SERPONG, ULTIMAGZ.com – Skizofrenia sering kali menjadi salah satu gangguan mental yang paling disalahpahami oleh masyarakat luas karena kerap kali diasosiasikan dengan suatu fenomena kepribadian ganda. Secara medis, skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan berat yang bersifat kronis dan memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, serta berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Melansir halodoc.com, istilah skizofrenia sendiri sebenarnya merujuk pada perpecahan antara pikiran dan realitas, di mana pengidapnya mengalami kesulitan besar dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang merupakan hasil dari distorsi pikiran mereka sendiri. Kondisi ini umumnya mulai tampak pada masa dewasa awal dan memerlukan perawatan medis jangka panjang agar penderitanya tetap mampu menjalani kehidupan secara optimal dalam lingkungan sosialnya.
Baca juga: Keratosis Pilaris, Kondisi Kulit Penyebab Rasa Kurang Percaya Diri
Gejala yang dialami oleh pengidap skizofrenia biasanya terbagi menjadi beberapa kategori utama yang masing-masing memberikan tantangan tersendiri bagi penderitanya. Gejala positif atau psikotik mencakup halusinasi, seperti mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya, serta delusi atau keyakinan kuat pada sesuatu yang tidak logis, seperti perasaan diawasi secara terus-menerus.
Mengutip mitrakeluarga.com, di sisi lain, terdapat pula gejala negatif yang ditandai dengan hilangnya minat sosial, penarikan diri dari pergaulan, serta emosi yang tampak datar atau mati rasa. Selain itu, gangguan kognitif juga sering muncul dan membuat pengidapnya sulit untuk berkonsentrasi, mengingat informasi, atau mengambil keputusan sederhana dalam aktivitas rutin mereka.
Hingga saat ini, para ilmuwan belum menemukan penyebab tunggal yang pasti dari skizofrenia. Namun, disepakati bahwa gangguan ini muncul akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, biologi otak, dan lingkungan. Ketidakseimbangan zat kimia di otak terutama dopamin dan glutamat, memainkan peran krusial dalam memicu terjadinya distorsi persepsi pada pengidapnya.
Baca juga: Jangan Sampai Tubuh Drop Melawan Flu dan Batuk Saat Perubahan Cuaca!
Kembali mengutip mitrakeluarga.com, meskipun skizofrenia adalah kondisi seumur hidup yang belum memiliki obat untuk sembuh secara total, kemajuan dalam dunia kedokteran telah memungkinkan pengidapnya untuk menjalani hidup yang stabil dan produktif. Melalui kombinasi terapi obat-obatan antipsikotik yang tepat serta dukungan psikososial yang kuat, banyak pengidap yang mampu mengelola gejala mereka dengan sangat baik.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi sering kali bukan hanya gejalanya, melainkan stigma sosial yang membuat mereka merasa terisolasi dan takut untuk mencari bantuan. Oleh karena itu, empati dari keluarga serta edukasi publik menjadi kunci utama dalam proses pemulihan, sehingga pengidap skizofrenia tidak lagi dipandang dengan ketakutan, tetapi sebagai individu yang layak mendapatkan kehidupan yang sama.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Kezia Laurencia
Foto: buzzrx.com
Sumber: halodoc.com, mitrakeluarga.com




