• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Monday, September 1, 2025
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan Film

Kisah Nasi Padang dan Anak Rantau dalam “Tabula Rasa”

Nadia Indrawinata by Nadia Indrawinata
April 4, 2020
in Film, Hiburan, Review
Reading Time: 2 mins read
Kisah Nasi Padang dan Anak Rantau dalam “Tabula Rasa”

Poster film "Tabula Rasa" (Foto: behance.net)

0
SHARES
761
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
 

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Nasi padang, bukan lagi sesuatu yang asing di telinga dan lidah beberapa masyarakat Indonesia. Apalagi saat lokasi rumah makannya mudah ditemui pula. Dalam “Tabula Rasa”, peran tokoh-tokohnya saling melengkapi dan menyatu bagaikan berbagai lauk dalam satu bungkus nasi padang.

Film ini mengisahkan seorang pemuda asal Papua bernama Hans (Jimmy Kobogau) yang merantau ke Jakarta untuk meraih mimpinya menjadi pemain bola. Namun, banyak kejadian yang tidak sesuai rencana sehingga ia tidak bisa mencapai cita-citanya. Dalam momen terendah hidupnya, seorang wanita yang kerap dipanggil Mak Uwo (Dewi Irawan) pun menyodorkan tangan untuk menolong.

Saat berada rumah makan padang milik Mak, Hans bertemu dengan pekerja lainnya yang bernama Natsir (Ozzol Ramdan) dan Parmanto (Yayu Unruas). Pertemuan inilah yang membangkitkan mimpi serta semangat hidup Hans. Dengan berada di sana, Hans terinspirasi untuk menjadi seorang koki.

Makanan merupakan kunci utama dalam film yang rilis pada 2014 silam. Berawal dari tokoh utama yang hanya menganggapnya sebagai kebutuhan, tetapi lambat laun makanan menjadi sesuatu yang simbolik. Sepiring rendang dengan pantun, gulai kepala ikan yang mengingatkan akan keluarga hingga semangkok papeda kuah kuning yang memiliki rasa kampung halaman.

Film garapan Adriyanto Dewo ini sayangnya memiliki kekurangan yang terletak pada kelebihannya. Penggunaan bahasa daerah yang mendominasi film dapat menonjolkan sisi budaya yang khas. Sesuatu yang akan kurang terasa apabila hanya menggunakan bahasa Indonesia. Namun bagai pisau bermata dua, penggunaan bahasa daerah bisa menyulitkan penonton yang tidak mengerti apabila tanpa cantuman teks terjemahan langsung.

Kisah “Tabula Rasa” yang pernah memenangkan berbagai penghargaan nasional ini bisa menjadi sesuatu yang dekat bagi mereka yang sekarang sedang merantau. Hans yang mengejar mimpinya sampai ke Pulau Jawa juga tetap memiliki rasa rindu akan tempat asalnya. Oleh karena itu, ia terkadang menunjukkan lonjakan perasaan dengan perwakilan adegan yang berganti dari Jakarta menuju kilas balik akan kampung halamannya, Serui.

Secara tidak sadar, penonton bisa merasakan kedekatan dengan para tokoh selama film berjalan. Bagi beberapa orang yang sudah lama tidak pulang, mengingatkan dirinya akan rumah. Cara kisah berdurasi 107 menit ini berakhir dengan memiliki banyak arti. Semua tergantung pada interpretasi tiap-tiap penonton akan nasib Hans.

 

Penulis: Nadia Indrawinata

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: behance.net

Tags: 2020Dewi IrawanfilmFilm IndonesiaJimmy KobogauNasi padangnetflixOzzol Ramdanpapuareviewtabula rasaYayu Unruas
Nadia Indrawinata

Nadia Indrawinata

Related Posts

Jacob Collier dalam acara BNI Java Jazz Festival 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Jumat (30/05/25). (ULTIMAGZ/Putri C. Valentina)
Hiburan

Jacob Collier Tampil Memukau di Java Jazz Festival 2025 Setelah 9 Tahun

July 16, 2025
Nyoman Paul tampil perdana di BNI Java Jazz Festival 2025 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (30/05/25). (ULTIMAGZ/Putri C. Valentina)
Event

Nyoman Paul Debut di Java Jazz Festival 2025 dengan Album LUAP

July 16, 2025
Ilustrasi seorang wanita menonton film di waktu rehatnya. (freepik.com)
Film

Pelukan Dalam Bentuk Film: Teman Menonton Saat Dunia Terasa Berat

July 16, 2025
Next Post
Hidup Berkesadaran, Kunci Tetap Waras di Tengah Pandemi

Hidup Berkesadaran, Kunci Tetap Waras di Tengah Pandemi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 3 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021