• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Monday, March 16, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Budaya

Menepi Sejenak, Kenali Budaya Slow Living Yang Sekarang Menjadi Impian Orang

Jasmine Kurnia Wijaya by Jasmine Kurnia Wijaya
March 16, 2026
in Budaya, Lifestyle
Reading Time: 2 mins read
Ilustrasi seseorang sedang bersantai dekat jendela sebagai representasi gaya hidup slow living.

Ilustrasi kehidupan slow living. (freepik.com)

0
SHARES
10
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Dunia semakin menuntut kita untuk mempercepat langkah dan mendorong tenggat ke depan mata. Dari Artificial Intelligence (AI) hingga produk-produk baru yang membuat pekerjaan lebih efektif, kehidupan sekarang terasa cepat dan terburu-buru. Di tengah itu semua, muncul sebuah tren baru yang menjadi target banyak anak muda. Namun, sesungguhnya, apa itu slow living? Nyatanya, bukan sekedar hidup santai loh!

Asal Muasal

 Ternyata, konsep dari slow living sendiri bukan muncul dari sembarang tempat. Mengutip ebsco.com, gaya hidup yang cenderung santai ini pertama kali berasal dari gerakan Slow Food di Italia pada 1986. Ditemukan oleh Carlo Petrini, gerakan Slow Food adalah sebuah gerakan yang dibuat untuk memprotes perkembangan makanan cepat saji.

Baca juga : Apa Peran Tidur Dalam Menyimpan Ingatan Jangka Panjang?

Gerakan ini menekankan bahwa makanan harus lezat, bersih (tidak menyebabkan penyakit), dan adil (bisa dimakan oleh siapa saja). Dari pergerakan ini, muncullah filosofi dari kata SLOW, yaitu: Sustainable (berkelanjutan), Local (lokal), Organic (organik), dan Whole (utuh). 

Selain itu, Carl Honoré juga meningkatkan popularitas dari gaya hidup ini lewat bukunya yang berjudul “In Praise of Slowness” yang diterbitkan pada 2001. Dalam bukunya, Honoré mengajak para pembaca untuk bisa menjalani ritme hidup yang lebih lambat, dikutip dari detik.com. 

Perlahan Memuncak

Tren slow living belum begitu populer hingga 2020. Hal ini didorong oleh pandemi Covid-19 yang kala itu baru saja berlalu. Wabah yang sempat melanda dunia itu membuat orang sadar akan pentingnya kesehatan tubuh. Slow living juga menjadi gaya hidup yang melawan hustle culture, yang merupakan kebalikannya. 

Baca juga : Bed rotting, Perawatan Diri Lewat Tidur Ala Gen Z

Sekarang, gaya hidup lambat ini menjadi populer sebagai respons terhadap stres dari tekanan harian seperti pekerjaan juga ketidakpastian global. Gaya hidup ini menekankan perawatan diri dan mengutamakan kebahagiaan. Selain itu, slow living juga memuji minimalisme dan kedekatan dengan alam. 

 

 

Penulis : Jasmine Kurnia Wijaya

Editor : Celine Valleri

Foto : freepik.com 

Sumber : cnnindonesia.com, detik.com, ebsco.com

Tags: Gaya Hidupgaya hidup barugaya hidup lambatgaya hidup minimalisItalialifestylelifestyle newsminimalisslow foodslow living
Jasmine Kurnia Wijaya

Jasmine Kurnia Wijaya

Related Posts

Alternatif
Iptek

Dari Lolita Hingga Gyaru: Kenali Dunia Fesyen Alternatif dari Jepang

March 10, 2026
Desain sampul terbaru dari buku IQRO. (Instagram/@kahfeveryday)
Budaya

Kahf: Memperindah Wajah, Visual Budaya, dan Kultur Anak Kecil di Indonesia

March 7, 2026
Seiko 5 Sports x HUF II Limited Edition.(oracleoftime.com)
Budaya

Seiko dan HUF: Ketika Waktu Tidak Hanya Berharga, Tapi Penuh Gaya

March 4, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 9 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021