• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Sunday, August 31, 2025
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Opini

Menanti Kiprah Mahasiswa di Masyarakat

Diana Valencia by Diana Valencia
February 18, 2018
in Opini
Reading Time: 4 mins read
Menanti Kiprah Mahasiswa di Masyarakat
0
SHARES
604
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Mahasiswa takut pada dosen,

Dosen takut pada dekan,

Dekan takut pada rektor,

Rektor takut pada menteri,

Menteri takut pada presiden,

Presiden takut pada mahasiswa. (Taufiq Ismail- Takut 66, Takut 98)

SERPONG, ULTIMAGZ.com- Menyandang status ‘maha’, mahasiswa memiliki banyak kelebihan dibandingkan siswa biasa, yakni di-maha-kan atau dihormati di masyarakat. Sebagai sosok yang terhormat di masyarakat, sudah seharusnya mahasiswa mampu berpikir dewasa, independen, dan mandiri. Dengan ilmu dan karakter yang mumpuni, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi di masyarakat, yakni dengan memperbaiki yang salah dan tak gentar untuk melawan kezaliman.

Mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR-MPR sebagai puncak protes rakyat atas pemerintahan Soeharto (18/5/1998).

Pada tahun ini, tepat dua dekade sudah semenjak reformasi dijalankan. Masa-masa reformasi adalah saat dimana para mahasiswa berhasil menggaungkan dan menjembatani suara rakyat. Suara mahasiswa terbukti mampu dijadikan kontrol sosial, bahkan pemerintahan “berdinding besi” pun mampu diruntuhkan. Namun, itu dulu.

Sekarang, perlahan tapi pasti, suara-suara lantang mulai samar. Suara perlawanan yang bergema kala kebijakan tidak pro rakyat muncul hanya ramai digaungkan di sosial media. Zaman berubah, media yang digunakan juga berubah, itu wajar. Namun sangat disayangkan, pengaruh suara mahasiswa di masyarakat juga ikut mengalami perubahan.

Namun, seperti tak ingin dilupakan, reformasi dan kekuatan mahasiswa meminta diingat kembali dengan cara yang tak terduga.

Aksi #KartuKuningJokowi

Identik dengan hari kasih sayang, Februari merupakan bulan penuh cinta yang seringkali dirasa tepat untuk menyatakan rasa sayang pada orang-orang terkasih. Begitu juga yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) pada Presiden RI Joko Widodo. Namun bukan dengan seikat mawar atau sebatang coklat yang manis, melainkan lewat sebuah kartu kuning. Suatu cara yang tak terduga.

Aksi #KartuKuningJokowi oleh Ketua BEM UI M. Zaadit Taqwa, memberikan sentilan manis bagi pemerintah Indonesia. Zaadit melakukan aksi simbolik berupa peniupan peluit dan pengacungan buku paduan suara berwarna kuning ke arah Jokowi pada acara Dies Natalis ke-68 UI, Balairung UI, Depok (2/2/2018).

Aksi Zaadit ini merupakan ungkapan protes BEM UI kepada pemerintahan Jokowi yang masih mempunyai banyak pekerjaan rumah. Ada tiga tuntutan yang disoroti BEM UI sebagai pihak yang merencanakan aksi ini, yakni penyelesaian masalah gizi buruk dan campak di Asmat, penghentian dwifungsi ABRI, dan penolakan atas peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Permenristekdikti) tentang organisasi mahasiswa (ormawa).

Dilansir dari Kompas.com, per 31 Januari 2018 terdapat 71 korban meninggal dunia akibat gizi buruk dan campak di Asmat, Papua. Status daerah ini pun ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai kejadian luar biasa (KLB). Urgensi menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia sudah menjadi cita-cita bangsa seperti dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945, tak terkecuali bagi Papua.

Isu kedua tentang penolakan usul Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, yang menunjuk dua jenderal Polri menjadi pelaksana tugas (PLT) Provinsi Jawa Barat dan Sumatera Utara. Penolakan dwifungsi ABRI dalam pemerintahan merupakan salah satu dari sekian banyak agenda reformasi 1998. Polri seharusnya tidak ikut campur alias netral dalam urusan politik sebagaimana tertuang dalam pasal 28 ayat (2) UU No.2 Tahun 2002 tentang Polri.

Isu ketiga yakni Permenristekdikti tentang ormawa yang secara keseluruhan akan menyeragamkan aturan ormawa seluruh Indonesia dengan pembatasan periodisasi dan mengharuskan izin kegiatan melalui rektorat. Sungguh sebuah aturan yang akan membatasi ruang gerak mahasiswa sebagai organisasi. Penyeragaman bukan hal yang tepat untuk diterapkan dalam organisasi mahasiswa, sebab ada banyak keperluan yang berbeda dan spesifik bagi masing-masing universitas.

Sedikit dari banyaknya pro-kontra masyarakat tentang aksi #KartuKuningJokowi yang dilakukan Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa di media sosial Twitter

Terlepas dari pro-kontra aksi ini di masyarakat, tindakan Zaadit seakan membawa semangat mahasiswa untuk hidup bukan hanya sebagai pelajar, tetapi juga sebagai agen kontrol sosial di masyarakat. Melalui aksi ini, mahasiswa seakan diingatkan bahwa mereka dapat bersuara dan tak boleh terlena akan pemberitaan-pemberitaan positif yang berhubungan dengan pemerintah.

