabelle Chloe Pramono

Related Posts

Song Kang dalam Four Hands, Two Sonatas. (tvN)
Film

Four Hands, Two Sonatas: Dua Pianis dalam Satu Harmoni

October 7, 2026
Poster film Avengers: Endgame Encore. (marvel.com)
Film

Bisakah Marvel Menjaga Loki Sebaik Loki Menjaga Multiverse? Menanti Nasib Sang Dewa Cerita di Doomsday

October 3, 2026
Austin Abrams sebagai Bryan di film Resident Evil. (imdb.com)
Film

Zach Cregger Mengembalikan Racoon City: Resident Evil dalam Sudut Pandang Baru

October 2, 2026
Next Post
Song Kang dalam Four Hands, Two Sonatas. (tvN)

Four Hands, Two Sonatas: Dua Pianis dalam Satu Harmoni

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + nineteen =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021