Melihat Peran Thrift Shopping Dalam Menyelamatkan Bumi

Ilustrasi toko yang menjual pakaian bekas. (Foto: Harper's Bazaar Indonesia)
Ilustrasi toko yang menjual pakaian bekas. (Foto: Harper's Bazaar Indonesia)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com Bagi sebagian orang, gambaran tentang membeli barang bekas bisa mengerikan, memalukan, aneh, dan tidak terbayangkan. Meski begitu, thrift shopping belakangan ini menjadi populer dan dianggap sebagai alternatif berbelanja dengan keunggulan tersendiri, terutama dari segi lingkungan.

Arti dari thrift shopping yaitu berbelanja di toko yang menjual barang bekas yang masih layak pakai dan dapat dikenakan. Perbedaan besar antara toko barang bekas dan toko eceran adalah bahwa barang yang dijual di toko barang bekas bukanlah barang baru, tetapi bukan berarti barang tersebut tidak dalam kondisi baik.

Selain harga produknya yang lebih murah, thrift shopping membatasi konsumsi pakaian baru, mengurangi penggunaan kapas, wol, bulu, kulit, sutra, dan bahan alami/sintetik lainnya yang digunakan dalam produksi pakaian jadi. Ketika orang-orang menyumbangkan pakaian dan berbelanja barang bekas, mereka memainkan peran besar dalam menjaga pakaian agar tidak dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Infografik mengenai dampak negatif yang dihasilkan oleh industri fesyen. (ULTIMAGZ/Alycia Catelyn)
Infografik mengenai dampak negatif yang dihasilkan oleh industri fesyen. (ULTIMAGZ/Alycia Catelyn)

Industri fesyen menjadi salah satu penyumbang utama polusi air,  plastik, dan emisi gas rumah kaca. Mengutip theprettyplaneteer.com, limbah yang dihasilkan oleh industri fesyen rata-rata 31,75 kg pakaian per tahun. Secara global, industri ini menghasilkan 13 juta ton limbah tekstil setiap tahun yang 95% di antaranya dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

Oleh karena itu, thrift shopping tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mengurangi polusi. Jika satu item pakaian dijual dan dibeli bekas, berkurang satu item pakaian yang diproduksi.

Dilansir dari coloradocommunitymedia.com, Elena Karpova selaku profesor di University of North Carolina di Departemen Studi Konsumen, Pakaian, dan Ritel Greensboro, mengatakan bahwa berbelanja di toko barang bekas sudah mulai menjadi sebuah tren.

Konsumen mulai menyadari bahwa pakaian yang tidak diinginkan lagi akan berdampak lebih besar ketika disumbangkan dan dibawa ke toko barang bekas, daripada dibuang ke sampah. Melalui lensa perspektif lingkungan, tentu thrift shopping sangat ramah lingkungan karena ini sama halnya dengan mendaur ulang.

“Anda terus-menerus mendengar tentang perubahan iklim dan orang-orang menyadari, menurut saya, bahwa kita harus melakukan sesuatu. Meskipun hanya sedikit dari kita yang mampu membuat perubahan besar dalam regulasi, kita semua sebagai konsumen dan warga negara dapat melakukan beberapa perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari yang akan membantu kita menjadi lebih berkelanjutan,” jelas Karpova.

Seiring dunia berkembang ke pola pikir yang lebih sadar lingkungan, masa depan toko barang bekas tampak cerah. Untuk menghentikan pencemaran lingkungan, sudah waktunya thrift shopping dijadikan pertimbangan dalam berbelanja pakaian.

 

Penulis: Alycia Catelyn

Editor: Andi Annisa Ivana Putri

Foto: Harper’s Bazaar Indonesia

Sumber: theprettyplaneteer.com, coloradocommunitymedia.com, 2ndavestores.com, onegreenplanet.org