Ecobrick, Bukti Kreativitas Selamatkan Lingkungan

Ecobrick hasil pemanfaatan botol dan sampah plastik.
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Selama ini banyak pengolahan sampah plastik yang tidak ramah lingkungan, salah satunya dengan membakarnya. Plastik yang dibakar akan mengeluarkan molekul dioxin yang beracun yang selanjutnya dapat dibawa oleh hujan dan dapat meracuni sumber air.

Russel Maier, pemerhati lingkungan asal Kanada memperkenalkan metode baru pengolahan sampah plastik. Metode pengolahan plastik yang kreatif itu bernama Ecobrick yang dapat menghasilkan berbagai barang bermanfaat.

Kursi dan meja hasil pemanfaatan ecobrick.
Kursi dan meja hasil pemanfaatan ecobrick.

Ecobrick merupakan bata ramah lingkungan terbuat dari botol yang diisi dengan sampah plastik hingga padat. Pembuatan Ecobrick sendiri ternyata tidak sebentar. Walaupun prosesnya terlihat sederhana, sebuah botol plastik ukuran 600 mililiter dapat diisi sekitar 250 gram sampah plastik atau setara dengan 2500 lembar plastik bungkus mie instan. Telah banyak workshop yang dilakukan Russel dan teman-temannya di Indonesia guna memperkenalkan masyarakat tentang metode Ecobrick in, salah satu acara yang memperkenalkan metode ini adalah East Java Ecobrick Expedition yang dimulai awal Februari 2017 lalu.

Botol-botol  hasil Ecobrick sendiri dapat dirangkai dengan lem dan dibentuk menjadi kursi, meja, dan bahkan bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuat tembok selayaknya batu bata. Russel mengaku dirinya bersama teman-temannya telah mampu membuat rumah, taman, meja, dan kursi di Filipina dengan metode ini. Metode ini sendiri juga membantu mengurangi sampah individu, rumah tangga, dan masyarakat luas tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

rumah dengan dinding ecobrick.
Rumah dengan dinding ecobrick.

Mengingat cara yang mudah dan biaya yang terjangkau, Ecobrick sangat cocok untuk dilakukan di Indonesia. Pada tahun 2016 lalu Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah plastik ke laut setelah Tiongkok. Adanya metode Ecobrick ini dapat menjadi salah satu solusi Indonesia meninggalkan “prestasi” tersebut.

Penulis: Ariefiani Elfrida Mastina Harahap

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: wikipedia.org, designindaba.com, russs.net

Sumber: bali.tribunnews.com, ecobricks.org, klikfakta.org