Hidup Berkesadaran, Kunci Tetap Waras di Tengah Pandemi

Co-founder komunitas Senantiasa Berada Ivandeva Wing. (Foto: LinkedIn)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pandemi COVID-19 tentu membuat banyak orang cemas. Penyebabnya beragam, mulai dari berita-berita negatif yang memenuhi media dan linimasa media sosial, hingga kondisi ekonomi yang memburuk. Namun, ada cara-cara yang bisa kita lakukan agar pikiran dan tindakan kita tetap waras dalam menghadapi pandemi, salah satunya adalah dengan hidup berkesadaran.

Hidup secara sadar menjadi penting karena pada situasi serba tak pasti seperti saat ini, seringkali kita merasa tidak punya kontrol atas keadaan. Rasa tidak berdaya tersebut kemudian memicu emosi-emosi negatif dan tindakan impulsif, seperti menimbun kebutuhan pokok dan cemas berlebih. Padahal, kemampuan berpikir jernih sangat diperlukan dalam kondisi krisis.

“Apapun kondisi itu, apapun yang dihadirkan kepada kita, bukan kita yang pilih, yang kita pilih adalah responsnya. Agar respons itu terbaik, maka respons itu perlu dilakukan dengan jernih,” ucap co-founder komunitas Senantiasa Berada Ivandeva Wing, dalam seminar daring The Art of Being Mindful, Kamis (02/04/20).

Lalu, bagaimana cara melatih kesadaran? Cara yang paling mudah adalah dengan berdiam diri. Co-founder Senantiasa Berada Siska Marshudy berpendapat, dengan berlatih diam akan lebih mudah kita untuk mengamati kondisi, menenangkan diri, dan berpikir jernih.

Sebuah anologi sederhana disampaikan oleh Siska. Batin dan pikiran manusia tak ubahnya wadah air, di mana pasir dan berbagai macam benda bercampur. Bila ingin melihat dengan jernih, wadah tersebut perlu didiamkan sejenak agar semua yang mengambang di dalamnya dapat mengendap ke bawah.

“Kita sekarang sangat exposed dengan berita, media sosial cepat sekali. Berita [yang] sudah diverifikasi atau belum diverifikasi, semua masuk. Itu kalau menggunakan analogi wadah air, seperti memasukkan banyak sekali sparkles dan kotoran ke wadah air,” ujarnya.

Sejak COVID-19 merebak di Wuhan awal tahun ini, kita seolah dibombardir dengan berita negatif. Angka kematian yang terus meningkat, persediaan alat pelindung diri (APD) yang semakin menipis, dan ekonomi yang terjun payung. Tentunya, hal-hal tersebut dapat memicu emosi negatif dalam diri. Bila keadaan mental sedang tidak optimal, Siska menyarankan untuk menutup sumber pemicu emosi untuk rehat dan diam sejenak.

“Ketika kita diam, dia akan turun, sehingga kita bisa melihat gelas berisi air yang jernih. Kotorannya sudah turun ke bawah. Saat itu, ketika kita mau merespons, harapannya respons kita lebih jernih,” pungkas Ivan.

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: linkedin.com