Tingkat Depresi Tinggi dan Minimnya Tenaga Kesehatan Jiwa di Indonesia

(sumber: freevector.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com— Tingkat depresi di Indonesia masih tinggi. Sayangnya, kondisi tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga kesehatan jiwa di Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan oleh Badan Litbangkes pada 2018, prevalensi pada penduduk berusia 15 tahun ke atas yang mengidap depresi sebesar 6 persen atau sekitar 14 juta orang.

Menurut Kepala Divisi Edukasi dan Training Asosiasi Psikiatri Indonesia DKI Jakarta Eva Suryani, berdasarkan data yang diperoleh dari Riskesdas Kementerian Kesehatan Indonesia hanya memiliki 773 psikiater atau dokter jiwa. Hal itu berarti satu orang psikiater menangani sebanyak 323 ribu penduduk di Indonesia. Padahal, World Health Organization (WHO) sudah menetapkan rasio jumlah psikolog atau psikiater dengan penduduk sebesar 1:30 ribu orang. Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia termasuk berada di posisi terendah setelah Laos dan Kamboja dalam rasio ketersediaan psikiater dengan perbandingan jumlah penduduk.

Sementara itu, dilansir dari data Riskesdas 2018, tingkat prevalensi depresi paling tinggi di Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Tengah dengan jumlah 12.3 persen dari total penduduknya. Namun, dibandingkan dengan data yang diperoleh dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) jumlah anggota aktif psikolog yang tergabung dalam HIMPSI di Sulawesi Tengah hanya 17 orang.

Anggota aktif psikolog yang tergabung dalam HIMPSI terbanyak masih berada di Jakarta, dengan jumlah psikolog aktif sebanyak 575 orang. Sedangkan, berdasar data yang diperoleh dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) jumlah anggota terbanyak berada di Provinsi DKI Jakarta, yakni 188 psikiater.  Hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan dalam distribusi tenaga kesehatan jiwa, yang mana daerah dengan tingkat depresi tertinggi justru minim tenaga psikolog atau psikiater.

Hal mengejutkan lainnya, berdasar data Riskesdas 2018  hanya sembilan persen dari pengidap depresi yang minum obat atau menjalani pengobatan medis, sedangkan 91 persen lainnya memilih untuk tidak berobat. Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental masih tergolong rendah. Oleh karena itu, pemerintah, tenaga kesehatan jiwa, serta masyarakat perlu bersinergi untuk menciptakan kesadaran akan pentingnya memperhatikan kesehatan mental.

Penulis: Agatha Lintang

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: freevector.com

Sumber: mediaindonesia.com, tirto.id, himpsi.or.id, pdskji.org