SERPONG, ULTIMAGZ.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang berdiri 74 tahun lalu, pernah mendapat stigma sebagai ‘alat pemerintah orde baru’ oleh masyarakat. Namun ternyata, tidak semua anggota PWI tunduk pada penguasa.
Mari mengenang Rosihan Anwar, salah satu petinggi PWI yang tidak tunduk pada rezim. Meskipun organisasinya dikenal tidak independen pada zaman itu, Rosihan tetap bertahan dengan ideologinya, tidak mengenal kompromi.
Sejak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), Rosihan sudah masuk dunia Jurnalistik. Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Asia Raya sebelum kemerdekaan. Sampai akhirnya di era orde lama, pada 1947 Rosihan mendirikan majalahnya sendiri, yakni Siasat. Di umur 25 tahun, Rosihan sudah menjadi pemimpin redaksi.
Setahun setelah mendirikan Siasat, Rosihan mendirikan lagi harian Pedoman. Namun, dia memberikan jabatan kepemimpinan redaksi di majalah Siasat kepada wakilnya Sanjoto pada 1957 sehingga dia bisa fokus kepada harian Pedoman.
Soekarno sebagai pemimpin tunggal orde lama, tidak terlalu menyukai pemberitaan dari harian Pedoman. Hal tersebut mengakibatkan Pedoman pada akhirnya mengalami pemberedelan. Tak hanya itu, majalah Siasat pun ikut ditutup karena dana yang tidak mencukupi. Walaupun begitu, Rosihan tetap melanjutkan karya jurnalistiknya sebagai kolumnis di majalah luar negeri dan aktif menulis buku.
Tawaran pekerjaan pun semakin marak ketika karisma Soekarno mulai tergerus. Pada saat itu pula, Soeharto mengambil kepemimpinan dan mendirikan orde baru dalam senyap. Rosihan yang menjadi pengganggu kekuasaan orde lama akhirnya dapat mendirikan lagi harian Pedoman pada 1968.
Tidak sampai di situ, Rosihan juga diangkat menjadi Ketua Pembina PWI Pusat periode 1973-1978. Selanjutnya, sejak 1983 ditetapkan menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat. Organisasi PWI di zaman orde baru lekat dengan pemerintah dan kurang mendapat kepercayaan publik. Namun, sebagai salah satu petinggi PWI, Rosihan keras melantunkan kritiknya.
“Tetapi mengenai keadaan di zaman ‘Post Malari’, saya akan berbohong pada kalian bila mengatakan ada kemerdekaan pers. Kemerdekaan pers sekarang terbatas,” tulis Rosihan dalam Dalam otobiografinya, Menulis dalam Air (1983).
Bahkan, sebagai petinggi PWI pun surat kabar Pedoman yang dia besarkan tidak selamat dari pemberedelan setelah peristiwa ‘Malapetaka 15 Januari (Malari)’ tahun 1974. Alhasil, Pedoman harus terkubur menjadi sejarah.
Rosihan Anwar, menutup usianya pada, Kamis (14/04/11). Dalam petualangan jurnalistiknya melintasi zaman, jurnalis sekaligus sastrawan ini, tidak pernah tunduk pada rezim. Dia selalu menyuarakan kebebasan pers walaupun dekat dengan pemerintahan yang senang memberedel.
Penulis: Andrei Wilmar
Editor: Agatha Lintang
Sumber: liputan6.com, kompas.com, tirto.id, kabar24.bisnis.com
Foto: nasional.tempo.co