SERPONG, ULTIMAGZ.com —Bebas dan berani. Dua kata tersebut terdengar cocok untuk menggambarkan pandangan masyarakat Indonesia kala menghadapi pandemi COVID-19 yang kini kasus per harinya berhasil mengalami penurunan. Berdasarkan grafik resmi Covid19.go.id, kasus positif COVID-19 yang melompat dari angka 14.518 pada (30/01/21) menjadi 4.394 pada (02/05/21) menjadi sebuah kabar baik. Namun, meski vaksinasi sudah mulai dilakukan, apakah bijak bila terlalu ‘bebas dan berani’?
Pada Minggu (02/05/21), Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat menjadi sorotan publik akibat pengunjung yang membeludak dan abai dengan protokol kesehatan. Sekretaris DKI Jakarta Marullah Matali menyebut jumlah pengunjung pusat grosir terbesar di Jakarta tersebut hampir 200% dari kapasitas normal pada Sabtu (01/05/21). Dikabarkan bahwa setiap pengunjung tidak menjaga jarak, berdesak-desakan mulai dari pintu masuk sampai lorong-lorong kios pasar, dan akhirnya membentuk suatu kerumunan di pasar tersebut.

Salah seorang pedagang Pasar Tanah Abang turut mengaku tidak takut dengan potensi penularan COVID-19 di keramaian pasar. Ia juga terbiasa melihat pengunjung tidak menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dengan benar sebagaimana aturan wajib memakai masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan (3M) yang diterapkan pemerintah.
“Ya, ngapain takut juga, yakin saja saya mah. Sudah sering juga orang jalan di sini enggak pakai masker. Mereka pakai masker kalau ada petugas saja, biar engga didenda,” ucap pedagang Pasar Tanah Abang yang enggan memberi nama dilansir dari kompas.com.
Dilema Pulang ke Rumah atau Di Rumah Saja
Ketua Koperasi Pedagang Pasar Tanah Abang Yasril Umar menyebut jumlah pengunjung yang membeludak ini disebabkan oleh kebijakan larangan mudik di penghujung Lebaran oleh pemerintah. Masyarakat berbondong-bondong membeli kebutuhannya agar bisa cepat-cepat mudik terlebih dahulu sebelum larangan mudik yang berlaku dari 6-17 Mei 2021.
Persoalan mudik dan lebaran di kala pandemi memang perlu ditanggapi dengan serius dan ketat. Pasalnya walaupun sudah ada peraturan ketat, Menteri dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menjelaskan bahwa masih ada 11% warga yang nekat tetap mudik. Namun, ada pula keputusan yang memperbolehkan mudik dengan menyerahkan bukti tes kesehatan seperti Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru yang menganggap nilai-nilai peribadatan tidak boleh hilang meski pandemi.
Menanggapi situasi tersebut, masyarakat dan pemerintah perlu berkaca pada situasi pandemi yang terjadi di India. Sebelumnya, India sudah mengalami penurunan jumlah kasus positif COVID-19 yang baik. Mengacu pada Johns Hopkins University (JHU) Center for Systems Science and Engineering (CSSE), kasus COVID-19 India menurun dari 96.424 sebagai jumlah kasus tertinggi pada (17/09/20) hingga 9.309 kasus positif pada (11/02/21). Dengan begitu, India sempat menjadi negara dengan rasio fatalitas kasus terendah diantara 20 negara yang paling terdampak pandemi.

Pemerintah pun melonggarkan aturannya dan masyarakat jauh lebih santai menanggapi pandemi COVID-19. Kedua pihak menduga pandemi sudah terkendali. Pesta pernikahan besar-besaran diadakan masyarakat India, orang-orang berpergian dan berkumpul tanpa masker, serta ribuan orang yang mandi mengikuti Gangga Festival yakni ritual penghapusan dosa di Sungai Gangga. Alhasil, dalam waktu 15 hari India mengalami tingkat infeksi tertinggi yang pernah dicapai oleh India sampai menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbesar kedua di dunia, menggantikan posisi Brazil.
Setelah apa yang terjadi di India, pemerintah dan masyarakat dapat mengevaluasi diri tentang sikap seperti apa yang seharusnya dilakukan dalam menanggapi kabar baik penurunan kasus COVID-19 di Indonesia. Untuk kembali mempertanyakan apakah kita sudah benar-benar siap untuk bersikap bebas tanpa masker dan berani berdeketan? Apapun jawabannya tentu akan membentuk situasi pandemi seperti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Penulis: Vellanda, Jurnalistik UMN 2020
Editor: Andi Annisa Ivana Putri
Foto: Setnas-asean.id, ANTARA FOTO/ Pradana Pura, Bbc.com
Sumber: Covid19.go.id, Kompas.com, Cnbcindonesia.com