• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Sunday, August 31, 2025
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Asa Kurangi Sampah Makanan Dari Kertabumi Recycling Center

Nadia Indrawinata by Nadia Indrawinata
July 26, 2021
in Lifestyle
Reading Time: 3 mins read
ilustrasi makanan orang berkecukupan

Ilustrasi perbandingan makanan orang berkecukupan dan berkekurangan. (ULTIMAGZ/Timothy B)

0
SHARES
233
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Tidak jarang makanan yang ada ternyata lebih dari kata ‘cukup’. Bagi mereka yang memiliki akses, membuang makanan terasa begitu mudah. Namun, tidak dengan sisi lain dari koin. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memberikan perhatian khusus mengenai masalah pangan. Dalam Sustainable Development Goals (SDGs), salah satu poin yang disorot adalah mengakhiri kelaparan.

Selama beberapa tahun terakhir, istilah food loss dan food waste pun naik daun. Keduanya serupa, tetapi tak sama. 

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mendefinisikan food loss sebagai pengurangan kuantitas atau kualitas makanan akibat pihak pemasok. Kurangnya teknologi untuk mengolahnya serta gagal panen merupakan beberapa alasan umum. 

Food waste didefinisikan sebagai pengurangan makanan di tingkat retail dan konsumsi. Misalnya, jika seseorang tidak menghabiskan makanan dan membuang sisanya.

Menurut The Economist Intelligence Unit, Indonesia berada di posisi kedua penghasil sampah makanan terbanyak di dunia dengan jumlah 300 kilogram per orang setiap tahunnya. Posisi ini berada di atas Amerika Serikat yang menghasilkan 277 kilogram per orang setiap tahun. 

Meskipun demikian, ternyata jenis sampah makanan yang dihasilkan antara negara maju dan negara berkembang berbeda. Di negara maju, lebih banyak food waste yaitu makanan terolah. Namun, di negara berkembang seperti Indonesia lebih banyak food loss dari hasil pertanian.

Salah satu organisasi yang sedang berusaha berperan mengurangi food loss dan food waste adalah Kertabumi Recycling Center. Organisasi yang menyebut dirinya sebagai ‘klinik sampah’ ini biasanya beroperasi dalam pengolahan sampah anorganik, tetapi juga fokus ke sampah organik dari rumah tangga. 

ikbal alexander
Pendiri Kertabumi Recycling Center Ikbal Alexander berfoto bersama Tim Ultimagz usai wawancara pada Sabtu (15/05/2021). (ULTIMAGZ/Timothy B)

“Klinik sampah itu sebenarnya ingin mengubah perspektif dari sampah sebagai barang yang tidak lagi berguna, sehingga dibuang, tapi menjadi sampah sebagai bahan baku untuk mengolah produk baru,” ungkap pendiri Kertabumi Recycling Center Ikbal Alexander.

Produk baru dari sampah organik atau sampah makanan di Indonesia kerap hadir dalam bentuk kompos. Menurut Ikbal, ini tidak terlalu menjadi fokus organisasinya karena tenaga serta biaya pengelolaannya kembali dan jualnya tidak sebanding. Namun, itu tidak menghentikan Kertabumi Recycling Center untuk ikut mengambil peran dalam mengurangi sampah makanan.

Sebagai langkah pencegahan, Kertabumi kini sedang aktif mengampanyekan menghabiskan makanan dan mengelola bahan-bahannya secara optimal. 

“Kalau kayak gitu, enggak akan ada sampah, ‘kan?” tambahnya.

Selain itu, juga ada kampanye untuk memperpanjang usia sayuran yang diunggah ke akun Instagram @kertabumirecyclingcenter.

Tahap daur ulang Kertabumi Recycling Center pun dibagi menjadi dua cara oleh Iqbal. Pertama adalah menumbuhkan kembali sisa sayuran seperti daun bawang, kangkung, bayam, hingga mint. Cara kedua adalah membuat sampah menjadi sesuatu yang baru seperti keripik dari kulit udang atau kulit kentang.

Organisasi yang sudah pernah bekerja sama dengan berbagai perusahaan ini pun memiliki piramida khusus untuk mengatasi food waste. Langkah pertama adalah menghabiskan makanan yang sudah diambil secukupnya. Apabila tidak habis dan masih layak dimakan, bisa lanjut ke langkah berikutnya yaitu diberikan kepada orang lain, dan kepada hewan jika tidak layak. Namun, mengatasi food waste tidak sampai di situ saja. Sisa makanan masuk ke dalam kategori sampah organik sehingga bisa dijadikan kompos untuk tanaman.

Menurut Ikbal, semua pihak tetap harus bahu membahu mengurangi sampah makanan. Jika bisa, mengolahnya kembali hingga akhirnya memiliki nilai bagi orang lain. 

 

Penulis: Nadia Indrawinata

Editor: Andi Annisa Ivana, Maria Helen Oktavia, Xena Olivia

Foto: Timothy B. Hallatu

Tags: artikelseriessdgcompostfood lossfood wasteikbal alexanderkertabumi recycling centerorganiksampah makanansampah organik
Nadia Indrawinata

Nadia Indrawinata

Related Posts

Tempe: Hasil Fermentasi Mendunia yang Berakar dari Jawa
Kuliner

Tempe: Hasil Fermentasi Mendunia yang Berakar dari Jawa

July 16, 2025
Kopi yang berasal dari feses gajah. (antaranews.com)
Lifestyle

Dari Feses Gajah ke Cangkir Kopi: Cerita di Balik Kopi Ivory

July 16, 2025
Potret salah satu bahan sushi, kani. (istockphoto.com)
Lifestyle

Sushi Kani Ternyata Bukan Kani, tapi Surimi? Ini Faktanya!

July 16, 2025
Next Post
Dorong Perkembangan UMKM sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan

Dorong Perkembangan UMKM sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + eighteen =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021