SERPONG, ULTIMAGZ.com — Dunia semakin menuntut kita untuk mempercepat langkah dan mendorong tenggat ke depan mata. Dari Artificial Intelligence (AI) hingga produk-produk baru yang membuat pekerjaan lebih efektif, kehidupan sekarang terasa cepat dan terburu-buru. Di tengah itu semua, muncul sebuah tren baru yang menjadi target banyak anak muda. Namun, sesungguhnya, apa itu slow living? Nyatanya, bukan sekedar hidup santai loh!
Asal Muasal
Ternyata, konsep dari slow living sendiri bukan muncul dari sembarang tempat. Mengutip ebsco.com, gaya hidup yang cenderung santai ini pertama kali berasal dari gerakan Slow Food di Italia pada 1986. Ditemukan oleh Carlo Petrini, gerakan Slow Food adalah sebuah gerakan yang dibuat untuk memprotes perkembangan makanan cepat saji.
Baca juga : Apa Peran Tidur Dalam Menyimpan Ingatan Jangka Panjang?
Gerakan ini menekankan bahwa makanan harus lezat, bersih (tidak menyebabkan penyakit), dan adil (bisa dimakan oleh siapa saja). Dari pergerakan ini, muncullah filosofi dari kata SLOW, yaitu: Sustainable (berkelanjutan), Local (lokal), Organic (organik), dan Whole (utuh).
Selain itu, Carl Honoré juga meningkatkan popularitas dari gaya hidup ini lewat bukunya yang berjudul “In Praise of Slowness” yang diterbitkan pada 2001. Dalam bukunya, Honoré mengajak para pembaca untuk bisa menjalani ritme hidup yang lebih lambat, dikutip dari detik.com.
Perlahan Memuncak
Tren slow living belum begitu populer hingga 2020. Hal ini didorong oleh pandemi Covid-19 yang kala itu baru saja berlalu. Wabah yang sempat melanda dunia itu membuat orang sadar akan pentingnya kesehatan tubuh. Slow living juga menjadi gaya hidup yang melawan hustle culture, yang merupakan kebalikannya.
Baca juga : Bed rotting, Perawatan Diri Lewat Tidur Ala Gen Z
Sekarang, gaya hidup lambat ini menjadi populer sebagai respons terhadap stres dari tekanan harian seperti pekerjaan juga ketidakpastian global. Gaya hidup ini menekankan perawatan diri dan mengutamakan kebahagiaan. Selain itu, slow living juga memuji minimalisme dan kedekatan dengan alam.
Penulis : Jasmine Kurnia Wijaya
Editor : Celine Valleri
Foto : freepik.com
Sumber : cnnindonesia.com, detik.com, ebsco.com




