JAKARTA,ULTIMAGZ.com – Pementasan ke-27 Indonesia Kita yang bertajuk Preman Parlente pada hari Sabtu (3/3/18) di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat, menyampaikan banyak pesan kepada para penontonnya. Lewat Preman Parlente, Indonesia Kita mengajak penonton untuk menjadi masyarakat Indonesia yang jujur dengan profesi masing-masing sekaligus belajar potensi dan keindahan dari setiap daerah di Indonesia.
Saat ditemui seusai pementasan, Djaduk Ferianto menuturkan bagaimana cara Indonesia Kita menyampaikan pesan-pesan yang ingin diutarakan kepada penonton lewat teater yang mereka tampilkan.

“Tema-tema yang kita angkat pasti menyangkut aktualitas yang ada di Indonesia,” tutur Djaduk.
Dalam pementasan ke-27 ini, mereka juga ingin menekankan persoalan kejujuran yang saat ini sedang mengalami krisis di bumi Indonesia.
“Ketika kita bicara Preman Parlente, intinya tentang kejujuran, itulah bahasa kami.”
“Bukan sekedar menyidir, tapi kami memang tidak pretensi menyindir, kami inginkan menjadi orang Indonesia seutuhnya yang harus jujur, tidak berbohong” jelas Djaduk tentang judul Preman Parlente yang terkesan menyindir.
Ketika ditemui di backstage, Cak Lontong yang berperan sebagai Ucok Lontong memberi tanggapannya tentang tokoh yang ia perankan.

“Ucok Lontong, Preman Parlente! Preman yang jujur, siapa pun kita, apapun profesi kita harus jujur, mau pekerjaan kita dokter, insinyur, akuntan, politisi apa preman, yang penting kita jujur.”
“Kalau kita jujur maka rakyat akan makmur,” tambah Cak Lontong.
Selain tentang kejujuran, Preman Parlente juga mengajak orang-orang Indonesia untuk mau belajar tentang bangsanya sendiri.
“Ini salah satu projek kita (Indonesia Kita) bagaimana kita belajar tentang Indonesia,” ungkap Djaduk
Djaduk juga mengungkapkan alasan mengapa pementasan selalu menggunakan kebudayaan-kebudayaan Indonesia.
“Nah kenapa kami memilih Batak? Karena daerah-daerah yang di Indonesia memiliki potensi-potensi, itulah yang ingin kita sampaikan kepada penonton untuk belajar kembali tentang Indonesia” tutup Djaduk.
Penulis : Theresia Amadea
Editor : Gilang Fajar Septian
Foto : Rafaela Chandra