SERPONG, ULTIMAGZ.com – Akhir-akhir ini tren bed rotting mulai naik dan diperbincangkan di media sosial. Beberapa unggahan menyampaikan bahwa bed rotting merupakan hal yang baik bagi mental, tetapi ada juga yang membantahnya. Namun, apa sebenarnya bed rotting dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi seseorang?
Melansir cbsnews.com, bed rotting adalah istilah yang dipakai oleh Gen Z dengan artian lebih memilih untuk tetap berada di tempat tidur sepanjang hari sebagai bagian dari perawatan diri. Aktivitas yang biasanya dilakukan tidak jauh-jauh dari bermain media sosial, menonton film, atau hanya menghabiskan waktu dengan tidur. Pada intinya, bed rotting dilakukan untuk beristirahat dari beban yang orang tersebut miliki.
Baca juga: Doomscrolling, Kegiatan yang Menggerus Kesehatan Mental
Saat bed rotting, orang tersebut melepaskan segala kecemasan dan stres yang ia punya untuk mengistirahatkan pikiran dan badan. Kembali mengutip CBS, Vannesa Hill seorang sleep scientist, mengatakan bahwa bed rotting dapat membantu mengelola rasa stres.
“Bagi banyak orang, ini bisa menjadi semacam manajemen stres sehingga dapat sangat membantu mengatasi perasaan kewalahan ketika mereka benar-benar stres tentang pekerjaan atau apa pun yang terjadi dalam hidupnya,” ujar Vannesa.
Menurut Dr. Rishi Gautam, ketua departemen psikiatri di LifeBridge Health, bed rotting dapat membawa dampak yang signifikan bagi yang melakukannya. Meskipun dilakukan dengan tujuan positif sebagai bentuk kepedulian pada mental dan tubuh, aktivitas ini dapat berdampak buruk. Ketika bed rotting tidak dilakukan dengan kontrol yang baik, efeknya sangat merugikan dan serius.
“Jika tidak dilakukan dengan moderasi, atau tidak dilakukan dengan kesadaran akan bagaimana hal itu dapat berpengaruh dalam jangka panjang, hal itu dapat menjadi sebuah masalah,” ucap Dr. Rishi kepada CBS.
Melansir psychologytoday.com, berbaring di tempat tidur berjam-jam dapat berdampak buruk pada kesehatan, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit mental. Hal ini dikarenakan bed rotting bisa menimbulkan masalah baru pada seseorang dengan beberapa cara seperti berikut ini:
- Tetap berada di tempat tidur saat terjaga dapat mengganggu tidur dan menyebabkan insomnia. Penting untuk mengaitkan tempat tidur dengan aktivitas tidur, bukan tempat untuk bekerja, makan, menonton TV, atau hanya tetap terjaga. Jika tidak, hal akan melatih otak untuk tetap terjaga saat berada di tempat tidur.
- Kurangnya aktivitas fisik dapat berkontribusi pada depresi dan kecemasan. Semakin lama berdiam diri memperbesar risiko mengembangkan atau memperburuk kecemasan atau depresi. Hal ini yang dapat mengurangi motivasi dan memicu kelelahan. Jadi, meskipun tergoda untuk tetap berbaring di tempat tidur, pengobatan yang efektif untuk depresi biasanya mencakup aktivitas fisik, interaksi sosial, dan pemecahan masalah.
- Merenung meningkatkan masalah kesehatan mental. Tanpa rangsangan apa pun, seseorang mungkin lebih cenderung mengulang percakapan yang sudah terjadi, merenungkan masalah, atau memikirkan hal yang sama berulang kali. Merenungkan stres atau kejadian negatif dapat memperburuk berbagai masalah kesehatan mental: depresi, PTSD, gangguan kecemasan, gangguan makan, gejala somatik, hingga gangguan penggunaan zat.
- Menghindari masalah justru menambah stres. Jika seseorang stres karena kesulitan membayar tagihan atau merasa kewalahan dengan daftar tugas yang tak kunjung habis, beristirahat di tempat tidur mungkin memberi Anda sedikit kelegaan sementara. Tetapi pelarian dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah yang sebenarnya menyebabkan kesusahan orang tersebut. Hal itu hanya akan memperpanjang waktu penyelesaiannya dan menambah kesusahan jangka panjang.
- Waktu luang dapat menyebabkan peningkatan waktu menatap layar. Tanpa adanya rangsangan, banyak orang secara otomatis meraih ponsel atau laptop mereka. Namun, waktu menatap layar yang berlebihan kemungkinan besar tidak akan membawa pemulihan. Bahkan, hal itu dapat berpotensi menyebabkan stres.
Baca juga: Sulit Tidur, Ini Beberapa Tips Agar Tidur Lebih Berkualitas
Oleh karena itu, kegiatan bed rotting ini perlu dilakukan dengan moderasi dan kontrol yang baik. Melansir health.com, Dr. Ryan Sultan, asisten profesor psikiatri klinis di Universitas Columbia menyampaikan beberapa cara untuk bed rotting dengan aman.
Hal yang pertama adalah memanfaatkan waktu istirahat untuk aktivitas yang menyenangkan bagi diri. Selanjutnya, hal kedua ini diperlukan agar kegiatan tetap terkontrol yaitu dengan menetapkan batasan waktu untuk mencegah terlalu lama berbaring di tempat tidur. Hal yang terakhir adalah dengan tidak menjadikannya kebiasaan untuk dilakukan dalam jangka waktu yang berdekatan.
Penulis: Faith Terresa Tiominar Tambunan
Editor: Reza Farwan
Foto: freepik.com
Sumber: cbsnews.com, psychologytoday.com, health.com




