SERPONG, ULTIMAGZ.com – Butiran hijau kecil yang meletup lembut di lidah kini sedang naik daun di pasar global. Anggur laut atau Caulerpa lentillifera menjadi salah satu komoditas unggulan dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang perlahan mencuri perhatian dunia. Teksturnya yang renyah dengan rasa segar membawanya dijuluki sebagai green caviar, populer di kalangan pencinta kuliner hingga chef internasional.
Mengutip phys.org, sebutan green caviar muncul karena bentuknya menyerupai telur ikan. Namun, keunggulannya tidak berhenti pada estetika. Rumput laut ini kaya protein nabati, serat, dan mineral seperti kalium, yodium, hingga antioksidan yang baik untuk kesehatan jantung serta imunitas. Berkat kandungan tersebut, berbagai penelitian mulai menempatkan anggur laut dalam kategori superfood.
Baca Juga: Daun Kelor, Superfood Lokal Kaya Nutrisi dan Manfaat Kesehatan
Popularitas global juga ikut mendorong permintaan pasar. Mengutip mongabay.co.id, Jepang menjadi negara dengan permintaan paling tinggi, membuat harga ekspor anggur laut asal Indonesia meningkat hampir sepuluh kali lipat. Beberapa chef internasional mulai mengolahnya menjadi salad eksotis atau pendamping hidangan laut yang premium.
Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, mengatakan rumput laut dari Rote Ndao menjadi sebagai salah satu yang terbaik di dunia, dilansir dari enbeindonesia.com. Pemerintah daerah pun mendorong pengolahan lokal agar nilai tambahnya kembali ke masyarakat, didukung dengan keberadaan pabrik pengolahan di Kupang yang membantu menjaga stabilitas harga dan akses pasar bagi petani.
Baca Juga: Susu Kecoak: Inovasi Pangan Masa Depan atau Sekadar Sensasi
Cerita dari daerah lain juga menunjukkan potensi ekonomi yang besar. Petani di Takalar mampu meraih pendapatan jutaan rupiah per bulan melalui budidaya anggur laut yang relatif sederhana dan ramah lingkungan, dilansir dari neraca.co.id.
Fenomena anggur laut dari NTT membuktikan bahwa superfood tidak selalu harus diimpor atau berharga mahal. Kadang, ia tumbuh dekat dengan kehidupan nelayan dan petani pesisir yang telah lama merawatnya. Dengan pengelolaan berkelanjutan, “kaviar hijau” tidak hanya berpeluang mendunia, tetapi juga berperan mengangkat kesejahteraan masyarakat di daerah asalnya.
Penulis: Clarisa Renata
Editor: Kezia Laurencia
Foto: Pixabay/Jerry Phons G
Sumber: phys.org, mongabay.co.id, enbeindonesia.com, neraca.co.id





