“Cewek!”
“Hai, sayang..”
“Assalamualaikum, cantik”
“Neng, nengok sini dong.”
“Senyum dong, kok cemberut aja.”
Perempuan, ngaku deh, kalian pasti pernah kan dipanggil seperti itu, atau mirip-mirip, atau disiul-siuli, saat kalian sedang jalan. Percayalah, tindakan semacam itu, yang sering disebut catcalling, sebenarnya sama sekali enggak bermaksud memujimu.
Sebaliknya, kamu sedang dilecehkan! Kejadian semacam ini kemudian menjadi salah satu alasan kenapa Women’s March Jakarta diadakan.
Women’s March sendiri sebenarnya berawal di Amerika Serikat sebagai bentuk protes kepada Presiden Donald Trump yang dianggap seksis serta melanggar hak-hak perempuan dan manusia pada umumnya. Nyatanya, banyak perempuan merasa hal ini penting untuk diperjuangkan, lebih dari sekadar apakah tindakan itu dilakukan oleh seorang presiden seperti Trump atau tidak.
Aksi serupa kemudian digelar di Indonesia pada 2017. Aksi ini memang tidak ditujukan kepada Trump, melainkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan hak-hak perempuan.
Lebih jauh, Women’s March Jakarta juga ditujukan untuk kesetaraan perlakuan dan hak terhadap minoritas yang kerap terpinggirkan di Indonesia, seperti difabel, LGBTQ, orang adat, dan etnis tertentu. Women’s March mengingatkan dan menuntut masyarakat serta pemerintah untuk sadar bahwa permasalahan seperti ini nyata di Indonesia.
Tahun ini, Women’s March Jakarta akan kembali diadakan pada 3 Maret 2018 mendatang. Bedanya, aksi tahun ini juga akan dilaksanakan di 12 kota lainnya, seperti Bandung, Denpasar, Kupang, Lampung, Malang, Pontianak, Salatiga, Serang, Sumba, Surabaya, Tondano, dan Yogyakarta.
Setelah tahun lalu diikuti hampir seribu partisipan, panitia Women’s March Jakarta Anindya Restuviani menargetkan peserta tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun lalu, alias sekitar dua ribu orang.
Lalu, kenapa kita wajib untuk ambil bagian dari aksi ini?
Ajak Peduli Terhadap Kekerasan Perempuan
Percaya atau enggak, Catatan Tahunan 2017 Komnas Perempuan menunjukkan ada 259.150 laporan kasus mengenai kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2016. Kasusnya bervariasi, dari ranah personal sampai ke publik.
Data ini menjadi bukti bahwa angka kekerasan bagi perempuan masih sangat tinggi, bahkan meningkat tiap tahunnya. Ini baru yang tercatat loh, masih banyak perempuan di luar sana yang enggan melapor, yang artinya angka sebenarnya masih lebih banyak.
Ini juga membuktikan bahwa hak perempuan untuk hidup aman dan nyaman juga belum bisa terpenuhi. Selain itu, kekerasan yang diterima perempuan cenderung tidak berhenti di satu kesempatan saja, malah berulang dan merambah ke bentuk kekerasan lainnya.
Nah, Women’s March hadir agar banyak perempuan menyadari bahwa banyak kekerasan mengintai, dan mengajak perempuan berani untuk mengungkap dan melawan. Ini juga menjadi kesempatan kalian sebagai anak muda untuk mengurangi dan menghentikan kekerasan terhadap perempuan, loh.
BANYAK Hak Perempuan Tidak Terpenuhi
Perut kram, pusing, pinggang tegang, punggung tak nyaman. Mau duduk salah, berdiri salah, tidur juga salah. Kondisi seperti ini sering dirasakan para perempuan saat datang bulan alias menstruasi. Masih untung kalau kamu merasakannya di akhir pekan, jadi tidak perlu bolos kerja. Nah, bagaimana kalau pada hari biasa? Apa mau bolos tiap bulan?
Enggak perlu bingung. Sebenarnya, perempuan punya hak untuk cuti saat haid. Aturan ini diatur dalam Undang-Undang nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 81 ayat 1.
Undang-undang (UU) tersebut menyatakan pekerja perempuan yang merasakan sakit pada masa haid bisa memberitahukan kepada atasan dan tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua haid.
Sayangnya, banyak dari kita, baik pekerja perempuan atau atasan, yang belum tahu tentang hal ini. Kalau tahu, mungkin kamu enggan menggunakannya karena merasa tidak enak hati dengan atasan, kan? Padahal, aturan serupa juga diterapkan di berbagai negara di dunia. Jadi, tidak perlu takut dan gunakan saja hakmu itu. Asal jangan disalahgunakan, ya!
Untuk Kepentingan Bersama, Loh!
Meski namanya Women’s March, aksi ini enggak hanya untuk perempuan. Tuntutan yang diajukan merupakan kepentingan bersama, seperti menuntut pemerintah dan lembaga terkait untuk menghapus stigma dan menghentikan diskriminasi berbasis gender. Tentunya, tuntutan ini relevan untuk semua orang dan sebaiknya dijadikan tanggung jawab bersama. Saat tanggung jawab ditanggung bersama, rasanya lebih ringan, kan?
Termasuk untuk laki-laki! Aksi ini sebenarnya juga bermaksud membela hak kalian, loh. Tidak perlu merasa takut atau malu untuk terlibat. Karena, laki-laki berkualitas tak takut ekualitas.

Selamatkan Banyak Nyawa
Hak adalah syarat hidup manusia. Enggak ada manusia yang bisa hidup tanpa hak dan hanya memiliki kewajiban semata. Ketika hak dirampas, memperjuangkannya adalah sebuah keharusan.
Mahatma Gandhi pernah berkata, “be the change you wish to see in the world”.
Karenanya, kita perlu memperjuangkan hak kita bersama. Apalagi buat generasi muda, nih! Anak muda sebagai generasi penerus bangsa itu bukan cuma sekadar kata-kata omong kosong, loh. Kalian sungguh punya kekuatan dalam genggaman kalian.
Pilihannya adalah, kalian mau atau tidak untuk ikut ambil bagian dalam menjadikan Indonesia lebih baik dan ramah untuk semua pihak. Sebagai calon pemimpin masa depan, sudah saatnya kalian ikut ambil bagian. Make yourself heard!
Untuk wilayah Jakarta, kamu bisa berkumpul di depan Hotel Sari Pan Pacific pada pukul 08.00 WIB. Jangan lupa juga untuk mengenakan pakaian sesuai dresscode ya, alias berwarna ungu dan hijau tosca. Kalau kalian datang sendiri atau tidak berafiliasi dengan komunitas mana pun, kalian bisa bertemu dengan tim Campaign.com, atau bisa kontak kami untuk janjian sebelumnya di contact@campaign.com.
Percayalah, satu suaramu berharga. See you!
Penulis: Rosa Cindy, Community Content Creator of Campaign.com
Editor: Christian Karnanda Yang
Foto: Campaign.com