Mengutip pernyataan dari Presma UGM, Obed Kresna dalam Mata Najwa episode Kartu Kuning Jokowi (7/2/2018) aksi ini seharusnya bukan sebagai tindakan anti pemerintah. Mahasiswa hanya ingin jadi jembatan bagi pemerintah dan masyarakat, dan itu memang sudah menjadi tugas seorang mahasiswa.

Rangkuman kutipan penting mahasiswa kala dikumpulkan dalam satu meja dalam acara Mata Najwa episode Kartu Kuning Jokowi (7/2/2018).

Tanggapan BEM UMN terhadap Aksi BEM UI

Secara khusus, penulis menanyakan tanggapan BEM UMN terhadap aksi BEM UI sebagai sesama organisasi mahasiswa kampus, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa. Pihak BEM UMN pun menjawab dengan surat resmi seperti yang tertera di bawah ini.

Dalam surat ini, sikap BEM UMN terhadap aksi BEM UI adalah netral alias abu-abu, antara menolak ataupun mendukung. Ketidakjelasan sikap ini pun diuraikan Ketua BEM UMN Julian Rizki, sebagai bentuk keinginan BEM UMN untuk tidak bersikap “sok tahu” atas isu-isu yang dibahas dalam aksi #KartuKuningJokowi ini.

“BEM UMN enggak bisa mengatakan mendukung atau menolak karena kita (BEM UMN) berada di halaman berbeda (dengan BEM UI atau BEM universitas lainnya). So, nggak bisa mendukung atau menolak secara penuh aksi yang dilakukan ini. Butuh kajian lebih lanjut untuk bisa sepenuhnya setuju atau menolak aksi tentang 3 isu yang dibahas. Nah, kita enggak punya tuh, kajian-kajian untuk meneliti isu ini, apakah memang substansial atau hanya membuka peta politik baru, maka kami memilih untuk tidak mendukung atau menolak,” ujar mahasiswa Public Relations angkatan 2015 ini.

Namun secara pribadi, Julian mengakui aksi yang dilakukan Zaadit dan BEM UI sungguh kreatif.

“Aksi ini menunjukkan kembali bahwa mahasiswa masih ada,” ujar pria yang gemar menulis sajak dalam blog pribadinya ini.

Terlihat dengan jelas dalam surat di atas, fungsi BEM UMN hanya terkait dengan kegiatan pemberdayaan internal mahasiswa UMN. Julian mengakui bahwa faktor sumber daya yang dimiliki dan usia yang masih terbilang muda membuat BEM UMN belum mampu menjalankan dwifungsi mahasiswa sebagaimana dicita-citakan dalam long march (mahasiswa) angkatan ’66. BEM UMN pun tidak berafiliasi dengan BEM SI ataupun perkumpulan BEM lainnya.

“Politik mungkin nanti dulu, kita fokus untuk pembenahan internal kampus dulu. Kita emang gak bergabung tapi kita tetep menjalin kerja sama seperti studi banding dan sebagainya. Karena kalaupun bergabung, BEM UMN gak akan memberikan kontribusi maksimal seperti BEM lainnya karena memang sumber daya kami kurang mampu menangani masalah politik seperti itu,” tambah Julian.

Namun perlu diingat sebagai siswa yang di-maha-kan, mahasiswa tidak hanya berkewajiban untuk menjadi seorang intelek di bangku kuliah, tapi juga sebagai penerus dan pemerhati kehidupan bangsa. Organisasi mahasiswa merupakan salah satu dari banyaknya wadah kaum muda untuk menyatakan sikap dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kiprah mahasiswa akan selalu dinanti. Suara mahasiswa sebagai insan merdeka yang tidak ditunggangi kepentingan siapapun kecuali kepentingan rakyat akan ditunggu untuk bergema kembali.

“Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk menjadi manusia merdeka” – Soe Hok Gie, Aktivis Mahasiswa Angkatan ’66.

Penulis: Diana Valencia, Mahasiswi Jurnalistik UMN angkatan 2015

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Merdeka.co, Tribunnews.com, Twitter (@DAVEMANUEL7, @ricojco),

Tags: BEM UIBEM UMNjoko widodoKartuKuningJokowimahasiswaultimagzUniversitas IndonesiaUniversitas Multimedia Nusantara
Diana Valencia

Diana Valencia

Mahasiswi Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara yang merupakan penikmat sastra dan film-film psychollogical thriller.

Related Posts

digicam
Opini

Digicam Kembali ke Pasar: Dari Kesenangan Jadi Berlebihan?

July 16, 2025
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Rapat Paripurna pada Kamis (20/03/25). (detik.com)
Opini

Pengesahan RUU TNI: Satu Langkah Menuju Bangkitnya Orde Baru?

March 24, 2025
Ilustrasi #KaburAjaDulu
Opini

#KaburAjaDulu: Kurang Cinta Tanah Air atau Perasaan Terkhianati

March 15, 2025
Next Post
Kembali Digelar, Antusiasme Penonton Musikal Petualangan Sherina Tetap Tinggi

Kembali Digelar, Antusiasme Penonton Musikal Petualangan Sherina Tetap Tinggi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × four =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021