Dorong Perkembangan UMKM sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan

Ilustrasi UMKM Indonesia. (ULTIMAGZ/Amartya Kejora)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Setiap negara di dunia memiliki permasalahannya masing-masing, salah satunya ialah kemiskinan. Kemiskinan menjadi salah satu persoalan yang tak kunjung selesai bagi beberapa negara, secara khusus negara berkembang. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal seperti tingkat pendidikan yang rendah dan keterbatasan lapangan pekerjaan serta sumber daya. Kemiskinan sendiri dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia pun masih terus menghadapi permasalahan yang satu ini. Melansir detik.com, Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan kemiskinan di Indonesia sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan dengan pendekatan pengeluaran. Artinya, penduduk dikatakan miskin apabila rata-rata pengeluaran per kapita per bulan mereka berada di bawah garis kemiskinan.

Melihat kondisi tersebut, upaya pengentasan kemiskinan akhirnya diangkat sebagai poin pertama dari Sustainable Development Goals. Sustainable Development Goals (SDGs) sendiri merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Dengan adanya SDGs, berbagai permasalahan yang terjadi di dunia, termasuk kemiskinan, diharapkan dapat segera teratasi lewat pencapaian target pada 2030 mendatang.

Pada kurun waktu 2012 hingga 2019, persentase tingkat kemiskinan di Indonesia sebenarnya mengalami penurunan. Dimulai dari 11,96 persen pada 2012 hingga mencapai 9,41 persen pada 2019.

Persentase tingkat kemiskinan di Indonesia pada 2012 hingga 2019. (Sumber: indonesiabaik.id)

Namun, pandemi COVID-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia telah memberikan dampak yang besar bagi sektor perekonomian sehingga berujung pula pada peningkatan angka kemiskinan. Pada 2020, angka kemiskinan di Indonesia kembali meningkat menjadi 10,19 persen dan diprediksi akan naik menjadi 10,50 persen pada 2021. 

Pandemi COVID-19 membuat masyarakat Indonesia harus menghadapi kondisi yang sulit dalam bidang ekonomi. Banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan kerja. 

Dalam hal ini, pelaku UMKM yang disebut sebagai tonggak perekonomian bangsa pun juga harus berjuang untuk melewati masa sulit ini. Kondisi pandemi yang membuat masyarakat harus mengurangi kontak fisik membuat pelaku UMKM harus masuk ke dunia digital untuk tetap mempertahankan usaha mereka. Hal ini bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi bagi mereka yang sebelumnya asing dengan dunia digital.

Guna mengatasi persoalan tersebut, lahirlah sebuah platform karya anak bangsa yang bernama Infina (Influencing Indonesia). Infina merupakan wadah pemasaran satu pintu untuk pelaku UMKM. Wadah ini hadir untuk membantu pelaku UMKM agar bisa bertahan dengan memasarkan produk mereka di dunia digital. 

Wawancara bersama Oktora Irahadi, perintis Infina yang dilakukan secara daring via Zoom Meeting pada Jumat (21/05/2021). (ULTIMAGZ/Amartya Kejora)

Founder Infina Oktora Irahadi mengatakan bahwa berdasarkan survei yang dilakukan Infina, sekitar 70 persen UMKM di Indonesia membutuhkan bantuan pada bidang pemasaran, terutama bagi para pelaku yang belum mengerti cara untuk memasarkan produk di dunia digital. Hal tersebut pun menjadi alasan dari hadirnya Infina bagi para pelaku UMKM. 

“Kita melihat bahwa UMKM ini butuh bantuan banget dari segala sisi, terutama yang kita lihat dari pemasaran. Pada dasarnya, kita lihat ada begitu banyak kebutuhan yang bisa diberikan untuk UMKM,” ujar Tora kepada ULTIMAGZ. 

Tora menyadari bahwa para pelaku UMKM yang gagap dunia digital tersebut tidak memiliki waktu lagi untuk belajar lantaran harus langsung berjualan agar bisa terus bertahan. Maka dari itu, Infina menawarkan bantuan dengan cara menghubungkan pelaku UMKM dengan para influencer di media sosial. Para influencer inilah yang nantinya akan mempromosikan produk UMKM dengan cara paid promote, atau promosi berbayar. Dengan begitu, tak hanya pelaku UMKM yang mendapat keuntungan, tetapi juga para influencer. Selain meraup penghasilan, mereka juga bisa memanfaatkan dan mengembangkan keahlian yang mereka miliki di dunia digital.

“Kita merasa bahwa si influencer inilah yang bisa membantu UMKM, dalam hal ini influencer dengan followers seribu hingga 10 ribu. Paling enggak mereka tahu cara bermain di social media, mereka bisa mobile photography, atau mungkin mereka sudah bisa bikin video yang bagus pakai mobile saja. Nah, kenapa enggak skill mereka itu digunakan untuk membantu pelaku UKM,” kata Tora.

Tora juga menuturkan bahwa data dari berbagai sumber menunjukkan ada kurang lebih 400 ribu lulusan sarjana di Indonesia setiap tahun. Angka tersebut belum termasuk lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dan juga mereka yang putus sekolah, yang artinya akan ada sekitar 1,2 juta angkatan kerja baru setiap tahunnya. Dalam 20 tahun ke depan, bisa diperkirakan bahwa akan ada 30 juta angkatan kerja baru yang akan bersaing memperebutkan lapangan pekerjaan yang sangat terbatas. Hal ini pun mendorong Infina untuk melatih dan mengembangkan jiwa entrepreneur anak-anak muda sejak saat ini. 

“Jadi, kenapa enggak kita dari sekarang melatih jiwa entrepreneur dari anak SMP, SMA, kuliah, dan juga ibu-ibu rumah tangga. Itu yang ingin kita capai, satu juta entrepreneur untuk Indonesia,” ungkap Tora lagi.

Saat ini, sudah terdapat 1.500 UMKM dan 15 ribu influencer dari seluruh Indonesia yang bergabung dengan Infina. Melalui platformnya, Infina telah menyediakan kemudahan bagi pelaku UMKM dan influencer untuk bisa langsung terhubung dan bekerja sama untuk memasarkan produk di dunia digital.

“Kita siapkan tools-nya untuk UKM memberikan brief selengkap mungkin bagi influencer. Pakai hashtag apa, post nya jam berapa, dijelasin nih caption-nya apa,” jelas Tora.

Tora menyatakan bahwa setiap UMKM memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Infina tidak hanya menyediakan bantuan dari segi pemasaran, tetapi juga dari sisi lainnya sesuai dengan yang dibutuhkan UMKM.

“Yang pasti kita bantu mereka, sampai kalau mereka mau ekspor, kita akan MoU (Memorandum of Understanding) dengan Kemendag (Kementerian Perdagangan). Kalau mereka mau didukung dari sisi produksi, kita langsung pertemukan dengan Kemenkop UKM (Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah). Kalau dari pemasaran, kita akan pertemukan mereka dengan influencer yang followers-nya sudah besar. Jadi, lihat dulu kebutuhan mereka apa,”

Melalui berbagai bantuan tersebut, Infina berupaya untuk bisa terus mewadahi dan menjawab berbagai kebutuhan pelaku UMKM dan juga para influencer yang berasal dari kalangan anak muda. Dengan demikian, hal itu dapat mendorong perkembangan perekonomian di Indonesia dan berperan pula untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan.

 

Penulis: Christabella Abigail Loppies

Editor: Andi Annisa Ivana Putri, Xena Olivia, Maria Helen Oktavia

Foto: Amartya Kejora, indonesiabaik.id

Sumber: detik.com, indonesiabaik.id