SERPONG, ULTIMAGZ.com– Sayonara Eri, atau Goodbye Eri dalam bahasa Inggris, merupakan komik karya Tatsuji Fujimoto. Dirilis pada 2022, karya ini berhasil meraih nominasi Harvey Awards 2023 dengan kategori Best Manga dan Eisner Awards 2024 dengan kategori Best U.S. Edition of International Material–Asia, dilansir dari gramedia.com.
Kisahnya berpusat pada Yuta, seorang remaja yang merekam hari-hari terakhir ibunya atas permintaan sang ibu sendiri. Rekaman tersebut kemudian ia rangkai menjadi sebuah film yang merekam momen-momen keseharian mereka berdua.
Baca juga: No Longer Human: Catatan Hidup Seorang Penipu
Setelah ibunya meninggal, Yuta mengubah rekaman tersebut menjadi film dokumenter yang diberi judul Dead Explosion Mother. Film itu diputar di sekolahnya, tapi ditanggapi dengan kebingungan dan kritik tajam dari teman kelasnya.
Tekanan itu membuat Yuta terpuruk hingga berniat mengakhiri hidupnya. Di titik terendah itulah ia bertemu Eri, seorang gadis misterius yang justru mengaku menyukai film buatannya. Eri kemudian mengajak Yuta untuk membuat film baru bersama. Seiring waktu, keduanya menghabiskan hari-hari dengan menonton film, berdiskusi, dan mulai merekam proyek baru mereka.
Namun, kepribadian Eri perlahan menunjukkan sisi-sisi aneh. Rahasia besar yang ia simpan mulai terungkap dan mengguncang cara pandang Yuta terhadap kenyataan. Film yang mereka ciptakan pun berubah menjadi medium untuk menyalurkan trauma, harapan, dan keinginan terdalam mereka.
Baca juga: “Look Back”: Relasi Rumit antara Seniman dan Karya Mereka
Goodbye, Eri menyampaikan pesan tentang arti penting kenangan dalam kehidupan manusia. Kehilangan memang tak terelakkan, tetapi ingatan dapat terus hidup melalui berbagai medium. Karya ini juga menegaskan bahwa duka adalah bagian alami dari hidup dan setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menghadapinya tanpa batasan benar atau salah. Cerita one-shot ini ditampilkan oleh Fujimoto dengan unik dan sinematik. Dengan panel empat lanskap yang konsisten, pembaca seolah-olah menonton sebuah film dokumenter.
Komik ini cocok untuk pembaca yang menyukai cerita introspektif dan eksperimental. Meski nuansanya gelap dan misterius, Goodbye, Eri menghadirkan refleksi mendalam tentang duka dan kehilangan yang tak dapat dihindari hidup. Tatsuji Fujimoto juga menulis karya-karya lainnya seperti Look Back dan Chainsaw Man, yang juga menunjukkan visual dinamis dan narasi unconventional khasnya. Jadi, apakah Ultimates siap menonton film Yuta dan Eri?
Penulis: Belva Putri Paramitha
Editor: Celine Valleri
Foto: animehunch.com
Sumber: gramedia.com




