Metode Pomodoro, Alternatif Kiat Fokus Belajar dan Selesaikan Tugas Kuliah

metode podomoro
Ilustrasi metode belajar pomodoro. (Foto: Rencanamu.id)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Bekerja maupun belajar secara terus menerus dalam waktu  lama dapat membuat otak maupun mental menjadi lelah dan bosan. Alhasil, pikiran seseorang tidak hanya fokus pada pekerjaan saja. Maka dari itu, metode podomoro dapat menjadi alternatif dalam fokus belajar dan menyelesaikan tugas kuliah.

Ketika mengikuti perkuliahan asinkron, beberapa orang mungkin merasa lebih nyaman dan produktif. Namun, kondisi sebaliknya dapat terjadi dengan mahasiswa yang masih belum menemukan cara efektif mengatasi kejenuhannya.

Terlebih dalam penelitian Jonathan Schooler pada situs resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Republik Indonesia (DJKN Kemenkeu RI) menemukan, rata-rata setiap orang menghabiskan 15 hingga 20 persen waktunya dalam satu hari untuk memikirkan hal lain di luar pekerjaan. Akibatnya, pekerjaan menjadi sulit untuk diselesaikan.

Metode podomoro yang dicetus oleh Francesco Cirillo pada akhir 1980 dapat menjadi solusi permasalahan dalam belajar. Dalam metode ini, Francesco menciptakan sebuah teknik belajar berdasarkan manajemen waktu yang dapat menjaga kondisi fisik dan psikisnya. Mulanya Francesco membuat metode ini karena pada saat kuliah, ia memiliki kesulitan untuk fokus belajar.

Istilah “Pomodoro” sendiri berasal dari bahasa Italia yang berarti tomat. Francesco memilih nama ini karena ia menggunakan alat pengatur waktu atau timer dapurnya yang kala itu berbentuk tomat merah. Dengan menciptakan interval waktu belajar, metode pomodoro menimbulkan urgensi terhadap suatu pekerjaan sehingga membuat waktu tidak terbuang percuma.

 

Cara Terapkan Metode Pomodoro

Untuk mengadopsi metode pomodoro dalam kehidupan sehari-hari, Ultimates hanya membutuhkan alat pengatur waktu atau timer. Setelah itu, ikuti empat langkah di bawah ini untuk menerapkannya.

  1. Siapkan materi
Ilustrasi membuat skala prioritas tugas. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi membuat skala prioritas tugas. (Foto: pexels.com)

Pada langkah awal, Ultimates harus mengurutkan skala prioritas tugas atau materi belajar. Mahasiswa bisa mulai mengaturnya dari tugas atau materi belajar yang paling dekat untuk dikumpulkan. Dengan begitu, Ultimates tidak akan mendapat distraksi untuk memikirkan apa yang ingin dikerjakan kelak.

  1. Atur timer
Ilustrasi mengatur timer. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi mengatur timer. (Foto: pexels.com)

Selama 25 menit pertama, Ultimates harus fokus pada pengerjaan tugas maupun materi pembelajaran. Durasi inilah yang disebut sebagai ‘jendela kerja’. Oleh karena itu, aturlah timer dan kerjakanlah tugas hingga timer berbunyi.

  1. Waktu istirahat
Ilustrasi melakukan peregangan saat interval waktu istirahat. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi melakukan peregangan saat interval waktu istirahat. (Foto: pexels.com)

Meski pekerjaan Ultimates belum selesai, tetapi timer sudah berbunyi, berhentilah mengerjakannya. Kemudian atur timer untuk istirahat selama 5 menit. Waktu istirahat dapat mahasiswa isi dengan membalas pesan dari teman, melihat handpohone, menyantap camilan, melakukan peregangan, dan aktivitas lainnya.

  1. Mulai bekerja kembali
Ilustrasi mengerjakan tugas atau belajar materi pelajaran. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi mengerjakan tugas atau belajar materi pelajaran. (Foto: pexels.com)

Setelah melalui interval waktu istirahat, Ultimates harus memulai kembali ‘jendela kerja’ kedua selama 25 menit untuk fokus dengan pekerjaan. Hingga akhirnya Ultimates sampai ke ‘jendela kerja’ keempat, mahasiswa boleh menambah durasi istirahat menjadi 10 menit. Lakukanlah teknik ini dengan konsisten agar terbiasa dengan manajemen waktu hingga tugas selesai.

Melansir Rencanamu.id, setiap 25 menit seseorang harus istirahat agar tidak jenuh. Diupayakan waktu istirahat tergolong sedikit supaya Ultimates tidak terus menerus melakukan hal-hal lain yang menyita waktu.

Penelitian dari Staffen Noteberg juga menunjukkan bahwa metode pomodoro banyak digunakan oleh orang, sebab konsep ‘jendela kerja’ memang efektif untuk menghindari distraksi. Selain itu, dalam sebuah jurnal psikologi Universitas Illinois, istirahat singkat bisa membantu menjaga fokus dalam mengerjakan sesuatu.

Dengan seringnya menggunakan metode ini, Kumparan.com menuliskan bahwa secara mental seseorang akan terbiasa dan tidak panik ketika menghadapi pekerjaan dalam batas waktu minim. Rencanamu.id juga meyakini bila otak sudah mulai terbiasa bekerja dengan interval tertentu, maka Ultimates tidak membutuhkan timer lagi karena sudah bisa mengatur fokus secara mandiri.

Ultimates dapat menyesuaikan pengaplikasiannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Terutama dalam menentukan durasi waktu bekerja dan beristirahat. Akan tetapi, tetap konsisten menggunakan interval yang sama.

Apabila Ultimates membutuhkan bantuan teknologi lainnya, mahasiswa bisa mengunduh berbagai aplikasi di gawainya. Focus Keeper, Tide, dan Focus To-Do, misalnya.

 

Penulis: Elisabeth Diandra Sandi

Editor: Agatha Lintang

Foto: rencanamu.id, pexels.com

Sumber: djkn.kemenkeu.go.id, kumparan.com, rencanamu.id